Jakarta, PBSN – Pukul 09.59. Amerika belum sempat menarik napas. Dua menara World Trade Center masih terbakar. Di dalamnya, ribuan manusia masih berusaha menyelamatkan diri. Di luar gedung, hampir 1.000 petugas pemadam kebakaran telah dikerahkan, sekitar setengah dari seluruh petugas pemadam kebakaran yang bertugas di New York.
Ini adalah operasi terbesar dalam sejarah FDNY. Di dalam Menara Utara, para petugas masih bekerja. Mereka naik puluhan lantai. Peralatan dibawa masing-masing bisa mencapai 30 kilogram.
Tangga menjadi jalan satu-satunya karena lift rusak akibat hantaman pesawat. Mereka naik. Sementara ribuan orang turun. Satu kelompok menuju bahaya. Kelompok lain berusaha melarikan diri dari bahaya.
Lalu terdengar suara. Mula-mula seperti suara kereta yang melintas jauh di atas kepala. Semakin keras. Semakin dekat. Kemudian, Bruuuummm!
Menara Selatan runtuh. 56 menit setelah dihantam pesawat. Gedung pencakar langit itu seperti kehilangan tulang-belulangnya sendiri. Lantai demi lantai ambruk. Beton, baja, kaca, meja, komputer, kendaraan, dan segala sesuatu yang beberapa menit sebelumnya merupakan bagian dari kehidupan manusia berubah menjadi awan debu raksasa.
Reporter Kristen Shaughnessy sedang melaporkan langsung melalui telepon. Tiba-tiba seorang agen FBI berteriak, “Anda harus pergi atau Anda akan mati!”
Tidak ada waktu bertanya. Tidak ada waktu memastikan. Mereka berlari. Debu mengejar dari belakang. Orang-orang tersandung. Sebagian jatuh. Namun di tengah kepanikan itu, masih ada manusia berhenti untuk membantu orang lain berdiri.
Sebuah kota sedang runtuh. Tetapi rasa kemanusiaan belum ikut runtuh. Di Menara Utara, Joe Pfeifer melihat lobinya mendadak gelap. Gelap total. Bahkan tangannya sendiri tak terlihat. Saat itulah ia mengambil keputusan yang mungkin paling berat dalam hidupnya, para petugas harus ditarik keluar.
Masalahnya, masih ada lebih dari 1.000 orang di dalam gedung. Tidak lama kemudian, helikopter kepolisian mengitari Menara Utara. Laporan dari udara mengerikan, 15 lantai teratas merah membara. Sudut bangunan mulai melengkung. Gedung akan runtuh.
Polisi memperingatkan petugas di bawah. Tetapi pesan itu tidak sampai. Pemadam kebakaran dan polisi menggunakan frekuensi radio berbeda. Peringatan maut itu gagal menyeberang.
Lalu datang pukul 10.28. Menara Utara, Runtuh.
Dalam tragedi World Trade Center, 343 petugas pemadam kebakaran tewas. Hari yang beberapa jam sebelumnya begitu cerah berubah menjadi gelap gulita. Lower Manhattan tertutup debu. Radio mendadak sunyi. Jalanan penuh puing. Sepatu berserakan. Di antara reruntuhan itu, manusia berjalan seperti hantu.
Lebih dari 2.700 orang tewas akibat runtuhnya menara. Angka itu belum terasa seperti angka. Sebab di balik setiap angka ada seseorang. Ada ayah, ibu, anak, teman, rekan kerja. Ada orang pagi tadi berangkat dengan rencana pulang sore. Tetapi sore itu tidak pernah datang bagi mereka.
Sementara New York berubah menjadi kuburan raksasa, satu pesawat masih membuat para pengontrol lalu lintas udara ketakutan. United Airlines Flight 93. Transpondernya telah dimatikan. Pesawat berbalik arah. Dugaan kuat, menuju Washington D.C.
Di dalam pesawat, terjadi perlawanan. Para penumpang dan awak mengetahui, mereka bukan sekadar penumpang dalam penerbangan biasa. Mereka memahami kemungkinan terburuk. Mereka memilih melawan.
Pukul 10.03, Flight 93 jatuh di sebuah lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania. Pesawat tidak mencapai targetnya. Ada 33 penumpang dan 7 awak tewas, bersama 4 teroris. Total 44 orang di dalam pesawat itu tidak pernah sampai ke tujuan.
Tetapi tindakan mereka diyakini mencegah pesawat mencapai sasaran direncanakan. Ada tragedi. Ada keberanian. Ada manusia tahu dirinya mungkin mati, tetapi tetap memilih melawan.
