Budapest, PBSN – Tulisan ini hanya sekadar hiburan semata. Bukan membuka konfrontasi dengan pendukung Arsenal. Bukan juga ngajak Pesta Ba..ups, Pesta Kambing Guling, tidak wak. Bagaimana pun kitong basaudara, pace.
Cup… cup… sudah ya, Gooners. Jangan terlalu lama menatap langit. Bintang-bintang tidak bersalah. Yang salah mungkin hanya ekspektasi.
Begitu PSG mengangkat trofi Liga Champions, internet langsung berubah menjadi ruang sidang darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa versi sepak bola.
Saya sampai curiga UEFA akan mengadakan konferensi pers khusus untuk menjelaskan kenapa Arsenal kalah. Karena reaksi sebagian pendukung Arsenal semalam benar-benar spektakuler.
Ada yang menyalahkan wasit. Ada yang menyalahkan VAR. Ada yang menyalahkan cuaca. Ada yang menyalahkan arah angin. Ada yang tampaknya siap menyalahkan rotasi bumi.
Kelompok pertama adalah kaum konspirasi tingkat elite. Menurut mereka, kekalahan Arsenal bukanlah pertandingan sepak bola. Ini operasi intelijen internasional. Mereka menganalisis pertandingan seperti analis geopolitik yang sedang membahas konflik global.
Penalti PSG dianggap bukan penalti. Melainkan bagian dari agenda besar yang sudah disusun sejak zaman dinosaurus masih bermain di akademi Arsenal. VAR dianggap bukan Video Assistant Referee. VAR adalah organisasi rahasia yang bekerja lebih senyap dari badan intelijen mana pun.
Begitu keputusan menguntungkan PSG keluar, investigasi langsung dimulai. Ada yang memperbesar tayangan sampai 800 persen. Ada yang menggambar garis. Ada yang membuat lingkaran merah. Ada yang terlihat seperti sedang membuktikan keberadaan makhluk luar angkasa.
Saya menunggu seseorang muncul membawa papan tulis dan berkata, “Lihat baik-baik. Semua ini terhubung.”
Kelompok kedua adalah kaum politikus dadakan. Mereka menjelaskan kekalahan Arsenal dengan tingkat keyakinan yang membuat juru bicara partai iri. Menurut mereka, pertandingan semalam bukan Arsenal versus PSG. Melainkan rakyat versus oligarki. Harapan versus kapital. Romantisme versus rekening bank. Padahal kalau bola masuk gawang ya tetap gol. Bola tidak pernah bertanya ideologi sebelum melewati garis.
Yang paling lucu adalah kelompok yang mulai membahas geopolitik. Mereka berkata kekalahan Arsenal terlalu rumit untuk dijelaskan dengan sepak bola biasa. Pasti ada operasi besar. Pasti ada persekongkolan. Pasti ada aktor-aktor tak terlihat.
Cara mereka menjelaskan pertandingan membuat saya merasa sedang menonton dokumenter konspirasi internasional. Tinggal kurang narator bersuara berat yang berkata, “Dokumen ini disegel selama 75 tahun…”
Kelompok ketiga lebih menyedihkan. Kaum penyair. Status mereka membuat hujan terlihat ceria. “Arsenal memang ditakdirkan menjadi puisi.” “Trofi hanyalah fatamorgana.” “Final hanyalah cara semesta menguji kesabaran.” Saudara-saudara, ini sepak bola atau seminar filsafat?
Lalu muncullah teori favorit rakyat jelata. Kalah dukun. Selesai. Tidak perlu statistik. Tidak perlu analisis. Tidak perlu debat tiga jam. Kalau adu penalti kalah, berarti lawan membawa paket spiritual premium. Titik.
Yang paling tragis tentu admin fanbase Arsenal. Sebelum laga, mereka sudah menyiapkan 700 desain juara. Sesudah laga, seluruh desain itu berubah menjadi fosil digital. Canva masuk masa berkabung. Photoshop menolak buka aplikasi. Folder “Juara UCL Final Fix Serius Ini Fix” kini resmi menjadi cagar budaya.
Akhirnya, seperti setiap tahun, muncul kalimat sakti yang lebih abadi daripada piramida. “Musim depan adalah tahun kami.” Kalimat yang selalu hadir ketika trofi tidak hadir.
PSG pulang membawa Si Kuping Besar. Sementara Arsenal pulang membawa sesuatu yang stoknya tidak pernah habis. Harapan. Harus diakui, dalam kompetisi memproduksi harapan, Arsenal memang juara Eropa.
“Bang, jangan nge-roasting Arsenal terus, biarkan mereka istirahat, jangan diganggu.”
Sumber foto: © INA FASSBENDER/AFP
Rosadi Jamani






