Kiev, PBSN – Kalian masih ingat ucapan Presiden Prabowo pada Hari Koperasi ke-79, 12 Juli 2026? “Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang.” Ungkapan itu sepertinya langsung diamalkan delapan warga negeri ini. Mereka kabur lalu menjadi tentara bayaran Rusia. Benarkah? Simak narasinya.
Pada 30 Agustus 2026, sebuah video yang diunggah kanal YouTube “Baku Hantam” viral. Dua pria terlihat berada di lokasi tampak seperti parit pertahanan militer. Lengkap dengan perlengkapan perang, mereka malah menyanyikan Indonesia Raya.
Dengan semangat. Di parit. Di Ukraina. Nasionalisme memang tidak mengenal batas negara. Tetapi kalau sudah sampai garis depan perang, kita mulai bertanya, “Bang, ini merantau atau salah pilih lowongan?”
Video itu telah ditonton lebih dari 60 ribu kali. Warganet pun langsung berubah menjadi detektif internasional. Belum ada konfirmasi resmi, tetapi teori sudah beranak-pinak seperti ayam kampung.
Kemunculan video tersebut bertepatan dengan laporan Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina atau FISU pada 27 Agustus menyebut delapan WNI diduga direkrut menjadi tentara Rusia.
Delapan nama itu: Yuda Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, Ngangun Hudri Fadli, Syaripudin Muhammad, Maulana M Hadi, Iskandar Wahyu Oktavian, dan Helmi Nugraha Hakim. Menurut FISU, mereka diduga direkrut dengan iming-iming gaji besar, pekerjaan non-tempur, percepatan kewarganegaraan, dan tunjangan sosial.
Nah, di sinilah masalahnya. Lowongan katanya administrasi. Gaji katanya besar. Tugas katanya non-tempur. Tiba-tiba suasana kantor berubah menjadi, “Awas! Merunduk!”
Kemlu RI sendiri belum memastikan dua pria dalam video tersebut merupakan bagian dari delapan nama tadi. Pemerintah masih melakukan verifikasi melalui Perwakilan RI di Rusia dan lembaga terkait.
Ini penting. Karena video viral bukan akta kelahiran. Seragam militer bukan kartu identitas. Netizen bukan laboratorium forensik.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut perekrutan diduga dilakukan pihak ketiga. Modusnya, menawarkan pekerjaan sebagai satuan pengamanan atau tenaga administrasi bergaji besar. Sementara itu, TB Hasanuddin juga menyoroti faktor ekonomi dan keinginan memperoleh kewarganegaraan Rusia.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menegaskan Kedutaan Besar Rusia tidak melakukan perekrutan untuk Angkatan Bersenjata Rusia. Ia mengakui ada warga asing bergabung, tetapi keputusan tersebut merupakan tanggung jawab masing-masing individu.
Kasus ini mengingatkan publik pada Satria Arta Kumbara, mantan anggota TNI AL yang bergabung dengan militer Rusia. Ia dinyatakan desersi sejak 13 Juni 2022 dan kemudian dipecat tidak dengan hormat. Status kewarganegaraannya juga gugur sesuai ketentuan hukum.
Pelajaran besarnya sederhana. Kalau sedang mencari pekerjaan, baca baik-baik kontraknya. Kalau tertulis “security”, jangan sampai ternyata satpamnya menjaga tank. Kalau tertulis “administrasi”, jangan sampai administrasinya menghitung jumlah peluru.
Kalau ditawari “gaji besar”, jangan lupa bertanya, “Kerjanya di mana, Pak?” Kalau jawabannya Ukraina, sebaiknya cari lowongan lain. Sebab perang Rusia-Ukraina bukan tempat mencari pengalaman kerja. Itu bukan job fair. Itu war fair.
Kita tunggu hasil verifikasi pemerintah. Untuk sementara, identitas dua pria dalam video belum dikonfirmasi sebagai bagian dari delapan WNI yang disebut FISU. Jangan buru-buru menghakimi.
Namun ada satu ironi yang sulit dihindari. Disuruh mencari negara lain karena Indonesia dianggap suram, jangan sampai benar-benar pergi…lalu memilih negara yang sedang perang. Kalau Indonesia terasa gelap, tidak perlu langsung minggat. Cek dulu lampunya. Siapa tahu bukan negaranya suram. Token listriknya habis.
Rosadi Jamani











