Mengungkap Peringatan Noel pada Menkeu Purbaya

Hukrim, Politik257 Views

Foto Ai hanya ilustrasi

Jakarta, PBSN – Saya suka gaya si asem Noel. Clue huruf “K” membuat netizen penasaran nasional. Minum Koptagul sering mucrat dibuatnya. Nah, ada satu lagi dari mulut lemes Noel, tiba-tiba ngingatkan Purbawa akan di-noel-kan juga. Mari kita ungkap, karena kisah ini bukan cuma soal hukum, tapi festival bau. Bau panggung, bau politik, bau moral, sampai bau keringat netizen yang kepanasan lihat layar.

Pengadilan biasanya beraroma serius. Di sana ada bau kertas dakwaan, kopi pahit aparat, dan keringat terdakwa yang masa depannya sedang diuji. Tapi begitu Noel melangkah masuk, baunya berubah. Ini bukan bau takut. Ini bau percaya diri, seperti orang datang ke kondangan padahal dompet kosong tapi gaya tetap sultan. Wajahnya tenang, mulutnya lincah, dan kata-katanya beterbangan seperti lalat di pasar ikan. Ramai, tak bisa diabaikan, dan bikin orang refleks menutup hidung.

Netizen pun gelisah. “Ini orang diadili atau lagi syuting konten?” Duduknya santai, jawabannya ceplas-ceplos, sesekali menyenggol KPK, sesekali melempar humor maut. Tak ada raut penyesalan. Tak ada aroma dosa. Yang tercium justru bau panggunz bau orang yang sadar, kamera menyala, dan publik sedang lapar drama.

Lalu cerita ini naik level. Noel, sang terdakwa, tiba-tiba berubah jadi alarm kebakaran. Ia memperingatkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Katanya hati-hati. Katanya ada info A1. Katanya bisa “di-Noel-kan”. Seketika udara publik berubah. Bau gosong. Bau jigong, Bau ketek. Bau kabel terbakar. Bau kecurigaan. Bau apa lagi ya..ups.

Logika warung kopi langsung bekerja lembur. “Lho, kok dia tahu?” Orang yang belum pernah masuk dapur, mana paham bau minyak jelantah. Orang yang tak pernah nyemplung got, mana tahu aroma lumpur bercampur solar. Maka muncul dugaan hiperbolis tapi menggoda. Jangan-jangan Noel mencium bau yang sama, karena dulu ia pernah hidup di ruangan ber-AC bau busuk yang sama.

Di sinilah metafora makin liar. Noel seperti mantan perokok yang memperingatkan orang lain soal kanker paru-paru, tapi sambil ketawa dan sesekali nyalain korek. Publik bingung. Ini nasihat tulus atau monolog pembenaran? Apakah ia sedang berkata, “Hati-hati, sistem ini bau,” atau sebenarnya berbisik, “Kalau saya kepleset, bukan saya sendiri yang licin.”

Purbaya merespons dengan cara paling membosankan tapi paling menyakitkan bagi drama. Tidak marah. Tidak berkeringat. Tidak berbau apa-apa. Ia hanya berkata, kira-kira, “Biar saja. Yang penting saya tidak terima duit.” Kalimat itu seperti semprotan pengharum ruangan di tengah tong sampah politik. Tidak heboh, tapi langsung mengubah suasana.

Di hukum, bukan dihukum, bau paling menyengat itu uang. Bukan gaya bicara. Bukan kesan sok tahu. Bukan info A1 yang tak pernah bisa difoto. Selama tidak ada bau uang, tak ada aliran, tak ada amplop, tak ada transfer, maka semua dugaan hanyalah parfum murah yang cepat menguap.

Netizen tetap ribut. Ada yang bilang Noel whistleblower gagal. Ada yang bilang ia aktor panggung dengan naskah improvisasi. Ada yang mencium bau keberanian, ada yang muntah mencium bau narsisme. Semua sah. Tapi hukum tidak bekerja dengan hidung netizen. Hukum bekerja dengan berkas, rekening, dan saksi yang tidak alergi disumpah.

Maka secara logika, wajar jika orang berkata Noel seperti tahu permainan. Tapi mengetahui bau got gorong-gorong tidak otomatis berarti semua orang yang lewat got pasti tercebur. Di negeri yang sering salah mengira aroma gosip sebagai bau bukti, kita perlu satu disiplin penting, jangan menghukum dengan hidung, sebelum palu bicara.

Karena kalau tidak, pengadilan akan berubah jadi pasar ikan. Ramai, amis, penuh teriakan, tapi kebenaran tenggelam di dasar, tak sempat diendus siapapun.

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *