Mirip BEM Bersatu, Demo Tandingan Dukung MBG Muncul di Patung Kuda

Politik, Sosial35 Views

Jakarta, PBSN – Belum habis rakyat mencerna kemunculan mendadak “Aliansi BEM Fakultas Bersatu” yang menggelar konferensi pers di Jakarta pada 16 Juni 2026, lengkap dengan meja kayu estetik, mikrofon berjajar, wartawan diundang, dan suasana yang lebih mirip peluncuran startup dari perlawanan mahasiswa, tiba-tiba muncul episode berikutnya yang jauh lebih spektakuler.

Kalau kemarin yang turun gunung adalah mahasiswa misterius yang mendukung MBG sambil mengkritik mahasiswa lain, maka kali ini yang muncul adalah kekuatan lebih dahsyat.

Emak-emak.

Ya, emak-emak. Lawan seimbang diskon supermarket, dan makhluk yang jika sudah bergerak dalam jumlah besar bisa mengalahkan pasukan Mongol tanpa perlu mengangkat senjata.

Rabu, 17 Juni 2026, kawasan Patung Kuda mendadak berubah menjadi lautan putih. Koordinator lapangan mereka, Edi Marzuki dari Aliansi Masyarakat Jakarta Timur, mengklaim jumlah massa mencapai 10.000 orang.

Sepuluh ribu!

Jumlah yang kalau disuruh mengupas bawang secara serentak mungkin bisa membuat harga bawang nasional ambruk dalam satu sore.

Mereka datang sejak pukul 11.30 WIB. Bukan cuma ibu rumah tangga. Ada bapak-bapak, ada anak muda, semuanya seperti sedang syuting film kolosal berjudul The Avengers: Nasi Kotak Endgame.

Patung Kuda yang biasanya hanya berdiri gagah menyaksikan demonstrasi kemungkinan mulai mempertanyakan takdirnya sendiri. “Kenapa setiap minggu aku jadi saksi episode baru?” mungkin begitu pikirnya.

Massa membawa poster, spanduk, dan semangat yang level panasnya setara knalpot bus antarkota yang sedang menanjak. Tuntutan mereka juga jelas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus lanjut. Koruptor dana MBG harus ditangkap. Kalau perlu dipenjara seumur hidup.

Terdengar sederhana. Tapi justru di situlah letak kejeniusan politik Indonesia.

Ketika sebagian mahasiswa meneriakkan kritik terhadap MBG karena berbagai persoalan tata kelola, dugaan korupsi, hingga kasus keracunan di sejumlah daerah, tiba-tiba muncul pasukan putih yang berkata, “Programnya lanjut saja. Yang korupsi tangkap.”

Sesederhana itu. Logika tingkat dewa. Seperti mobil yang bannya copot lalu pemiliknya berkata, “Mobilnya jangan dihentikan. Ban yang bermasalah saja yang ditangkap.”

Yang membuat netizen mulai garuk-garuk kepala adalah urutan kejadiannya. Baru kemarin muncul kelompok mahasiswa yang mendukung MBG. Hari ini muncul ribuan emak-emak yang mendukung MBG.

Besok siapa lagi? Persatuan Tukang Bakso Peduli MBG? Aliansi Ojol Cinta MBG? Forum Kucing Oren Nasional untuk Ketahanan Gizi?

Publik tentu tidak punya bukti apa-apa. Tetapi teori konspirasi berkembang lebih cepat dari promo e-commerce tanggal kembar.

Di media sosial, ada yang bercanda bahwa di sebuah ruang rahasia terdapat papan strategi raksasa bertuliskan:

Tahap 1: Mahasiswa demo.
Tahap 2: Keluarkan mahasiswa tandingan.
Tahap 3: Keluarkan emak-emak.
Tahap 4: Jika masih gagal, keluarkan seluruh penghuni grup WA keluarga.

Lucunya lagi, aksi ini berlangsung damai. Tidak ada ban terbakar. Tidak ada pagar tumbang. Tidak ada lemparan batu. Hanya ribuan orang berbaju putih yang rela berpanas-panasan demi mempertahankan program makan gratis. Katanya ribuan, lihat fotonya sepertinya tak nyampelah.

Sementara itu, rakyat biasa menonton dari rumah mulai mengalami kebingungan tingkat nasional. Mahasiswa mengaku mewakili rakyat. Mahasiswa lain juga mengaku mewakili rakyat. Emak-emak juga mengaku mewakili rakyat.

Semua mengaku suara rakyat. Yang tidak pernah muncul justru koruptornya. Mereka seperti karakter utama yang selalu disebut dalam setiap episode, tetapi tidak pernah terlihat wajahnya.

Begitulah Indonesia kembali menghadirkan pertunjukan politik paling absurd di muka bumi. Mahasiswa turun ke jalan. Mahasiswa lain turun ke konferensi pers. Emak-emak turun ke Patung Kuda.

Sementara koruptor di BGN baru lima tersangka dikerangkeng Kejagung. Padahal, menurut Sony, si malaikat yang tak pernah ngaku salah, ada 26-30 nama ikut bermain titik SPPG. Nama-nama itu sepakat bernyanyi “Kami Tak Kenal Sony”. Padahal, bukti sudah terang benderang, baru lima jadi tersangka. Kasihan Haji Dadan yang ditunjuk jadi Ketua Persatuan Maling Anggaran Indonesia (PERMAI) sekarang kedinginan di jeruji. Nasibmu Pak Aji.

“Bang, esok akan ada tandingan apalagi ni?”

“Nampaknya akan ada tandingan baru.

 

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *