Empat Penyiram Air Keras Aktivis KontraS Ditangkap, Pelaku Oknum TNI

Hukrim, News201 Views

Jakarta, PBSN – Terpaksa kita pakai kata sakti itu lagi, oknum. Kata yang kalau sudah muncul, biasanya jadi selimut hangat bagi institusi, jadi bara panas bagi publik. Kali ini, “oknum”-nya bukan satu, bukan dua, tapi empat orang. Iya, empat. Oknum kok rame. Ini bukan oknum lagi, ini sudah hampir kuartet. Empat oknum TNI ditangkap sebagai pelaku penyiraman air keras ke tubuh Andrie Yunus, aktivis KontraS.

Kamis, 12 Maret 2026, Andrie Yunus dari KontraS baru saja menyelesaikan diskusi bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di YLBHI, Jakarta. Diskusi intelektual, penuh gagasan, mungkin sedikit pedas, tapi harusnya aman, di negara demokrasi, katanya. Namun realitas berkata, “Plot twist dulu, wak.”

Empat sosok muncul dengan koreografi nyaris sempurna. Dua motor, standby di sekitar KFC Cikini, mengintai sabar seperti pemburu profesional. Menunggu satu momen krusial: ketika korban berhenti isi BBM di SPBU. Lalu… byur! Air keras disiramkan dengan presisi yang bikin ngeri. Tanpa ragu, tanpa drama, tanpa dialog pembuka.

Dampaknya brutal. Luka bakar 24 persen di wajah, tangan, dada, dan mata. Paket lengkap penderitaan. Andrie pun harus dilarikan ke HCU RSCM. Ini menambah satu lagi daftar panjang tragedi air keras di negeri ini. Aromanya mengingatkan publik pada kasus Novel Baswedan, kisah lama yang belum sepenuhnya sembuh di ingatan kolektif.

Awalnya, penyelidikan oleh Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri terasa seperti nonton trailer misteri. “Pelaku diduga bukan warga sipil biasa.” Analisis puluhan hingga 86 rekaman CCTV dilakukan. Motif? Gelap. Pekat. Seperti sengaja diselimuti kabut.

Publik langsung bereaksi. DPR RI Komisi III ikut bersuara, tekanan meningkat. Bahkan Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pengusutan cepat dan objektif. Semua seperti menuju satu hal: kebenaran akan dibuka lebar.

Lalu datang pengakuan yang membuat suasana makin panas. Tanggal 18 Maret 2026, Mabes TNI bersama Puspom TNI menyatakan, keempat pelaku adalah oknum prajurit TNI. Ya, empat orang berseragam, dengan pangkat mulai dari Letnan, Kapten, hingga Serda. Saat ini mereka ditahan di Pomdam Jaya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Empat orang. Terlatih. Bergerak rapi. Eksekusi presisi. Kita diminta menyebutnya… oknum

Di titik ini, publik mulai mengernyit bukan lagi satu alis, tapi dua-duanya sekaligus. Karena di dalam tubuh militer ada satu konsep legendaris, sistem komando. Hierarki yang bukan sekadar formalitas, tapi fondasi. Prajurit biasanya tidak bergerak liar seperti karakter film improvisasi. Ada rantai perintah. Ada struktur. Ada kemungkinan, cerita ini lebih dalam dari sekadar “inisiatif pribadi”.

Pertanyaan pun menggantung di udara. Berat seperti awan sebelum badai. Apakah ini benar-benar aksi spontan empat oknum yang kebetulan kompak? Atau ada tangan lain, lebih tinggi, lebih sunyi, tapi lebih menentukan?

Di media sosial, teriakan publik menggema. “Usut sampai dalangnya!” “Jangan berhenti di bawah!” Nada sinis mulai bercampur dengan kelelahan kolektif. Karena kata “oknum” di negeri ini sudah terlalu sering muncul, seperti tombol reset yang selalu dipencet tiap krisis datang.

Sementara itu, TNI menyatakan proses akan transparan, siap bekerja sama, motif masih didalami. Kalimat yang terdengar profesional, rapi, dan, jujur saja, sudah sering kita dengar di episode-episode sebelumnya.

Sementara Andrie Yunus masih terbaring, melawan rasa sakit yang nyata, publik menghadapi rasa sakit yang lain, keraguan.

Apakah kasus ini akan benar-benar dikuliti sampai ke akar? Atau lagi-lagi berhenti di empat “oknum rame” yang siap dijadikan penutup cerita? Karena di negeri ini, yang membuat orang marah bukan cuma kejahatannya. Tapi pola yang terasa… itu-itu saja.

 

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *