Jakarta, PBSN – Penunjukan Ade Armando yang dikenal publik sebagai loyalis Jokowi menjadi Komisaris PLN Nusantara Power menuai polemik. Pengamat politik Adi Prayitno menilai, ramainya isu ini tak lepas dari sosok dia yang selama ini dikenal sebagai pembela utama rezim Jokowi.
“Ramainya penunjukan Ade Armando sebagai komisaris PLN Nusantara Power karena ia dikenal sebagai pendukung setia pemerintah. Banyak yang menilai jabatan ini adalah bentuk ganjaran atas loyalitas politiknya,” ujar Adi Prayitno melalui kanal YouTube-nya, dikutip PBSN, Sabtu,(5/7/2025).
Namun kata Adi, dalam sistem politik elektoral, hal semacam ini merupakan sesuatu yang wajar. “Dalam politik, para pendukung loyal yang berkontribusi besar pada kemenangan kandidat memang layak mendapatkan posisi kekuasaan, entah itu sebagai menteri, kepala lembaga, maupun komisaris,” ulasnya.
Namun, Adi juga mengkritisi fenomena pihak yang kalah dalam pemilu namun tetap meminta jatah kekuasaan. “Aneh jika yang kalah ikut menikmati jabatan. Budaya politik tahu malu seharusnya diterapkan; yang kalah sebaiknya menjadi oposisi,” tegasnya.
Selain soal loyalitas politik, penunjukan Ade Armando juga menuai pertanyaan terkait kompetensi. Latar belakang Ade sebagai dosen dan ahli komunikasi dinilai tidak relevan dengan dunia kelistrikan PLN.
“Publik mempertanyakan apakah jabatan komisaris harus sesuai keahlian teknis atau cukup bermodal akomodasi politik,” kata Adi.
Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini juga menyoroti penjelasan Ade Armando yang menyatakan tugasnya lebih pada memastikan akuntabilitas, integritas, dan komunikasi publik perusahaan. Namun, ia mempertanyakan urgensi peran tersebut di perusahaan pelat merah seperti PLN. “Yang paling penting adalah kinerja dan pelayanan maksimal kepada masyarakat,” ujarnya.
Adi menilai isu penunjukan komisaris seperti ini kerap lebih menarik perhatian publik dibanding isu-isu besar lain, seperti pemberantasan korupsi atau putusan Mahkamah Konstitusi.
Penunjukan Ade Armando sebagai Komisaris PLN Nusantara Power kini menjadi sorotan, dan publik pun menanti apakah langkah ini akan membawa perubahan positif bagi perusahaan maupun masyarakat luas.











