Rabat, PBSN – Satu negara sudah pesta seperti besok kiamat dibatalkan. Jalanan penuh manusia, klakson meraung seperti konser dangdut kolosal, kembang api meledak tanpa izin RT, dan trofi diarak keliling kota bak benda pusaka turun dari kahyangan.
Lalu…
Datanglah satu keputusan dingin, kaku, tanpa empati, seperti pesan mantan yang cuma berbunyi, “Kita cukup sampai di sini.”
Selamat datang di tragedi komedi paling megah dalam sejarah Piala Afrika 2025. Ini sebuah final yang bukan hanya menentukan juara, tapi juga membuktikan, kebahagiaan bisa di-cancel seperti pesanan COD yang ditolak di tempat.
Semua bermula di malam 18 Januari 2026. Pertarungan dua raksasa, Timnas Senegal melawan Timnas Maroko. Laga berjalan tegang. Skor 0-0. Nafas ditahan. Jantung berdegup seperti nunggu hasil seleksi CPNS yang nasibnya ditentukan server error.
Masuk Menit Akhir
Wasit Jean Jacques Ndala berjalan ke layar VAR. Semua mata tertuju. Semua doa dipanjatkan. Semua harapan menggantung seperti jemuran di musim hujan. Keputusan keluar, penalti untuk Maroko, akibat pelanggaran terhadap Brahim Diaz. Di titik inilah… dunia mulai retak.
Kubu Senegal meledak. Bukan marah biasa. Ini marah level sinetron ibu-ibu jam tujuh malam. Pelatih Pape Thiaw mungkin merasa sedang menulis skrip drama, “Kalau takdirnya begini… kita keluar saja!”
Boom! Walk-off
Para pemain Senegal meninggalkan lapangan. Penonton terpaku. Komentator mungkin hampir resign. Dunia sepak bola Afrika berubah jadi panggung teater absurd dengan naskah yang ditulis oleh emosi.
Selama 17 menit, iya, tujuh belas menit, bukan tujuh detik, laga menggantung. Waktu terasa seperti antre BBM di SPBU Sambas. Panjang, panas, dan penuh harapan kosong. “Muke sampai sallak,” kate urang Sambas.
Berkat dorongan Sadio Mané dan instruksi pelatih Pape Thiaw, akhirnya Senegal kembali. Penalti tetap dijalankan. Dan… gagal. Diselamatkan oleh Edouard Mendy dengan refleks dewa. Plot twist kecil. Penonton mulai lega.
Masuk babak tambahan. Di sinilah Pape Gueye muncul seperti pahlawan film terakhir. Ia mencetak gol. Skor 1-0. Senegal unggul. Senegal juara. Tangis pecah. Pelukan terjadi. Trofi diangkat. Negara berpesta seperti baru menemukan tambang emas di halaman rumah.
Selesai?
Ha..ha..haaa. Nuan terlalu naif
Karena di balik semua euforia itu, ada kekuatan yang lebih dingin dari es kutub, regulasi. Federasi Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko tidak menyerah. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak walk-off. Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih mematikan, mengajukan banding ke Konfederasi Sepak Bola Afrika.
Bukan soal teknik. Bukan soal siapa lebih hebat. Ini soal pasal. Pasal 82 dan 84, dua angka yang kini terasa lebih tajam dari tekel dua kaki.
Isinya sederhana, tapi efeknya seperti meteor jatuh. Tim yang meninggalkan lapangan tanpa izin wasit = kalah otomatis 0-3. Lalu… CAF mengetuk palu.
Senegal, yang sudah mengangkat trofi dengan penuh cinta dan harapan, tiba-tiba ditarik kembali ke bumi. Skor resmi berubah jadi 3-0 untuk Maroko. Trofi berpindah tangan… bukan lewat kaki, tapi lewat dokumen. Inilah momen ketika sepak bola berhenti jadi olahraga dan berubah jadi seminar hukum dengan soundtrack sorak-sorai yang salah alamat.
Sementara itu, akun resmi Senegal sempat mengunggah video perayaan. Trofi diangkat. Senyum sumringah. Momen abadi. Sayangnya… sejarah berkata, “Itu hanya versi demo.”
Jurnalis Maher Mezahi sampai berkomentar, 16 menit terakhir itu tak bisa dihapus. Ya jelas tidak bisa. Sama seperti janji kampanye yang dulu diucapkan dengan penuh semangat, lalu hilang seperti sinyal di pedalaman. Rekamannya ada, realisasinya… kita tunggu musim berikutnya.
Kini fakta berbicara dingin. Maroko resmi juara. Gelar kedua setelah 1976. Senegal? Pernah juara… selama beberapa jam.
Rekap sejarah pun berubah seperti editan Wikipedia tengah malam. Maroko: 2 gelar (1976, 2025). Senegal, 1 gelar… dicabut dengan penuh perasaan hukum.
Kalau ini terjadi di negeri kita, mungkin sudah ada 12 versi kebenaran, 7 konferensi pers, dan 3 tim ahli yang semuanya berbeda pendapat tapi sepakat satu hal, “Kita hormati proses.”
Padahal rakyat sudah terlanjur pesta. Sudah terlanjur percaya. Sudah terlanjur bahagia. Di situlah tragedi paling lucu sekaligus paling menyakitkan terjadi. Kemenangan yang sudah dirayakan…Ternyata belum disahkan.
Moral ceritanya? Dalam hidup, dalam politik, dalam sepak bola, apa pun panggungnya, jangan buru-buru arak trofi. Karena bisa jadi…Peluit terakhir belum benar-benar berbunyi.
“Bang, kalau Timnas digitukan, AFC pasti tutup akun digeruduk netizen.”
“Itu sudah pasti. Netizen kita mana ada lawan kalau sudah ngamuk.
Sumber foto: Tempo Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani












