Jakarta, PBSN – Prediksi saya meleset. Saya kira menang 3-1, eh malah kalah 0-1. Prediksi followers saya juga banyak ambyar. Memang benar, Bulgaria bukan tim kaleng-kaleng. Walau Timnas didominasi pemain kelahiran Eropa, tetap tak berdaya.
Babak pertama dimulai seperti jurus pembuka dalam silat Nusantara. Kuda-kuda kokoh, napas ditarik, dada dibusungkan, dan bola dikuasai 54%. Secara statistik, ini sudah seperti menang setengah babak. Para pendekar Garuda menari di lapangan, mengalir seperti jurus “Angin Lewat Celana Bolong”indah, cepat, tapi kadang bikin bingung sendiri. Penonton di rumah sudah siap dengan kopi, pisang goreng, bahkan kue lebaran pun dibiarkan basi demi satu hal, kemenangan yang terasa di depan mata.
Namun sepakbola, seperti hidup dan mantan, selalu punya plot twist. Menit ke-38, sebuah pelanggaran terjadi. Tidak besar, tapi cukup untuk mengundang dewa penalti turun dari langit. Eksekutor Bulgaria, Marin Petkov, melangkah dengan tenang. Dan… boom! Gawang yang dijaga Emil Audero jebol. Skor 0-1. Hening. Sunyi. Bahkan suara sendok jatuh pun terdengar seperti gong kematian.
Tapi, seperti kata filsuf warung kopi, “Selama peluit belum panjang, harapan masih bisa dipaksakan.” Para pendekar Nusantara terus menggempur. Serangan demi serangan diluncurkan, seperti jurus “Seribu Tendangan Tanpa Arah.” Penonton tetap setia. Belum ada yang melempar gelas kopi ke televisi. Yang pacaran pun masih romantis, belum saling menyalahkan.
Masuk jeda, muncullah sang guru silat, John Herdman. Ia tidak sekadar pelatih, ia berubah menjadi ustaz sepakbola. Dalam 15 menit yang terasa seperti khutbah Jumat versi offside, ia membentangkan ayat-ayat suci sepakbola Eropa. “Jangan takut dengan The Tricolours. Mereka makan roti, kita makan nasi plus sambal. Masa kalah?” Sebuah argumen nutrisi yang sulit dibantah secara akademik, tapi sangat kuat secara emosional. Di sudut lain, mak-mak pengajian mengangkat tangan, memohon agar Jay Idzes dan kawan-kawan mendapat hidayah gol.
Babak kedua dimulai dengan pergantian strategi. Sananta keluar, Ivar Jenner masuk. Ini seperti mengganti jurus “Harimau Lapar” dengan “Naga Bingung.” Bulgaria, di bawah Aleksandar Dimitrov, sudah membaca kitab silat kita dari halaman pertama. Dua benteng mereka, Teodor Ivanov dan Kristiyan Stoyanov, berdiri seperti tembok Cina versi hemat. Di belakang, Dimitar Mitov menjelma jadi penjaga gerbang dimensi lain, tidak ada bola yang lolos tanpa izin.
Pergantian pemain terus dilakukan. Nathan Tjoe-A-On keluar, Elkan Baggott masuk. Oratmangoen diganti Eliano Reijnders. Formasi berubah, strategi dipoles, tapi Bulgaria tetap seperti dosen killer. Semua jurus kita sudah pernah dia lihat di angkatan sebelumnya.
Dukungan 77 ribu penonton di GBK menggema, tapi entah kenapa terasa seperti doa yang nyangkut di langit-langit stadion. Waktu berjalan, peluang datang dan pergi seperti mantan yang cuma mampir lihat story. Gol tak kunjung lahir. Penonton mulai gelisah. Ada yang pura-pura beli bakso, padahal cuma ingin menghindari kenyataan. Ada yang kembali ke mode “sibuk lebaran,” seolah laga ini hanya mimpi buruk kolektif.
Tambahan waktu empat menit diberikan. Empat menit yang terasa seperti empat abad. Namun tak ada keajaiban. Peluit panjang berbunyi. Skor tetap 0-1. Bulgaria menang, Indonesia belajar lagi tentang arti sabar.
Secara matematis, kekalahan ini hanya mengurangi sedikit poin FIFA. Kita tetap di sekitar peringkat 121, Bulgaria nyaman di 87. Tapi secara filsafat, ini adalah pelajaran silat tingkat tinggi. Penguasaan bola tidak sama dengan menguasai nasib. Semangat 45 perlu ditemani akurasi 100%. Dalam sepakbola, seperti hidup, kadang kita sudah tampil maksimal, tapi tetap kalah oleh satu momen kecil bernama penalti.
Di situlah John Herdman merasakan kekalahan pertamanya. Sebuah tamparan halus dari semesta, sambil berbisik, “Selamat datang di ilmu silat level dewa, di mana kalah pun adalah bagian dari jurus.” Ente kecewa? Ya, memang dari dulu sulit keluar dari kekecewaan.
Rosadi Jamani












