Riyadh, PBSN – Nama Houthi beberapa hari terakhir mendadak seperti suara sendok jatuh di ruang sidang, ting! Semua orang menoleh. Pengetahuan publik secara umum, Houthi itu didukung Iran. Houthi itu Syiah. Benarkah demikian? Inilah tentang Houthi yang saya tulis dalam tiga sesi (part).
Arab Saudi, negeri minyak, gurun, unta, dan gedung pencakar langit, dibuat harus menghitung ulang dari mana datangnya gangguan. Sementara dari Yaman, negeri gunung, kopi, dan konflik berkepanjangan, muncul gerakan yang membuat peta Timur Tengah seperti taplak meja ditarik mendadak.
Tapi siapa Houthi? Jangan kira mereka baru kemarin sore menemukan drone lalu berkata, “Wak, kita perang yuk!” Tidak. Akarnya panjang.
Houthi berasal dari komunitas Zaidi, cabang Syiah secara doktrin memiliki kedekatan cukup kuat dengan Sunni. Basis historisnya berada di Yaman utara. Kaum Zaidi pernah membangun pemerintahan imam bertahan berabad-abad sampai revolusi 1962 menggulingkan kekuasaan tersebut.
Setelah itu, posisi komunitas Zaidi berubah dalam politik Yaman. Masuk 1990-an, muncul gerakan Believing Youth atau Pemuda Mukmin, dipimpin Hussein Badreddin al-Houthi. Nama Houthi mulai muncul di sini. Awalnya bukan pasukan rudal. Kegiatannya pendidikan agama, sosial, dan kepemudaan.
Pendek kata, mulanya lebih mirip majelis pemuda. Tetapi politik Yaman punya bakat mengubah majelis menjadi medan perang.
Hussein kemudian semakin keras mengkritik Presiden Ali Abdullah Saleh yang dianggap terlalu dekat dengan Amerika Serikat. Perang Irak 2003 memperbesar ketegangan. Slogan anti-Amerika dan anti-Israel menguat.
Pada 2004 pemerintah Yaman berusaha menangkap Hussein. Perang pecah. Hussein tewas pada September 2004. Namun, kalau pemerintah Saleh mengira masalah selesai setelah pemimpinnya mati, sejarah rupanya sedang tertawa di belakang pintu.
Kepemimpinan diteruskan oleh adiknya, Abdul-Malik al-Houthi. Perang berlanjut dalam enam putaran konflik antara 2004 dan 2010. Bahkan pada 2009–2010 Houthi sudah bentrok langsung dengan militer Saudi.
Artinya, sebelum dunia sibuk menghitung drone mereka, Houthi sudah bertahun-tahun belajar bagaimana perang bekerja. Mereka belajar dari gunung. Gunung punya satu kelebihan, sulit dipindahkan.
Yaman utara menjadi laboratorium konflik. Suku, agama, politik, ekonomi, dan senjata bercampur seperti kopi Yaman dalam cangkir tidak pernah selesai diaduk.
Lalu datang 2011. Musim Semi Arab (Arab Spring) mengguncang pemerintahan Saleh. Hadi naik menggantikan Saleh. Tetapi ekonomi memburuk, korupsi menjadi persoalan, negara melemah.
Houthi membaca kekosongan itu. Pada September 2014 mereka menguasai Sana’a. Januari 2015 mereka mengambil kompleks kepresidenan. Hadi melarikan diri ke Saudi. Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk melawan Houthi.
Di sinilah babak baru dimulai. Kerajaan minyak bertemu gerakan gunung. Yang satu punya pesawat. ang satu punya medan. Yang satu punya teknologi. Yang satu punya pengalaman perang.
Perang, seperti kopi pahit, ternyata tidak bisa diselesaikan hanya dengan melihat harga cangkirnya. Nantikan part keduanya lebih seru. (bersambung)
Rosadi Jamani






