Militer Canggih Saudi Ketemu Drone Yaman (Mengenal Houthi- Part 2)

Riyadh, PBSN – Kita lanjutkan kisah Houthi. Kalau Arab Saudi adalah negeri minyak, gurun, unta, dan gedung futuristik, Houthi adalah semacam gunung Yaman tiba-tiba belajar terbang. Masalahnya, gunung biasanya diam. Houthi tidak.

Setelah menguasai Sana’a dan sebagian besar Yaman utara, mereka berkembang menjadi kekuatan militer yang bukan cuma sibuk berperang di halaman rumah sendiri. Mereka mulai memiliki kemampuan rudal dan drone membuat negara-negara sekitar harus rajin melihat langit.

Perang sejak 2015 pun tidak menghasilkan kemenangan cepat bagi koalisi pimpinan Saudi. Tahun 2022 terjadi gencatan senjata meredakan pertempuran besar. Namun Houthi tetap menguasai Sana’a dan sebagian besar wilayah utara.

Lalu sekarang? Drama naik episode. Dalam eskalasi terbaru, Houthi bergerak ke wilayah pesisir Laut Merah dan menguasai titik-titik strategis, termasuk Mocha dan kawasan sekitar Bab el-Mandeb.

Nah, ini yang bikin dunia mendadak duduk tegak. Bab el-Mandeb bukan selokan depan rumah. Ini selat menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, jalur perdagangan dan energi internasional.

Kalau Houthi memegang kawasan ini, persoalannya bukan lagi sekadar, “Yaman ribut.” Melainkan, “Lho, kok pintu lalu lintas dunia ikut dipegang?”

Sekitar 10–12 persen perdagangan maritim global pernah disebut melewati kawasan Laut Merah–Bab el-Mandeb, meski volume aktual berubah mengikuti pengalihan kapal akibat konflik.

Metaforanya begini, Arab Saudi punya minyak seperti punya bensin satu gudang. Houthi berada dekat pintu jalan menuju pom bensin dunia. Tidak perlu memiliki semua minyak untuk membuat pasar gelisah. Cukup bikin pintunya terasa tidak aman.

Atau begini, Saudi mandar-mandir jual minyak di depan rumah Houthi, hanya nonton. Nah, mereka tak mau gitu lagi, minta jatah preman. “Sekarang, boleh lewat, asal piti dulu,” kira-kita begitu uda, ups.

Lebih menarik lagi, kekuatan Houthi tidak mudah dihitung. Kelompok itu tidak pernah mengumumkan angka resmi personel militernya. Perkiraan sangat berbeda. Ada laporan sekitar 100.000–120.000 personel terlatih, ada estimasi sekitar 200.000, sementara penilaian PBB yang lebih luas menyebut sekitar 350.000 personel tempur.

Kenapa angkanya seperti nomor undian? Karena Houthi bukan tentara konvensional dengan daftar pegawai lengkap seperti Nama, NIP, Golongan, Tanggal pensiun. Strukturnya lebih fleksibel. Mobilisasi bisa diperbesar ketika perang membutuhkan.

Kemudian ada faktor suku. Yaman adalah salah satu masyarakat paling kesukuan di dunia Arab. Diperkirakan terdapat sekitar 200–400 suku, dengan struktur sosial sangat dipengaruhi jaringan kesukuan.

Dua konfederasi besar di Yaman utara adalah Bakil dan Hashid. Houthi berkembang di lingkungan sosial seperti ini dan berhasil menggabungkan jaringan agama, keluarga, suku, dan kekuatan militer.

Jangan heran kalau Houthi tidak bisa dibaca hanya dengan kacamata “milisi”. Ia lebih mirip rajutan karpet Yaman. Tarik satu benang, benang lain ikut bergerak. Lalu, Arab Saudi? Kerajaan itu memiliki keunggulan teknologi dan sumber daya luar biasa. Tetapi perang menunjukkan satu hal sering dilupakan oleh negara kaya, yakni uang bisa membeli pesawat, tetapi tidak otomatis membeli kemenangan di setiap gunung.

Ironinya, negara terkenal dengan minyak harus menghadapi kelompok dari salah satu negeri termiskin di kawasan. Di sinilah politik internasional mulai terasa seperti warkop. Kemarin bilang musuh. Hari ini membuka jalur komunikasi. Besok mungkin bertemu di meja diplomasi sambil pura-pura tidak pernah saling kirim rudal.

Geopolitik memang begitu. Teman bisa berubah menjadi lawan. Lawan bisa berubah menjadi tamu. Tetapi kepentingan hampir selalu datang lebih dulu dari undangan. Tunggu part 3-nya. (Bersambung)

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *