Budiman Sudjatmiko, Hantu yang Mengintai di Belakang Setiap Demo Mahasiswa

Politik, Sosial86 Views

Jakarta, PBSN – Ada fenomena baru mulai muncul setiap kali mahasiswa turun ke jalan. Mau demo soal harga sembako, korupsi, KKN, pajak, lingkungan, atau kebijakan pemerintah yang bikin rakyat menggaruk tembok, komentar yang muncul sering kali bukan lagi membahas isi tuntutannya.

Yang muncul justru satu kalimat pendek yang sadis, kejam, dan membuat semangat revolusi mendadak turun seperti baterai ponsel tinggal 1 persen.

“Ntar juga jadi Budiman.” Selesai. Tamat. Game over.

Kalimat itu sekarang seperti rudal anti-aktivis yang ditembakkan dari kolom komentar media sosial. Mahasiswa belum selesai berorasi, belum selesai mengangkat spanduk, belum selesai berteriak “hidup mahasiswa!”, tiba-tiba sudah ada netizen yang nyengir sambil mengetik, “Semangat dek, sepuluh tahun lagi juga duduk di pemerintahan.”

Yang lebih ganas lagi, “Lihat tuh Budiman. Dulu teriak paling keras. Sekarang paling kalem.”

Aduh. Kalau dulu mahasiswa ditakuti penguasa, sekarang sebagian mahasiswa justru ditertawakan netizen.

Ironisnya, nama Budiman Sudjatmiko telah berubah menjadi semacam peribahasa nasional. Bukan lagi sekadar nama orang, melainkan status sosial baru. “Jangan terlalu semangat, nanti jadi Budiman.”

Kalimat itu sekarang punya daya hancur luar biasa. Sekali keluar, satu lapangan demonstrasi bisa langsung kehilangan aura heroiknya.

Nuan bayangkan ada mahasiswa berdiri di atas mobil komando. Wajah penuh semangat. Urat leher menegang. Keringat bercucuran. Pidato menggelegar seperti petir. “Lawan ketidakadilan!” “Lawan korupsi!” “Hidup rakyat!”

Lalu dari pinggir jalan terdengar satu suara santai. “Ntar juga jadi Budiman.” Mendadak seluruh adegan terasa seperti komedi.

Inilah tragedi terbesar yang sebenarnya sedang terjadi. Bukan soal Budiman marah atau tidak marah. Bukan soal debat dengan mahasiswa di Semarang. Bukan soal siapa benar dan siapa salah. Masalah terbesarnya adalah hilangnya kepercayaan.

Dulu mahasiswa dipandang sebagai simbol idealisme. Sekarang sebagian masyarakat mulai memandang mereka seperti pegawai magang politik yang sedang menjalani masa pelatihan sebelum masuk ke lingkaran kekuasaan.

Akibatnya, setiap aksi mahasiswa sering langsung dicurigai. Demo? “Pencitraan.” Orasi? “Cari panggung.” Aktivis? “Calon pejabat.” Kritis? “Nunggu jabatan.” Ini menyakitkan, tetapi itulah kenyataan yang muncul di ruang publik.

Salah satu alasan mengapa stigma itu begitu kuat adalah karena figur seperti Budiman. Dulu beliau adalah poster boy perlawanan. Ikon mahasiswa berani menantang kekuasaan. Nama yang dulu membuat banyak aktivis muda bermimpi menjadi pejuang rakyat.

Namun ketika kini berada di dalam sistem kekuasaan dan dianggap tidak lagi segarang dulu, publik melihatnya sebagai pembuktian teori lama, “Tidak ada yang lebih cepat berubah dari aktivis yang menemukan kursi empuk.”

Kejam? Ya. Berlebihan? Mungkin. Tapi itulah persepsi yang berkembang.

Karena itu, peristiwa debat panas di Semarang sebenarnya lebih besar dari sekadar adu mulut antara pejabat dan mahasiswa. Yang sedang dipertaruhkan adalah kredibilitas seluruh gerakan mahasiswa.

Setiap kali Budiman dianggap kehilangan daya kritis, setiap kali videonya viral, setiap kali muncul kontroversi, dampaknya tidak hanya mengenai dirinya.

Mahasiswa yang sedang demo hari ini ikut terkena getahnya. Mereka harus memikul beban sejarah yang berat. Mereka harus membuktikan, idealisme bukan sekadar tiket masuk ke pemerintahan. Mereka harus membuktikan, perjuangan tidak berakhir saat jabatan datang. Mereka harus membuktikan, tidak semua aktivis memiliki tujuan akhir berupa kursi, mobil dinas, dan ruangan ber-AC.

Sebab selama bayang-bayang Budiman masih mengambang di langit politik Indonesia, setiap demonstrasi mahasiswa akan selalu dihantui satu komentar yang membuat seluruh pidato revolusioner mendadak terasa seperti trailer sinetron, “Teriak yang keras, Dek. Nanti kalau sudah jadi pejabat, videonya bisa diputar ulang.”

Itulah mungkin warisan paling tragis sekaligus paling lucu dari kisah Budiman. Ia bukan lagi sekadar mantan aktivis. Ia telah berubah menjadi alat ukur nasional untuk menguji ketahanan idealisme mahasiswa Indonesia. Setiap kali ada demo, namanya muncul. Setiap kali ada orasi, namanya disebut. Setiap kali ada aktivis muda berapi-api, publik langsung bertanya sambil tertawa, “Ini calon pejuang rakyat… atau calon Budiman berikutnya?”

Pelajaran penting buat adik-adik mahasiswa. Kalau mereka selalu seruput Koptagul, dijamin idealisme tak mudah tergadai.

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *