Tragedi Gen Z Nepal, 19 Nyawa Jadi Martir, Rezim Tumbang

Kathmandu,PBSN – Ini tulisan kedua saya soal tragedi berdarah di Nepal. Siapkan lagi kopinya tanpa gula, wak! Yang jantungan, disarankan jangan baca narasi ini.

Suara rakyat suara Tuhan, begitu kata pepatah kuno. Tapi siapa sangka, di Nepal 2025, pepatah itu berubah jadi malapetaka. Ketika rakyat marah, langit pun ikut retak, dan Tuhan menumpahkan murka-Nya lewat darah sembilan belas jiwa muda. Mereka bukan jenderal, bukan bangsawan, bukan penguasa, hanya anak-anak Gen Z yang selama ini dicap gabut, gamer, tukang rebahan. Ironisnya, justru generasi yang diremehkan itu yang menyalakan api revolusi.

Awalnya hanya keputusan konyol. Pemerintah memblokir 26 platform media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Tiktok, YouTube, semuanya. Alasannya terdengar manis, pajak digital, keamanan siber. Nyatanya, rakyat tahu itu hanya topeng murahan untuk menutupi korupsi dan membungkam suara. Sialnya, yang mereka blokir bukan sekadar aplikasi, tapi nadi kehidupan sebuah generasi. Ketika nadi itu diputus, generasi yang dianggap main-main pun benar-benar marah.

Kathmandu, Pokhara, Birgunj, kota-kota itu mendadak berubah jadi teater tragedi. Demonstrasi damai pecah jadi kerusuhan nasional. Gedung Parlemen Federal, kantor presiden, mahkamah agung, bahkan pengadilan antikorupsi, semua jadi korban amarah rakyat. Api melahap dokumen, arsip, simbol kekuasaan. Massa menyebutnya “pembersihan simbolik”. Mereka tak peduli lagi, karena institusi-institusi itu dianggap bukan pelindung rakyat, melainkan penjara kebebasan.

Darah pun tumpah. Sedikitnya 19 orang tewas. Mayoritas berusia 17 hingga 26 tahun, mahasiswa Universitas Tribhuvan, Kathmandu University, seorang jurnalis independen, dua perempuan, salah satunya aktivis digital yang berani menyerang “Nepo Kids.” Sebelas tewas di Kathmandu, ditembak di Durbar Marg dan Singha Durbar. Empat tewas di Pokhara ketika kantor pemerintah dibakar. Empat lagi meregang nyawa di Birgunj dan Janakpur dalam bentrokan dengan militer. Sebagian mati karena peluru tajam, sebagian lain terbakar hidup-hidup, atau sesak napas karena gas air mata di ruang tertutup.

Ironi semakin perih ketika Rajyalaxmi Chitrakar, istri mantan PM Jhala Nath Khanal, ikut jadi korban. Rumahnya di Dallu diserbu, ia dianiaya, lalu terbakar dalam kobaran api. Dibawa ke Kirtipur Burn Hospital, tapi maut lebih cepat menjemput. Sementara Khanal selamat hanya karena kebetulan tak ada di rumah. Tragedi ini mengoyak ilusi. Keluarga elite tak lagi aman ketika rakyat menjelma badai.

Lihatlah bagaimana para penguasa merespons. Perdana Menteri KP Sharma Oli kabur lewat helikopter dari rumahnya di Balkot yang dibakar massa. Presiden Ram Chandra Paudel mundur beberapa jam kemudian. Video pejabat kabur lewat atap gedung jadi bahan ejekan di media alternatif. “They fly, we die.” Meme, mural, grafiti lahir di setiap sudut kota, menertawakan elit yang terbang ke langit sementara rakyat mati di jalan.

Gerakan ini dinamai “Nepo Kids.” Simbol perlawanan terhadap gaya hidup mewah anak pejabat yang menari di atas uang rakyat. Gen Z menjadikan humor sebagai peluru, meme sebagai senjata, dan darah sebagai sumpah. Mereka membuktikan, meski media sosial diblokir, suara tak bisa dipenjara.

Malam di Nepal kini penuh mural, “19 Souls for Freedom.” Keluarga menolak pemakaman kenegaraan, menolak bendera menutupi peti mati, menolak sandiwara negara. Mereka hanya menuntut keadilan, penyelidikan independen, dan pengakuan bahwa anak-anak mereka mati bukan karena huru-hara, melainkan karena keberanian.

Pelajaran untuk negeri ini jelas. Jangan pernah anggap remeh generasi yang kalian cemooh. Mereka bisa berubah jadi badai dalam semalam. Jangan pernah menjadikan rakyat musuh, karena rakyat yang marah lebih berbahaya dari seribu pasukan. Jangan pernah lari ke langit dengan helikopter, sebab Tuhan tak memberi pintu darurat bagi penguasa yang dikhianati rakyatnya.

Nepal menulis tragedi ini dengan tinta merah darah. Semoga negeri lain membaca sebelum bab yang sama terulang.

Foto Ai, hanya ilustrasi saja.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *