Jakarta, PBSN – Baru semalam Indonesia seperti baru menemukan tambang kebahagiaan. Timnas senior menang dua kali beruntun. Oman dihajar 3-0. Mozambique ditumbangkan 1-0. Ranking FIFA naik. Garuda Muda U-19 menyingkirkan Vietnam dengan skor 2-1. Malaysia juga ikut tersingkir. Media sosial berubah menjadi taman bermain nasional. Bahkan netizen yang biasanya bertengkar soal politik mendadak akur seperti kucing dan tikus yang sama-sama dapat warisan.
Malam itu rakyat tidur dengan senyum lebar. Ada yang bermimpi Ole Romeny mencetak gol ke gawang Argentina dan Perancis. Ada bermimpi Sony Sonjaya membeberkan 26 nama pengendali sesungguhnya MBG. Ada bermimpi koruptor mendadak mengembalikan seluruh uang negara dan membuka warkop Koptagul.
Sayangnya mimpi terakhir terlalu fiksi ilmiah. Pagi datang. Ayam belum selesai berkokok. Mata belum sepenuhnya terbuka. Grup WA ormas tiba-tiba meledak.
Pertamax naik. Dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Rakyat yang semalam teriak “Gooool Indonesia!” mendadak berubah menjadi “Astagaaa!”
Kalau kenaikannya dibuat tangga, ini bukan naik satu anak tangga. Ini seperti naik ke lantai tujuh tanpa lift sambil menggendong galon dan karung beras.
Yang langsung merasakan gempa berkekuatan 9,8 skala dompet, tentu para pemilik mobil yang memang wajib minum Pertamax. Bukan karena mereka sok kaya. Banyak kendaraan memang membutuhkan BBM dengan oktan tinggi agar mesin tidak ngelitik seperti kaleng kerupuk ditendang kambing.
Mobil seperti Toyota Innova, Fortuner, Honda CR-V, Pajero Sport, X-Trail, Camry, Accord, CX-5, HR-V, Civic Hatchback, Yaris 1.5, Jazz 1.5 dan kawan-kawannya memang lebih cocok menggunakan Pertamax. Mereka tidak sedang meminum kopi premium. Mereka sedang menjalani terapi kesehatan mesin.
Pace bayangkan, seorang bapak pemilik Innova Reborn. Semalam ia lompat dari sofa saat Indonesia mengalahkan Mozambique. Tetangga sampai mengira ada kebakaran.
Pagi harinya ia masuk SPBU. Petugas bertanya, “Isi penuh, Pak?” Bapak itu memandang langit. Mengingat cicilan. Mengingat uang sekolah anak. Mengingat harga cabai. Lalu menjawab lirih, “Setengah doa saja, wak.”
Belum lagi pemilik Fortuner dan Pajero. Biasanya mereka masuk SPBU dengan aura bos besar. Setelah melihat harga baru, auranya berubah menjadi peserta audisi pencarian bakat yang baru menerima kabar tidak lolos.
Korupsi yang sudah menjadi menu sarapan nasional pun ikut menambah rasa pedas. Di negeri ini, berita korupsi muncul lebih rutin dar jadwal azan. Bangun tidur korupsi. Siang korupsi. Malam korupsi. Kadang rakyat sampai hafal nama tersangka lebih cepat dari hafal nama menteri.
Maka lengkaplah paket penderitaan itu. Semalam rakyat diberi hiburan kelas dunia oleh Timnas. Pagi harinya diberi pelajaran matematika oleh harga BBM.
Kalau sebelumnya mengisi 40 liter Pertamax cukup sekitar Rp 492 ribu, sekarang perlu sekitar Rp650 ribu. Selisihnya bisa dipakai membeli beras, lauk seminggu, atau traktir satu geng ronda makan bakso sampai sendawa bersama.
Inilah negeriku, negeri ente, negeri kita, wak. Timnas berjuang mati-matian mengejar bola selama 90 menit. Rakyat berjuang mati-matian mengejar harga selama 24 jam. Garuda memang sedang terbang tinggi. Namun dompet sebagian rakyat terasa seperti layang-layang putus diterjang angin.
Seperti biasa, laga paling berat bukan melawan Oman, Mozambique, Vietnam, Malaysia, atau Australia. Melainkan melawan harga yang selalu punya jurus rahasia untuk mencetak gol ke gawang isi dompet rakyat.
“Bang, tak perlu khawatir, kitakan kelas pertalite, kadang beli eceran sama si Mat Bahlul.”
“Untungnya pertalite belum wak. Bagus kita ke warkop aja, seruput Koptagul agar selalu waras.” Ups
Rosadi Jamani






