Jakarta PBSN – Kecewa sudah pasti. Walau dalam hati “Walau kalah, tetap cinta Timnas.” Banyak bilang, squad Garuda kembali ke stelan awal. Ungkapan kekecewaan berhamburan, hampir tak ada memuji. Sasaran tembak tak ada lain, si John Herdman, kadang Towel juga disebut.
Ketika John Herdman pertama datang menangani Garuda, ekspektasi fans langsung terbang setinggi Burj Khalifa. Squad terlihat menjanjikan. Para pemain berpengalaman, fisik oke, penampilan cool. Yang turun ke lapangan bukan bocah baru belajar menendang bola, melainkan pemain-pemain berdarah keturunan dengan wajah Eropa, aura profesional, dan CV kalau dipajang bisa bikin tetangga sebelah minder.
Fans pun berkata, “Nah, ini baru Timnas!” Ternyata waktu berjalan, harapan ikut berlari, tetapi kualitas permainan malah seperti sedang jalan kaki sambil membawa galon.
Awalnya semua tampak indah. Namun, makin lama makin bikin kepala garuk-garuk. Kalau menghadapi Timor Leste, Kamboja, atau Brunei kemudian menang, ya mohon maaf, itu bukan prestasi harus dirayakan dengan kembang api tujuh hari tujuh malam. Dengan segala hormat, pelatih asli Indonesia pun mampu mah.
Ujian sebenarnya adalah ketika bertemu lawan kualitasnya lebih dekat dengan level kompetitif Asia Tenggara. Singapura sudah memberi alarm. Hanya butuh menang, Garuda justru gagal. Hasil akhirnya 1-1. Singapura melenggang ke semifinal, Wak Haji cs pulang membawa koper penuh pertanyaan.
Lalu datang Vietnam. Inilah laga ditunggu. Fans ingin melihat sebenarnya seberapa sakti Garuda racikan si John. Apakah benar skuad mahal dan berwajah internasional itu mampu mengguncang Asia Tenggara?
Jawabannya ternyata pahit. Dibantai 3-0.
Lebih menyakitkan lagi, permainan Indonesia seperti sedang mengikuti lomba memutar bola keliling lapangan. Oper sana, oper sini, muter lagi, muter lagi. Bola dikuasai, tetapi gawang lawan seperti punya sertifikat tanah sehingga tidak boleh disentuh.
Penguasaan bola memang bisa membuat statistik terlihat gagah. Namun sepak bola bukan lomba siapa paling lama memegang bola. Bola harus masuk gawang.
Masalah lainnya semakin jelas. Ketika diserang balik, Garuda gampang panik. Barisan pertahanan mendadak seperti Londo Ireng mau menjajah lagi. Semua bergerak, tetapi tidak jelas bergerak ke mana.
Inilah yang harus dievaluasi si John. Bukan sekadar menyalahkan pemain. Bukan pula berlindung di balik kalimat klasik, “Kami masih membangun tim.” Sampai kapan membangun? Rumah kalau dibangun bertahun-tahun tetapi fondasinya terus dibongkar, tukangnya juga perlu ditanya, “Pak, ini rumah mau selesai atau mau dijadikan proyek abadi?”
Hyundai Cup sudah gagal. Berikutnya ada FIFA ASEAN Cup 2026 pada 21 September–3 Oktober 2026. Beban semakin berat. Kepercayaan fans mulai menipis. Optimisme yang dulu membumbung tinggi kini sudah turun seperti balon kehabisan gas.
Tentu selalu ada fans yang berkata, “Walau kalah tetap cinta Timnas!” Ada pula mengatakan, “Kalian tidak merasa menjadi pemain, bla…bla…bla…”
Ya, kami memang bukan pemain. Karena itulah kami membayar tiket, menonton, mendukung, berteriak, membeli jersey, menghabiskan waktu, bahkan kehilangan suara.
Fans tidak wajib menjadi pemain untuk boleh kecewa. Cinta kepada Timnas tidak berarti harus mematikan otak dan menutup mata.
Di negeri setiap hari dipenuhi drama korupsi, penjilat, tukang cebok kekuasaan, dan segala macam sandiwara, sepak bola menjadi salah satu hiburan rakyat. Ketika semuanya bikin stres, setidaknya Garuda diharapkan memberi alasan untuk tersenyum.
Namun kalau sepak bola juga bikin sakit kepala, mungkin rakyat harus mencari alternatif. Nonton tarkam. Di sana kadang lebih jujur. Lapangan becek, pemain ngos-ngosan, wasit bisa dikejar penonton, dan komentator berteriak tanpa sensor. Tetapi satu hal pasti, bola ditendang dengan niat mencetak gol.
Garuda sekarang membutuhkan lebih dari sekadar pemain keren dan CV internasional. Yang dibutuhkan adalah identitas permainan, keberanian, ketajaman, konsistensi, dan pelatih yang benar-benar tahu cara meramu semuanya. Sebab fans Indonesia sudah terlalu lama diberi harapan.
Jangan sampai nanti, sebelum FIFA ASEAN Cup dimulai, yang tersisa bukan optimisme. Melainkan doa agar jangan dipermalukan lagi.
Rosadi Jamani






