Jakarta, PBSN – Timnas Indonesia sukses mengkandaskan Filipina 1-0 dalam Kejuaraan ASEAN U23 di SUGBK, baru saja. Dengan hasil ini, pasukan Gerald Vanenburg kokoh di puncak klasemen grup A dengan nilai 6. Tersisa satu laga lagi lawan Malaysia.
Kemenangan ini terasa hambar. Sebab, kemenangan bukan karena pemain kita membobol gawang Filipina, melainkan pemain Filipina lah yang membobol gawangnya sendiri, alias gol bunuh diri yang dicetak Jaime Rosquillo. Penonton patut berterima kasih pada pemain lawan ini. Mari simak ulasannya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Di malam sakral yang disinari lampu-lampu stadion seperti wahyu dari langit, Garuda Muda menulis puisi kemenangan dengan tinta absurd dan pena tak terduga. SUGBK bergemuruh, bukan karena gol cantik, bukan karena skill Ronaldo-esque, tapi karena Jaime Rosquillo. Ia pahlawan Filipina yang tanpa sengaja menjadi pahlawan sepak bola kita malam itu. Ia datang, ia melihat, dan ia membobol gawangnya sendiri. Air mata mengalir. Bukan air mata sedih, tapi air mata syukur. “Terima kasih ya Tuhan, ternyata engkau masih peduli sama sepak bola negeri ini,” kata seorang penonton sambil sujud syukur di kursi tribun ekonomi.
Babak pertama dimulai seperti ritual silat warisan leluhur, tegang, penuh jurus, dan entah kenapa bola seperti kerasukan makhluk halus. Jens Raven, pangeran Belanda pujaan emak-emak se-RT, tak diturunkan sejak awal. Mungkin Vanenburg ingin menyelamatkan jantung para penonton dari ledakan cinta. Hokky Caraka memimpin serangan seperti pendekar dengan tongkat sakti, tapi bola seperti ogah diajak kompromi. Guimaraes, kiper Filipina, menjelma menjadi penjaga gerbang Nirwana, setiap bola diusirnya dengan penuh dendam pribadi.
Stadion berubah jadi pasar malam emosional. Ada yang meniup TV, ada yang melempar sandal ke arah layar, bahkan ada kakek-kakek yang spontan mengusap kepala cucunya dengan minyak angin biar gol datang lebih cepat. Sampai akhirnya, menit 23 datang dengan angin suci dari utara. Rosquillo, dengan kesadaran penuh atau mungkin bisikan jin stadion, melakukan tendangan pembebasan, ke arah gawangnya sendiri. Bola meluncur masuk dengan elegan seperti burung camar menemukan rumah. Gol! Stadion meledak. Ibu-ibu pengajian tepuk tangan. Bapak-bapak warung kopi berdiri di atas meja. “Dia ini titisan Maradona!” teriak seorang mahasiswa filsafat.
Setelah gol tersebut, Filipina mencoba bangkit. Tapi percuma, pertahanan Indonesia dijaga oleh para satria garda sakti, Rudianto yang kakinya disebut-sebut bisa mendeteksi dosa pemain lawan, Pamungkas sang pemilik aura biru, Arel si penyembuh luka, dan Buffon, bukan yang di Italia, tapi yang lebih hemat kuota. Ardiansyah di gawang bahkan sempat tertangkap kamera membuka aplikasi e-commerce. Tapi saat bola mendekat, ia langsung berubah jadi singa lapar.
Babak kedua dimulai dengan air hujan dari langit. Tapi itu bukan sekadar hujan. Itu adalah restu semesta. Jens Raven akhirnya turun, dan riuh tribun berubah jadi konser boyband. Serangan demi serangan digelar seperti wayang kulit, tapi Filipina mempertahankan gawang seperti mempertahankan utang piutang keluarga. Raven berlari, Arkan menendang, Frengky masuk, Victor menggila, tapi gol tak kunjung datang. Sampai menit 93, ketika Noah Leddel menekel pemain kita seolah sedang balas dendam masa kecil. Dapatlah dia kartu kuning, sebagai penghargaan keberanian.
Pertandingan berakhir 1-0. Tapi angka itu tak menggambarkan seluruh keajaiban yang terjadi malam itu. Ini bukan sekadar laga sepak bola. Ini adalah drama spiritual. Ini adalah epos, kitab suci baru Garuda Muda. Rosquillo? Namamu akan dikenang dalam doa-doa kami, setidaknya sampai laga lawan Malaysia nanti.
Di laga sebelumnya, Malaysia mengamuk, melumat Brunei Darussalam dengan skor telak 7-1. Dengan hasil ini, Malaysia masih punya asa. Tersisa melawan tuan rumah, Indonesia. Laga ini paling ditunggu.
Rosadi Jamani











