Albertus M. Patty | Penulis
Jakarta, PBSN – Saat studi di US, tepatnya di kota Pittsburgh, Pennsylvania, anak bungsu kami lahir. Sebagai anak dari orangtua yang duitnya pas-pasan karena sedang menempuh studi, anak kami ‘eligible’ alias memenuhi syarat sebagai penerima MBG. Memang, MBG ditujukan untuk mereka yang secara ekonomi kurang mampu. Jadi, syukur banget saat itu saya dimasukkan sebagai orang yang kurang mampu!
MBG itu tidak pernah berbentuk makanan yang sudah matang. Sebaliknya, kami diberi kupon belanja seharga $175 yang berlaku untuk seminggu. Kupon belanja itu dikirim setiap hari Sabtu ke rumah kami.
Kupon belanja itu hanya bisa digunakan untuk membeli sayuran mentah, buah, susu, keju, ikan, telur dan daging di hampir semua super market yang ada di kota Pittsburgh.
Jujur saja, meski MBG itu untuk anak , tetapi dengan jumlah kupon sebanyak itu, kami bisa mendapatkan makanan dan minuman yang lebih dari cukup untuk memenuhi sekaligus meningkatkan gizi kami sekeluarga.
MBG dengan pola ini membuat anak kami bisa menyantap makanan yang bergizi dan yang sesuai dengan seleranya, plus selera bapak dan emaknya yang ikutan makan. Anak kami sangat sehat karena MBG. Gizinya terjamin.
MBG dengan pola ini juga membuat anggaran pemerintah lebih terkontrol: lebih accountable dan transparan. Dan yang terpenting, tak satu pun anak penerima MBG yang keracunan makanan.
Rasanya dengan pola seperti ini, penyalahgunaan atau korupsi terhadap dana MBG akan bisa diminimalisir sekecil mungkin. MBG pun menjadi proyek yang bagus dan Presiden kita akan disukai seluruh rakyat.












