Din Pasang Badan untuk JK

Hukrim, News, Politik139 Views

Jakarta, PBSN –  Sepertinya aspal di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, tidak pernah diberi kesempatan untuk dingin. Kediaman pribadi Jusuf Kalla (JK) mendadak berubah fungsi menjadi “Markas Besar Penjaga Marwah”. Siang jadi ruang diplomasi, malam jadi dapur strategi.

Selasa malam, 28 April 2026, suasana makin crowded. Rombongan ormas Islam pusat yang dipimpin Din Syamsuddin dan Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar turun gunung. Agendanya cuma satu: Pasang badan untuk JK.

Ada yang unik dalam episode “Ijazahku Malang, Ijazahku Sayang” kali ini. Di saat JK dilaporkan atas dugaan penistaan agama gara-gara ceramahnya di Masjid Kampus UGM, bantuan justru datang dari arah yang tak diduga. Tokoh-tokoh dari PGI dan KWI malah pasang badan duluan.

Ibarat lagi dikeroyok di lapangan sekolah, eh, tetangga sebelah rumah yang beda geng malah yang pertama kali bawain payung.

Din Syamsuddin, yang kali ini berperan sebagai “Juru Bicara Perlawanan”, tidak mau sekadar main kata-kata manis. Beliau menegaskan bahwa video yang beredar itu bukan sekadar editan biasa, tapi level “adu domba kelas kakap”.

Hasilnya? Tim advokat ormas Islam sudah siap-siap meluncur ke Bareskrim. Targetnya bukan kaleng-kaleng, trio yang sering disebut netizen sebagai “The Untouchables”: Ade Armando, Abu Janda, dan Grace Natalie.

“Kalian kasih kami laporan penistaan, kami balas dengan laporan fitnah. Skor satu-sama, mari kita lihat siapa yang napasnya lebih panjang di pengadilan,”demikian pernyataan dari subteks dalam pertemuan tersebut.

Din Syamsuddin juga mengingatkan publik soal CV mentereng JK. Orang yang mendamaikan Poso dan Ambon ini sekarang malah dituduh menista agama. Bagi para pendukungnya, ini ibarat menuduh koki bintang lima tidak tahu cara menyalakan kompor ngaco bin ajaib.

Sementara itu, di pojok lain media sosial, kubu lawan termasuk mereka yang dituduh menyebar fitnah masih asik dengan narasi masing-masing.

Namun, dengan merapatnya kekuatan lintas agama ke Brawijaya, peta kekuatan kali ini benar-benar bergeser. JK tidak lagi berdiri sendiri; dia dikelilingi “pagar hidup” dari berbagai kiblat ibadah.

Pertanyaannya sekarang: Apakah laporan balik ini akan berlanjut sampai meja hijau, atau hanya akan menjadi drama mediasi yang berakhir dengan materai sepuluh ribu?

Satu yang pasti, di Jakarta Selatan, kopi belum habis diseduh, tapi laporan polisi sudah siap meluncur. Kita tunggu saja, siapa yang bakal paling rajin dipanggil sebagai saksi pekan depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *