Oleh : Moh Naufal Dunggio
Aktivis dan Ustadz Kampung
Dua-duanya sama-sama pemimpin negara. Cuma bedanya yang satu sistem monarki yang satu sistem republik. Yang Ratu berkuasa seumur hidup yang satu ingin berkuasa seumur hidup. Mula pertama minta 3 periode. Tidak mustahil kalau gol itu dia akan minta seumur hidup. Sang Ratu kalau berbicara irit dan kata serta omongan selaras dengan perbuatan. Sebab kalau dia berbohong malu pada rakyatnya. Tapi yang satu kalau gak bohongin rakyatnya dalam setiap pidatonya pasti dokter kepresidenannya akan kasih obat parasetamol karena kalau gak ngibul dia meriang. Dia pidato pada 16 Agustus gak akan naik BBM tapi seminggu kemudian dia naikin. Katanya uang negara surplus tapi nyatanya rugi.
Kalau Ratu begitu kaya. Dan kayanya hasil dari bisnis keluarganya dan warisan. Tapi yg satu baru mau jadi OKB (Orang Kaya Baru) dengan duit pinjaman dari Cina dengan alasan membangun infrastruktur. Seperti kereta cepat Bandung Jakarta. Udah jor-joran biayanya tapi sampai sekarang gak selesai-selesai juga. Gak tahu mau nambah berapa ratus trliun lagi dari APBN yang tadinya gak mau pake APBN tapi nyatanya ngibul.
Sang Ratu membawa negaranya menjadi salah satu negara yang mempunyai power cukup kuat di dunia. Kalau yang satu membikin negaranya makin hancur. Rakyat makin susah dan banyak jadi pengangguran.
Ini tulisan bukan membanding-bandingkan antara Jokowi dan Ratu Elizabeth II karena sang Ratu udah mangkat. Sedangkan Jokowi masih hidup tapi di do’ain terus supaya cepat bertemu Tuhannya. Itu karena udah siksa rakyat dibuatnya.
Yang baca gak usah naik gula darahnya. Cukup baca aja sambil ikut berdo’a agar yang satu menyusul sang Ratu di pengadilan akhirat dan bikin meeting di sana secepatnya. Gak usah tunggu 2024. Itu era rakyat memilih CAPRES sesuai hati rakyat yang gak pernah ngibul dan agar gak dijual ke Cina. Jangan lupa di share.
Wallahu A’lam …..












