TERKAIT PENYERANGAN KANTOR MUI, DIN SYAMSUDDIN MINTA POLISI UNGKAP MOTIF PELAKU

Hukrim261 Views

Jakarta – Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berada di Menteng, Jakarta Pusat diduga diserang oleh orang tak dikenal pada Selasa siang (2/5/23).

Penyerangan diduga dilakukan dengan cara menembak ke arah kantor MUI.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Komarudin membenarkan adanya penyerangan tersebut. Namun demikian, pihaknya masih mendalami kasus penembakan ini.

“Benar (ada penembakan), tapi ini masih kita dalami semua,” kata Komarudin seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL.

Sementara itu, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta aparat kepolisian mengungkap motif pelaku penembakan di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tersebut.

“Kepada Polri harus mampu menangkap pelakunya dan mengungkap siapa dalang yang bermain di balik layar,” ujar Din Syamsuddin.

Meskipun, Din menyayangkan pelaku penembakan tersebut tidak dapat diinterogasi karena meninggal atau dianggap gila.

“Kok orang-orang gila bisa beramai-ramai merusak tempat ibadah ya?” cetusnya.

Mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat ini menduga, pelaku penembakan di kantor tempat berkumpulnya para alim ulama se-Indonesia itu sudah terpapar Islamofobia. Pasalnya, tindakan menyasar kantor lembaga (MUI).

Hal itu, menurut Din, akan mudah dipahami sebagai bermotif kebencian terhadap MUI atau Islam.

“Maka jelas Islamofobia itu ada dan nyata,” tuturnya.

Namun begitu, Din menyebut tindakan berupa penyerangan atau perusakan terhadap masjid/musala atau tokoh Islam seperti yang terjadi di beberapa tempat terakhir ini dapat dipersepsikan sebagai tindakan sistematis dan tendensius.

Sebab, kejadian serupa pernah terjadi berentetan jelang Pemilu atau Pilpres 2019, tapi tidak pernah ada pengungkapan yang jelas.

“Waktu itu, Mabes Polri hanya menyatakan pelakunya ada orang-orang gila,” kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Din menambahkan, kejadian-kejadian seperti itu mengingatkan peristiwa berdarah pada tahun 1965 silam. Kala itu sering terjadi perusakan masjid dan musala, serta penyerangan terhadap ulama dan zuama.

“Seperti masa itu, kita pun sekarang merasa living years dangerously atau hidup pada tahun-tahun bahaya,” tandasnya.

(Red/Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *