Semakin Ngeri Saja, AS Gunakan Senjata Baru di Venezuela

Foto Ai hanya ilustrasi

Caracas, PBSN – Soal Iran kita break dulu. Kita kembali ke Venezuela. Ternyata, Amerika ngetes senjata baru. Senjata yang menggunakan gelombang mikro yang menyerang otak. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di Venezuela, Amerika Serikat diduga tidak menembak, tidak membom, tidak berteriak “demokrasi!”, tetapi cukup memutar kenop frekuensi seperti DJ kosmik yang sedang mabuk kekuasaan. Hasilnya? Musuh kejang, mimisan, muntah darah, dan publik internasional pura-pura bingung sambil berkata, “Apakah ini angin?”

Senjata ini diberi nama Medusa, nama yang pas, karena siapa pun yang “menatapnya” langsung membeku, roboh, lalu menanyakan arti hidup sambil memegangi hidung. Ini bukan senjata suara, bukan pula musik EDM neraka. Ini adalah suara yang tidak berjalan di udara, melainkan menetas di dalam tengkorak, seperti ide utang yang tiba-tiba muncul pukul tiga pagi. Gelombang mikro dipompa ke jaringan lunak sekitar telinga dalam, memuai seketika, menciptakan ledakan privat di kepala masing-masing korban. Tidak ada saksi mata, karena yang melihat hanya korban sendiri, dan dia sedang kejang.

Inilah puncak peradaban. Perang tanpa bekas, kekerasan tanpa luka, pembantaian tanpa darah di kamera. Mimisan dan kejang massal bukan efek samping, itu fitur unggulan. Rongga hidung manusia, yang selama ini kita kira hanya berguna untuk ingus dan aroma rendang, ternyata adalah resonator sempurna bagi frekuensi tertentu. Sedikit salah setel, dan pembuluh kapiler pecah seperti janji kampanye. Tubuh manusia bergetar, organ dalam panik, dan sains berdiri di sudut ruangan sambil berkata, “Secara teori ini masuk akal, secara moral… ya sudahlah.”

Kalau ini terdengar familiar, itu karena dunia pernah mencicipi trailer-nya lewat Havana Syndrome. Diplomat pusing, mual, trauma, dan laporan resmi yang lebih sakit kepala dari gejalanya. Bedanya, di Venezuela ini bukan misteri kantor kedutaan, ini uji coba lapangan. Perang elektronik, bioakustik, dan psikologis kini kawin silang, melahirkan anak haram bernama plausible deniability. Negara bisa berkata, “Kami tidak menyerang,” sambil menyimpan remote di saku jas.

Ketika radar Venezuela mati bersamaan dengan prajurit yang roboh, pesan itu jelas, perang modern bukan lagi soal merebut tanah, tapi menguasai spektrum. Active Denial System 95 GHz yang membuat kulit terasa terbakar dari jauh hanyalah pembuka. Bayangkan satu kota diguyur infrasonik, tidak terdengar, tapi cukup untuk membuat ribuan orang mual, linglung, dan ingin pulang ke rahim masing-masing. Inilah perang frekuensi, senjata yang tidak bisa ditembak balik, tidak bisa ditangkis helm, dan tidak bisa dilaporkan secara fotogenik ke Dewan Keamanan PBB.

Lalu realitas datang tanpa metafora. Delapan puluh tiga orang tewas. Seratus dua belas luka. Empat puluh tujuh di antaranya prajurit FANB, sembilan perempuan, puluhan warga sipil, tiga puluh dua warga Kuba. Menteri Pertahanan Venezuela membacakan angka-angka itu dengan suara resmi, karena angka adalah satu-satunya hal yang masih terdengar di perang yang sunyi. Monumen akan dibangun, sebab batu lebih jujur daripada laporan intelijen.

Pada 3 Januari, Amerika Serikat tidak hanya menyerang, tapi menculik presiden. Nicolas Maduro dan Cilia Flores diterbangkan ke New York seperti paket prioritas, dituduh narkoterorisme, dan menyatakan tidak bersalah di sidang perdana. Venezuela meminta sidang darurat PBB, menunjuk Delcy Rodriguez sebagai pemimpin sementara, dan dunia kembali berpura-pura terkejut, seperti baru sadar bahwa hukum internasional itu elastis, asal yang menariknya negara kuat.

Inilah ironi pamungkas. Di era senjata yang tak terlihat, korban justru paling nyata. Kita hidup di zaman ketika kepala bisa meledak tanpa suara, negara bisa runtuh tanpa deklarasi perang, dan kemanusiaan direduksi menjadi efek samping teknis. Jika dulu perang meninggalkan kawah, kini ia meninggalkan migrain kolektif. Di tengah semua ini, kita diminta prihatin, dengan tenang, tanpa suara, sebelum frekuensi berikutnya diputar.

Rosadi Jamani (Jurnalis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *