Teheran, PBSN – Sejak 28 Februari 2026, rudal Iran beterbangan seperti hujan meteor murka. Sementara jet Israel-AS menggelegar bak akhir zaman versi Hollywood. Tapi tunggu dulu, di balik ledakan yang mengguncang Timur Tengah, ada pertempuran yang jauh lebih epik dan absurd, perang doa! Gimana ceritanya, simak narasinya.
Entah seperti apa sikap Tuhan Yang Maha Esa? Semua pihak yakin doa mereka yang paling ampuh. Siapa yang menang? Yang doanya paling keras, paling dramatis, atau paling sarkastik?
Paus Leo XIV, Paus pertama asal Amerika yang terpilih 2025, langsung jadi bintang anti-perang. Di khotbah Palm Sunday 29 Maret 2026 di Lapangan Santo Petrus, beliau menggelegar, “Yesus, Raja Damai, menolak doa orang yang tangannya penuh darah! Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan!” Ia sebut perang ini “atrocious” alias super kejam, skandal kemanusiaan, dan minta umat Katolik berdoa bukan buat kemenangan, tapi buat gencatan senjata sebelum Paskah.
Sementara Trump dan Netanyahu lagi sibuk main rudal, Paus malah bilang Tuhan lagi tutup telinga buat doa perang. Bravo, Paus!
Di kubu seberang, Donald Trump lagi enjoy sesi doa spesial di Oval Office. Puluhan pendeta evangelikal, dari Paula White-Cain sampai Franklin Graham, mengelilingi meja Resolute, tangan di pundak Trump, mata terpejam, berdoa “kekuatan ilahi”, “perlindungan mukjizat”, dan “kemenangan seperti Ratu Ester”. Mereka bingkai perang ini sebagai pertarungan akhir zaman, good versus evil, Armageddon edition. “Trump adalah alat Tuhan untuk saat ini!” kata mereka sambil merujuk Purim dan “operasi murka Tuhan”. Lucu kan? Trump yang dulu suka bilang “Make America Great Again” sekarang lagi didoakan supaya rudalnya akurat ngehancurin Iran. Epik banget, seperti film action di mana hero dapat blessing dari pendeta sebelum battle boss.
Lalu ada Benjamin Netanyahu, sang singa Yerusalem yang lagi memimpin Operation Roaring Lion. Para rabi Yahudi, termasuk Chief Rabbinate, serukan umat baca Tehillim (Mazmur) ekstra dan doa khusus. Netanyahu sendiri sering ke Western Wall, berdoa bersama Rabbi Shmuel Rabinowitz, memohon “mukjizat” dan perlindungan IDF. Mereka paralelkan Iran dengan Persia kuno di kisah Purim, atau Amalek yang harus dihapuskan. “Bangsa Israel bangkit seperti singa!” kata Netanyahu. Seolah Tuhan lagi main game strategi, dan Netanyahu dapat cheat code dari kitab suci. Sementara itu, minoritas rabi yang pro-perdamaian cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bisik, “Ini perang penebusan atau ego politik?”
Di pihak Iran, umat Muslim dunia, termasuk jutaan di Indonesia, nggak kalah hebat. Khotbah Jumat, postingan medsos, dan Qunut Nazilah bergema, “Doa umat Muslim jadi perisai bagi Iran! Aamiin ya Rabbal Alamin.” Frasa “Barang siapa tidak peduli urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari kami” viral. Di masjid-masjid, mereka doakan keselamatan rakyat Iran, kekuatan pasukan, dan kehancuran “penjajah Zionis”. Ini jihad doa level dewa, massal, tulus, dan penuh semangat solidaritas. Sementara rudal beterbangan, doa-doa ini kayak lagi kirim paket spiritual via WiFi langit.
Akhirnya, semua agama Abrahamik ini lagi angkat tangan ke langit, tapi harapannya beda banget. Paus bilang Tuhan tolak doa berdarah, evangelikal minta kemenangan suci, rabi doain singa Israel menang, Muslim kirim perisai buat Iran. Ironisnya, Tuhan mungkin lagi duduk di singgasana sambil geleng-geleng, “Anak-anak-Ku, kalian lagi main apa sih?”
Wahai pengikut Partai Koptagul, setelah baca ini, coba angkat tanganmu juga. Berdoalah, bukan buat satu pihak menang, tapi supaya bom berhenti, darah tak lagi tumpah, dan dialog menggantikan rudal. Karena kalau perang doa ini terus, yang menang cuma pabrik senjata. Ente? Sudah berdoa belum hari ini? Semoga Tuhan dengar doa yang damai, bukan yang penuh sarkasme perang. Amin… atau whatever sesuai keyakinanmu.
Ketua Satupena Kalbar






