Jakarta, PBSN – Drama BGN kita jeda iklan Koptagul dulu. Sekarang beralih ke Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas). Kemarin, KPK berburu Wamen Imipas. Macam petani Vietnam berburu tikus, satu kampung dikerahkan. Eh…tengah malam, nongol dia, lalu nyerahkan diri. Seru kan.
Di saat rupiah sudah menuju Rp 18 ribu per dolar, di saat Timnas U-19 sukses menekuk Timor Leste 2-0, tiba-tiba muncul berita yang membuat mie instan terasa hambar dan kopi pagi berubah rasa minyak kayu putih.
KPK sedang berburu wakil menteri. Bukan berburu macan. Bukan berburu Silpester Matutina. Ini berburu Wamen Imipas, Silmy Karim.
Awalnya publik mengira bakal ada drama 30 episode. Ada pengejaran. Ada penyamaran. Ada adegan naik perahu ke pulau terpencil sambil membawa koper berisi dokumen rahasia. Netizen sudah siap membuat teori konspirasi sepanjang 47 halaman PDF.
Eh ternyata tidak
Selasa malam, 2 Juni 2026, KPK menggelar OTT di Kantor Imigrasi Jakarta Barat. Operasi itu kemudian merembet ke Bali dan Jawa Barat seperti Kejagung menyikat tiga pentolan BGN. Dari operasi tersebut, diamankan uang tunai dolar AS, dolar Singapura, emas, mobil, motor, hingga sepeda. Lengkap sekali. Kalau ditambah gerobak bakso dan dua ekor kambing, sudah bisa buka festival UMKM.
Besoknya, Rabu 3 Juni, KPK mengumumkan sedang mencari Silmy Karim. Publik langsung geger. Grup WA ormas loreng mendadak berubah menjadi kantor intelijen.
“Sudah ketemu?”
“Belum.”
“Di mana?”
“Masih di Jakarta.”
“Naik pesawat?”
“Belum tahu.”
“Naik odong-odong?”
“Itu juga belum tahu.”
Namun ketika rakyat sedang menyeduh Koptagul, drama mendadak tamat. Sekitar pukul 22.35 WIB, Silmy Karim datang sendiri ke Gedung Merah Putih KPK. Datang. Sendiri. Tidak pakai penyamaran menjadi tukang cilok. Tidak pakai kumis palsu. Tidak pakai jet tempur. Tidak pakai teleportasi ala film Marvel.
Ketika ditanya wartawan, jawabannya bahkan lebih pendek dari durasi hubungan bilateral di malam Juma.
“Ya gini aja, menyelesaikan agenda.” Selesai.
Netizen yang sudah siap begadang sampai subuh langsung kecewa karena serialnya tamat sebelum opening song selesai diputar.
Kasus yang sedang dibongkar KPK sendiri berkaitan dengan dugaan suap atau pemerasan dalam pengurusan izin tinggal WNA, terutama KITAS dan KITAP. Dokumen yang seharusnya lahir dari stempel birokrasi diduga berubah menjadi ladang cuan yang lebih subur dari kebun sawit setelah musim hujan.
KPK kemudian menetapkan 17 tersangka. Delapan berasal dari unsur penyelenggara negara atau ASN. Sementara sembilan lainnya berasal dari pihak swasta yang diduga berperan sebagai perantara alias calo kelas premium.
Nama-nama yang lebih dulu diamankan antara lain Ronald Arman Abdullah, Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Jaya Saputra, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Barat, serta Saffar Muhammad Godam yang pernah menjadi Plt Dirjen Imigrasi.
Lalu bagaimana dengan Silmy?
Nah, ini bagian yang membuat netizen harus menahan diri agar tidak keburu membuat meme. Sampai pemeriksaan berlangsung, KPK belum menetapkannya sebagai tersangka. Statusnya masih pihak yang diperiksa dan dimintai klarifikasi.
Padahal rekam jejaknya tidak main-main. Lulusan Universitas Trisakti dan Universitas Indonesia ini pernah belajar juga di Harvard University dan Naval Postgraduate School Amerika Serikat. Ia pernah memimpin PT Pindad, PT Barata Indonesia, hingga PT Krakatau Steel. Penghargaan pun berjejer seperti piala turnamen futsal tingkat kecamatan yang menang terus selama 15 musim.
Kariernya melesat dari dunia pertahanan, menjadi Dirjen Imigrasi, lalu naik menjadi Wakil Menteri Imipas pada 21 Oktober 2024. Kini semua prestasi itu sedang diuji di depan gedung yang paling ditakuti para pencinta amplop misterius, KPK.
Publik tinggal menunggu episode berikutnya. Karena di negeri ini, kadang yang paling sulit diprediksi bukan kurs dolar, bukan harga cabai, bukan cuaca BMKG. Yang paling sulit ditebak adalah siapa yang besok pagi masih pejabat, dan siapa yang mendadak jadi berita utama.
Rosadi Jamani