Sementara itu, Amerika belum memiliki kendali penuh atas langitnya sendiri. Sekitar pukul 09.40, FAA menutup wilayah udara Amerika Serikat. Semua pesawat diperintahkan mendarat di bandara terdekat. Sekitar 4.500 pesawat masih mengudara dan menerima perintah sama.
Pesawat militer dikerahkan untuk mencegat pesawat yang tidak mematuhi instruksi. Pesan darurat dikirim ke seluruh penerbangan. Kunci pintu kokpit. Sedang ada pembajakan. Terapkan tingkat keamanan tertinggi.
Amerika yang biasanya menguasai langit kini justru menyuruh seluruh pesawatnya turun. Ironisnya luar biasa. Negara adidaya. Langitnya ditutup.
Di Washington, kepanikan meledak. Pentagon sudah dihantam. Pukul 09.37, American Airlines Flight 77 menabrak Pentagon, simbol kekuatan militer Amerika Serikat.
Sebanyak 125 orang tewas di dalam Pentagon, ditambah 64 orang yang berada di pesawat. Kantor-kantor pemerintahan kacau. Orang berlari. Banyak sepatu tertinggal di trotoar. Wakil presiden dan pejabat tinggi turun ke bungker.
Namun bungker hanya mampu menampung beberapa orang. Jalanan macet. Kota tidak tahu harus berbuat apa. Muncul kekhawatiran akan serangan gas atau serangan berikutnya. Pertanyaannya bukan lagi, “Apakah Amerika diserang?” Pertanyaannya berubah menjadi, “Di mana mereka akan menyerang berikutnya?”
Kelima? Keenam? Ketujuh? Tidak ada yang tahu.
Presiden George W. Bush? Ia berada di dalam Air Force One. Terputus dari dunia. Telepon berkali-kali terputus. Informasi dari darat tidak lengkap. Tidak ada televisi satelit seperti sekarang. Secret Service belum yakin apakah aman bagi presiden untuk kembali ke Gedung Putih.
Bush ingin pulang. Tetapi keamanan berkata belum. Pesawat harus terus terbang. Mereka siap berada di udara berhari-hari jika diperlukan. Air Force One mampu mengisi bahan bakar di udara.
Nuan bayangkan situasinya, wak. Presiden Amerika berada di pesawat paling aman. Tetapi justru tidak tahu apakah negaranya masih aman.
Pada akhirnya pesawat Presiden didaratkan di Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Louisiana. Petugas keamanan turun dengan perlengkapan tempur lengkap dan senapan mesin. Bukan pemandangan normal untuk menyambut Air Force One.
Iring-iringan kendaraan melaju cepat menuju markas komandan pangkalan. Presiden akhirnya menerima gambaran lebih lengkap tentang tragedi terjadi ketika ia berada di udara.
Sementara para jurnalis menyalakan ponsel, puluhan pesan suara masuk. Ada menelepon ayah, ibu, keluarga. Mereka punya tugas meliput sejarah. Tetapi mereka juga manusia.
Hari itu Amerika kehilangan rasa aman. New York kehilangan dua menara. Pentagon kehilangan bagian dari bangunannya. Keluarga kehilangan orang-orang mereka cintai. Ada 343 petugas pemadam kebakaran gugur. Lebih dari 2.700 orang tewas akibat runtuhnya menara. Ada 125 orang tewas di Pentagon, 64 orang di Flight 77 ikut menjadi korban, 33 penumpang dan 7 awak Flight 93 tewas bersama 4 pembajak.
Secara keseluruhan, tragedi 11 September kemudian dikenang sebagai serangan yang menewaskan hampir 3.000 orang, di luar 19 pembajak.
Tetapi hari itu belum selesai. Matahari belum benar-benar tenggelam. Amerika masih harus mencari siapa pelakunya. Siapa merancang semuanya? Mengapa sistem keamanan gagal? Mengapa informasi dimiliki lembaga intelijen tidak menghentikan mereka?
Pertanyaan paling besar, apa yang akan dilakukan Amerika setelah ini? Jawabannya segera datang. Bukan sekadar penyelidikan. Bukan sekadar penangkapan. Bukan sekadar pidato. Tetapi sesuatu yang jauh lebih besar, PERANG.
Ketika Amerika memilih perang, dunia bersiap memasuki babak baru jauh lebih panjang. Babak berikutnya akan membawa CIA, Afghanistan, Taliban, al-Qaeda, Patriot Act, penjara rahasia, invasi Irak, dan sebuah pertanyaan kelak menghantui Amerika sendiri. Apakah perang benar-benar membunuh terorisme, atau justru melahirkan lebih banyak teroris? (bersambung).
Rosadi Jamani





