Jakarta, PBSN – Satu per satu tikus got gorong-gorong di Kantor BGN dikerangkeng. Tersangka baru, Asep Yusuf Somantri, kaki tangan dari Sony Sonjaya sudah dijebloskan. Sambil menunggu Timnas U19 vs Australia, nikmati drama BGN ke-18.
Asep Yusuf Somantri, tak masuk dalam daftar 26 nama yang dinyanyikan Sony Sonjaya. Ia sosok yang menurut Kejagung, orang kepercayaan Sony “Malaikat” Sonjaya. Sony yang selalu berucap “Demi Allah” orang super bersih dan jujur, pemain penting di balik layar. Sementara Kang Asep ini diduga seperti operator remote control, mondar-mandir mengatur kanal sesuka hati.
Menurut penyidik, Asep mendapat tugas langsung dari Sony untuk mencari dan memfasilitasi mitra pelaksana Program MBG, sekaligus mengurus titik-titik SPPG atau dapur sentral. Sampai di sini masih terdengar seperti pekerjaan biasa.
Terungkap, portal pendaftaran resmi titip SPPG sudah ditutup. Normalnya, kalau pendaftaran ditutup ya selesai. Sama seperti kondangan. Kalau pengantin sudah pulang dan bersiap gituan, lalu tenda dibongkar, tamu baru tidak bisa datang sambil berkata, “Saya kenal sepupu fotografer.”
Tapi menurut dugaan Kejagung, justru setelah portal ditutup, permainan baru dimulai. Asep diduga mengintervensi tim verifikator. Mitra yang sudah dinyatakan lolos dan disetujui bisa dibatalkan. Yang sudah siap menjalankan program bisa dicoret.
Lalu masuklah pihak-pihak tertentu yang menjadi klien kesayangan meskipun masa pendaftaran sudah lewat. Ini bukan lagi pintu belakang. Ini sudah seperti menemukan gerbang rahasia menuju Narnia yang hanya bisa dibuka dengan password “orang dalam.”
Dapur-dapur seharusnya menjadi tempat lahirnya menu bergizi bagi anak-anak. Nyatanya, mendadak menjadi papan monopoli raksasa. Titik dipindah. Nama dicoret. Pemain diganti. Semua bergerak seperti bidak catur yang diduga dikendalikan dari belakang layar.
Kalau tuduhan ini terbukti di pengadilan, yang terjadi bukan sekadar pelanggaran administrasi. Ini seperti lomba lari 100 meter, pemenangnya sudah ditentukan sebelum pistol start ditembakkan.
Belum habis rasa pusing rakyat, muncul lagi dugaan yang membuat alis naik ke ubun-ubun. Setelah mengatur urusan mitra dan dapur, Asep diduga memberikan uang secara melawan hukum kepada Sony Sonjaya.
Nah, di sinilah aroma masakan berubah. Yang tadinya rakyat berharap mencium aroma ayam, telur, susu, dan sayuran bergizi, yang tercium justru aroma transaksi. Program yang dibuat untuk anak-anak Indonesia malah diduga menjadi ladang bagi permainan para pemburu proyek.
Pada 6 Juni 2026, Kejagung resmi menetapkan Asep Yusuf Somantri sebagai tersangka. Ia langsung ditahan di Rutan Salemba cabang Kejari Jakarta Selatan selama 20 hari. Pasal yang dikenakan bukan pasal main-main: Pasal 12 huruf a dan b UU Tipikor serta Pasal 605 ayat (2) dan Pasal 606 KUHP.
Asep menjadi tersangka keempat dalam perkara yang sudah berkembang seperti serial Netflix tanpa tanda-tanda tamat. Sebelumnya sudah ada nama Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung.
Yang membuat rakyat marah bukan sekadar jumlah tersangkanya. Melainkan pola ceritanya. Program negara. Orang kepercayaan. Akses khusus. Pengaturan proyek. Dugaan suap. Lalu tersangka. Polanya begitu berulang sampai-sampai lebih hafal dari lirik lagu “Saya Tak Kenal Sony.”
Kini Kejagung menyebut kemungkinan masih ada tersangka baru. Bahkan, Sony Sonjaya dikabarkan berpotensi menjadi justice collaborator dengan membawa daftar nama yang konon tidak pendek.
Kalau memang ada daftar itu, buka saja semuanya. Karena rakyat sudah terlalu kenyang oleh janji pemberantasan korupsi, tetapi terlalu sering kelaparan melihat hasil akhirnya.
Ironisnya, program ini bernama Makan Bergizi Gratis. Faktanya, Maling Berkedok Gizi. Saat banyak SPPG tutup, tak terdengar anak-anak kelaparan. Justru yang kelaparan para maling uang rakyat secara berjamaah ini. Si Nanik, bos BGN terbaru, masih ngeles di depan wartawan. Ia masih mengaku orang paling bersih di skandal ini. Tunggu episode ke-19 tentu lebih dramatis.
Rosadi Jamani











