Kisah Akhir Presiden Pemberani, Duterte

Opini, Politik441 Views

Pontianak, PBSN – Manila, 11 Maret 2025. Hari itu, Bandara Internasional Ninoy Aquino bergetar. Bukan karena gempa, bukan karena badai. Tapi karena seorang lelaki tua, yang dulu digdaya, kini menunduk dalam borgol Interpol. Rodrigo Duterte, mantan Presiden Filipina yang pernah berkuasa bak dewa perang, akhirnya jatuh. Jatuhnya bukan kaleng-kaleng, langsung di tangan Interpol, di depan mata dunia.

Suasana bandara? Hening. Lalu gaduh. Lalu pecah. Para pendukung histeris, kamera wartawan berdesing, suara teriakan bercampur makian. Orang-orang tak percaya. Duterte? Si tukang gebuk narkoba? Ditangkap?! Dunia terasa terbalik.

Siapkan kopi liberika, wak! Ini seru, presiden yang dulu gagah perkasa, harus meringkuk di penjara. Begini kisahnya.

Duterte baru pulang dari Hong Kong. Santai, tenang, mungkin baru habis belanja atau makan dim sum. Tapi di pintu kedatangan, kejutan menanti. Agen Interpol berseragam hitam langsung menyergap. “Rodrigo Duterte, you’re under arrest!” Borgol terklik. Lutut Duterte hampir goyah. Mungkin karena kaget. Mungkin karena usia. Mungkin karena karma akhirnya datang mengetuk.

Masalahnya? “Crimes against humanity,” kata ICC. Ribuan nyawa melayang dalam perang narkoba Duterte. Mayat bergelimpangan di jalanan Manila. Mayat-mayat yang tak pernah sempat membela diri. Kampanye anti-narkoba Duterte bukan sekadar operasi, itu pembantaian sistematis.

Lucunya, Duterte ditangkap karena tuduhan kejahatan kemanusiaan. Tapi lihat siapa yang masih bebas jalan-jalan. Benjamin Netanyahu? Masih nyantai di Tel Aviv. Vladimir Putin? Masih selfie sambil main hoki di Kremlin. Presiden Sudan? Santai ngeteh di Khartoum. ICC memang serius, tapi pilih-pilih! Kelas kakap kayak Netanyahu dan Putin gak disentuh. Tapi Duterte? Nah, ini bisa. Mungkin karena Duterte gak punya rudal nuklir. Mirip-mirip juga di sini, hukum tebang pilih, ups. Maaf keceplosan, wak.

Duterte sempat berteriak saat ditangkap. “This is illegal! I only did what was necessary!” (Mudah-mudahan follower saya paham nih). Wajahnya merah padam. Tapi suaranya masih tegas, masih punya nyali. Orang tua ini memang keras kepala sampai akhir.

Pendukung Duterte langsung bereaksi. Seorang ibu-ibu menangis sambil teriak, “Dia pahlawan kami!” Seorang pengacara mencoba masuk ke ruang tahanan, ditolak mentah-mentah. Satu orang bahkan nekat memanjat pagar bandara. Polisi? Santai aja. Mungkin karena ini Manila. Drama begini sudah jadi tontonan biasa.

Tapi inilah ironi dunia. Duterte ditangkap karena ribuan nyawa melayang, tapi Netanyahu? Serangan ke Gaza? Tenang, bos. Putin? Invasi Ukraina? Ah, biasa. Hukum internasional memang unik, tegas pada yang lemah, lunak pada yang kuat. Duterte mungkin berpikir, “Kalau saya punya satu dua bom nuklir, mungkin ceritanya beda.”

Tapi ya, nasi sudah jadi bubur. Duterte bakal terbang ke Den Haag. Sidang di ICC menanti. Dunia menonton. Para penguasa dunia mungkin mulai was-was. Kalau Duterte bisa jatuh, siapa tahu giliran siapa berikutnya? Atau… mungkin hanya Duterte yang jadi korban simbolik. Yang lain? Aman. Karena mereka punya kekuatan. Duterte? Dia hanya punya sejarah berdarah.

Duterte akhirnya dibawa pergi. Para pendukung histeris. Kamera merekam tiap langkah. Duterte sempat menoleh ke belakang, mungkin berharap ada keajaiban. Tapi yang ada hanya pintu mobil tahanan yang terbuka. Satu langkah. Dua langkah. Masuk. Pintu tertutup. Drama ini baru saja dimulai.

Dunia menyaksikan. ICC menyusun berkas. Tapi Netanyahu masih ngopi. Putin masih tersenyum. Duterte? Selamat datang di Den Haag, Pak. Semoga bantal di sel Anda nyaman.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *