Jakarta, PBSN – Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto) “menyentil” Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Amran disentil terkait Indonesia yang hingga kini masih mengimpor kedelai.
Menurut Titiek, Perum Bulog pernah memiliki program peningkatan produksi tiga komoditas utama, yaitu Padi, Jagung, dan Kedelai (Pajale).
“Coba dihidupkan kembali, supaya ke depan jangan impor 2,6 juta (ton). Itu malu, Pak. Kita makan tempe tahu, impor kedelai segitu,” kata Titiek saat rapat dengan Kementan di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, dikutip PBSN, Selasa (25/11/2025).
Lebih lanjut Titiek mempertanyakan mengapa Indonesia masih terus bergantung impor kedelai.
Titiek menilai, sebagian besar masyarakat Indonesia memakan tahu dan tempe mestinya kedelai jadi prioritas.
Menurut Titiek, kebutuhan kedelai 2,9 juta ton per tahun, produksi Indonesia cuma 300 ribu, 350 ribu, 400 ribu ton.
“Impor kita 2,6 juta ton, banyak sekali. Kalau dirupiahin berapa tuh? Banyak sekali, triliunan ya, Pak,” kata Titiek.
Titiek mengapresiasi pemerintah yang berupaya melakukan swasembada beras dan jagung. Ia pun mendorong hal itu terjadi pada kedelai.
Sementara, Amran Sulaiman menyampaikan rencana pemerintah meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri.
“Kedelai sudah ada 73 ribu, ada rancangan, Bu, tapi belum seperti, kami sudah ada pembahasan, kami sudah ratas dua kali, Bu, ada program tanah-tanah yang kita mau tanami itu sangat luas, tetapi kami nanti laporkan lagi setelah fix dananya, anggarannya, tetapi sudah 60-70 persen,” ujar Amran.
Sebelumnya, pasokan kedelai menjadi perhatian Prabowo Subianto. Namun, perhatian itu terkait pemenuhan bahan pangan untuk kebutuhan Makan Bergizi Gratis.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengatakan pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk memastikan pasokan bahan pangan untuk MBG tak menimbulkan inflasi di tengah masyarakat.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kedelai. Nanik menyebut setiap hari MBG membutuhkan 200-300 kilogram tahu-tempe.
“Itu juga nanti kalau kita tidak tanam kedelai sendiri, mungkin akan kekurangan juga. Kita ini baru 50 persen untuk MBG-nya,” kata Nanik dilansir Antara.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, pemerintah menyiapkan sistem terintegrasi mulai dari pakan ternak hingga peternakan di lahan 500 ribu hektare, dengan 200 ribu hektare di Jawa dan sisanya di luar Jawa.












