Italia Membara, Palestina Menyala

Roma, PBSN – Pembelaan warga Italia pada Palestina sungguh luar biasa. Presidennya tak mengakui kemerdekaan Palestina membuat warganya marah. Terjadilah negara dengan 80,8% penduduknya menganut agama Katolik Roma itu, membara. Sedangkan Palestina menyala. Mari simak narasinya sambil seruput cappuccino tanpa gula, wak!

Italia terbakar amarah, jalanan Milan, Roma, Bologna, Turin, Naples, hingga Genoa menjadi panggung tragedi politik yang lebih mirip sandiwara Yunani kuno, rakyat berdiri dengan dada terbuka, bendera Palestina berkibar, dan di seberangnya polisi Italia menembakkan gas air mata seakan sedang melawan monster, padahal yang mereka hadapi hanyalah suara hati nurani. Puluhan ribu manusia berteriak serentak, “Ayo Blokir Semuanya!”sebuah doa sekaligus sumpah serapah terhadap pemerintahan Giorgia Meloni yang menolak mengakui Palestina. Ironisnya, di saat dunia bergerak ke arah pengakuan, Italia justru memilih menjadi catatan kaki yang memalukan dalam buku sejarah kemanusiaan.

Bayangkan, wak! Di stasiun pusat Milan, jendela kaca pecah bersamaan dengan retaknya reputasi demokrasi Italia. Lebih dari 60 polisi cedera, 10 orang ditangkap, kursi beterbangan, air mata bercampur gas air mata. Di Bologna, jalan tol disulap jadi altar perlawanan, mahasiswa menutup ruang kuliah, dan water cannon menderu seolah air itu mampu memadamkan api solidaritas. Di Roma, jalan lingkar kota menjadi arak-arakan rakyat yang meneriakkan “Palestina Merdeka”. Di Naples, rakyat mencoba menyerbu stasiun utama, sementara di Genoa, pelabuhan berubah jadi samudra bendera Palestina. Dunia melihat, dunia bersimpati, dunia tahu siapa yang berada di pihak benar.

Tapi Giorgia Meloni dengan dingin menyebut itu semua “memalukan”. Ia berdiri di menara kekuasaannya, menulis di X, seolah kata-katanya mampu menutupi suara puluhan ribu rakyat yang membela Palestina. Ia menyebut pengakuan terhadap Palestina “kontra produktif”. Padahal, 151 negara sudah resmi mengakui Palestina, dari Inggris, Kanada, Australia, Portugal, Prancis, hingga Spanyol. Dunia barat yang dulu angkuh kini mulai sadar, sementara Italia memilih menjadi sekutu abadi Israel dalam absurditas geopolitik.

Di Gaza, tragedi berlipat. 90% rumah hancur, sistem air dan kesehatan kolaps, kelaparan menjalar, puluhan ribu tewas, genosida berulang seakan 1948 belum cukup jadi neraka. PBB lewat Navi Pillay bahkan menegaskan, Israel memenuhi empat dari lima kriteria genosida dalam Konvensi 1948. Dunia melihat pola Rwanda diputar ulang di tanah suci. Tapi apa kata Israel? “Fitnah.” Ya, seakan kehancuran Gaza hanyalah dekorasi teater.

Resolusi bersejarah PBB 12 September 2025, dengan 142 negara mendukung pengakuan Palestina, menjadi cahaya tipis di tengah gelap. Ada gencatan senjata permanen, ada janji rekonstruksi Gaza, ada peta jalan dua negara. Tapi tentu saja, Amerika Serikat dan Israel memilih menolak, bersama beberapa negara yang bahkan sebagian rakyatnya mungkin tidak bisa menunjuk Gaza di peta. Italia ikut dalam kubu kelam itu, menyangkal kemerdekaan yang sudah diputuskan oleh mayoritas dunia.

Di balik tragedi ini, filsafat merdeka menjerit. Apakah merdeka hanyalah kata kosong, atau hak setiap bangsa yang bisa ditawar-menawar di meja kekuasaan? Rakyat Italia menjawab dengan darah, keringat, dan tangisan, mereka turun ke jalan, melawan negaranya sendiri, demi Palestina. Di sisi lain, Israel terus mengajarkan kepada dunia bahwa dehumanisasi bisa dibungkus jargon keamanan. Dunia marah, dunia muak, dunia geram, dan simpati pada Palestina semakin meluas.

Sejarah sedang menulis babak baru. Italia mungkin mencoba menjadi penjaga gerbang keangkuhan, tapi rakyatnya sendiri menghancurkan pagar itu. Dari Milan hingga Gaza, satu pesan menggemuruh, Palestina tidak mati. Palestina adalah martabat yang tak bisa dikubur oleh bom, gas air mata, atau keputusan politik yang pengecut. Dunia tahu, dan dunia sedang bergerak.

Foto Ai, hanya ilustrasi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *