SATU TITIK LEMAH ANIES DI MATA PENELITI BRIN

Politik292 Views
Jakarta – Pasca pengumuman Anies Baswedan sebagai Capres oleh Partai Nasdem pada awal Oktober lalu, sosok mantan Gubernur DKI Jakarta itu terus mendapatkan simpati dari rakyat Indonesia.
Dengan bekal pengalaman dalam memimpin ibu kota selama lima tahun, Rakyat Indonesia seakan memberikan harapan besar agar kepemimpinan tersebut dilanjutkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Firman Noor dalam acara diskusi di Indonesia Leader Talk (ILT) Jum’at (21/10/22) mengupas sosok dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.
Berikut figur Anies Baswedan dari kacamata peneliti senior pusat riset politik BRIN tersebut ;
1. Anies Baswedan dikenal open minded, sosok yang membangun kolaborasi positif,  global mindsetnya juga baik, tidak tampak pro oligarki secara nyata.
2. Anies berada di atas rata-rata, terutama dalam bagaimana dia mensikapi perbedaan yang ada di masyarakat.
3. Anies Baswedan tidak perlu repot membuktikan kiprahnya, karena selama 5 tahun, cukup banyak yang bsa diperlihatkan berupa terobosan-terobosan di Jakarta yang signifikan dirasakan masyarakat.

4. Anies sejalan dengan kondisi masyarakat yang punya pendapat akan kondisi top down pemerintahan. Dengan background  pendidikan tingginya,  dihadirkan konsep kolaborasi, saling dukung, kerja sama dengan agenda yang tidak melangit juga tidak sekelas kutu yang nyaris tak tampak.

5. Agenda-agenda yang dlakukan Anies adalah agenda yang dsetujui dan relevan dengan karakter masyarakat, karena programnya bukan mercusuar atau sekadar membangun fisik, juga ke arah pengembangan rasa bersama (kolaborasi).

6. Timing Anies pas saat ini. ‘The right man in the right time’ dalam hal terobosan leadership terutama political development dalam bidang demokrasi yang turun saat ini, karena pada tahun 50an, demokrasi pada kondisi advanced, yang terus menurun dan sempat naik di tahun 98an lalu trun tajam sekarang.

7. Values islam tradisional dari Anies perlu diangkat untuk meminimalisasi suara-suara negatif yang mempertanyakan sisi ini, karena ia dianggap Islam moderen sehingga citranya kurang Islam tradisional bagi sebagian kalangan.

8. Selanjutnya, jelas Anies Baswedan perlu booster dari sisi Vice President. Pasangannya mesti bisa mendongkrak suara sehingga pencalonannya menjadi maksimal.

9. Salah satu, mungkin satu-satunya kelemahan Anies adalah Regime position.  Akan lebih struggling baginya, jika regime saat ini punya preferensi dan pengerahan aparat dalam menentukan positionnya, sementara regime position tidak bersama Anies, minimal benar-benar netral.

(Red)SATU KELEMAHAN ANIES DI MATA PENELITI BRIN
Jakarta – Pasca pengumuman Anies Baswedan sebagai Capres oleh Partai Nasdem pada awal Oktober lalu, sosok mantan Gubernur DKI Jakarta itu terus mendapatkan simpati dari rakyat Indonesia.
Dengan bekal pengalaman dalam memimpin ibu kota selama lima tahun, Rakyat Indonesia seakan memberikan harapan besar agar kepemimpinan tersebut dilanjutkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Firman Noor dalam acara diskusi di Indonesia Leader Talk (ILT) Jum’at (21/10/22) mengupas sosok dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.
Berikut figur Anies Baswedan dari kacamata peneliti senior pusat riset politik BRIN tersebut ;
1. Anies Baswedan dikenal open minded, sosok yang membangun kolaborasi positif,  global mindsetnya juga baik, tidak tampak pro oligarki secara nyata.
2. Anies berada di atas rata-rata, terutama dalam bagaimana dia mensikapi perbedaan yang ada di masyarakat.
3. Anies Baswedan tidak perlu repot membuktikan kiprahnya, karena selama 5 tahun, cukup banyak yang bsa diperlihatkan berupa terobosan-terobosan di Jakarta yang signifikan dirasakan masyarakat.

4. Anies sejalan dengan kondisi masyarakat yang punya pendapat akan kondisi top down pemerintahan. Dengan background  pendidikan tingginya,  dihadirkan konsep kolaborasi, saling dukung, kerja sama dengan agenda yang tidak melangit juga tidak sekelas kutu yang nyaris tak tampak.

5. Agenda-agenda yang dlakukan Anies adalah agenda yang dsetujui dan relevan dengan karakter masyarakat, karena programnya bukan mercusuar atau sekadar membangun fisik, juga ke arah pengembangan rasa bersama (kolaborasi).

6. Timing Anies pas saat ini. ‘The right man in the right time’ dalam hal terobosan leadership terutama political development dalam bidang demokrasi yang turun saat ini, karena pada tahun 50an, demokrasi pada kondisi advanced, yang terus menurun dan sempat naik di tahun 98an lalu trun tajam sekarang.

7. Values islam tradisional dari Anies perlu diangkat untuk meminimalisasi suara-suara negatif yang mempertanyakan sisi ini, karena ia dianggap Islam moderen sehingga citranya kurang Islam tradisional bagi sebagian kalangan.

8. Selanjutnya, jelas Anies Baswedan perlu booster dari sisi Vice President. Pasangannya mesti bisa mendongkrak suara sehingga pencalonannya menjadi maksimal.

9. Salah satu, mungkin satu-satunya kelemahan Anies adalah Regime position.  Akan lebih struggling baginya, jika regime saat ini punya preferensi dan pengerahan aparat dalam menentukan positionnya, sementara regime position tidak bersama Anies, minimal benar-benar netral.

(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *