New Jersey, PBSN – Ini tulisan kedua terkait kedigdayaan Spanyol menjadi tim terkuat di muka bumi. Sepanjang laga, hanya sekali kebobolan, sekali seri. Selebihnya semua dimenangkan dengan ciamik. Berikut ini perjalanan The Matador memuncaki World Cup 2026. Simak narasinya.
Kalau ada bilang negara terkuat di muka bumi itu ditentukan oleh jumlah rudal nuklir, kapal induk, atau cadangan emas, sebaiknya ia menonton ulang final Piala Dunia 2026. Setelah Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 di New York New Jersey Stadium (MetLife Stadium) lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106, teori geopolitik dunia langsung berubah. Pentagon belum mengeluarkan pernyataan, NATO masih rapat, tetapi netizen sudah sepakat, negara terkuat di muka bumi sekarang bernama Spanyol. Bukan karena tanknya, melainkan karena bola mereka bikin satu planet kehilangan akal.
Argentina datang sebagai juara bertahan, peringkat satu FIFA, membawa tiga bintang di dada, dipimpin Lionel Messi yang sudah mengoleksi delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen. Di atas kertas, La Albiceleste seperti bos terakhir dalam permainan video. Namun, di hadapan La Roja, mereka mendadak seperti pemain lupa membawa stik.
Sejak peluit Slavko Vincic berbunyi, Spanyol menguasai bola seperti pemilik kos menguasai kunci gerbang. Argentina hanya mengejar-ngejar bayangan. Emiliano Martinez berubah menjadi tembok hidup dengan 11 penyelamatan, rekor terbanyak dalam sejarah final Piala Dunia. Kalau bukan dia menjaga gawang, mungkin papan skor sudah minta pensiun di babak pertama.
Yang lebih ajaib, Argentina tidak mencatat satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-117. Unai Simon di gawang Spanyol nyaris menganggur. Ada teori konspirasi menyebut kiper Spanyol sempat membuka aplikasi wisata New York, memesan kopi, lalu kembali berdiri karena bola belum juga datang. FIFA tentu membantah. Namun, alien dari Planet Saturnus kabarnya masih menyelidiki rekaman CCTV galaksi.
Petaka Argentina semakin lengkap ketika Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua menjelang akhir waktu normal. Bermain dengan sepuluh orang melawan Spanyol sama seperti melawan banteng Pamplona sambil memakai sandal jepit. Berani boleh, selamat belum tentu.
Lalu datang menit ke-106. Pedro Porro mengirim umpan silang, Nico Williams menyundul, Ferran Torres menyambar bola ke sudut atas gawang. Emiliano Martinez akhirnya tak berdaya. Saat bola menyentuh jaring, konon satelit komunikasi sempat kehilangan sinyal tiga detik karena terlalu banyak orang berteriak. NASA tidak memberi komentar. Badan Antariksa Eropa juga memilih diam. Sikap diam mereka justru membuat teori konspirasi makin berkembang. Jangan-jangan memang seluruh planet sedang ikut menonton final.
Di stadion, puluhan ribu pendukung Spanyol langsung berubah menjadi festival berjalan. Lautan merah bergoyang tanpa aba-aba. Lagu “Yo Soy Español” menggema sampai burung-burung di atas Manhattan memilih putar balik. Ada menangis sambil memeluk orang yang baru dikenalnya lima detik. Ada mencium syal berkali-kali seolah itu surat warisan. Bahkan ada mengangkat replika banteng Pamplona lebih tinggi dari trofi.
Di tanah Spanyol, suasananya jauh lebih gila. Plaza de Cibeles di Madrid berubah menjadi lautan manusia. Air Mancur Cibeles nyaris tak terlihat karena tertutup ribuan pendukung bernyanyi semalaman. Las Ramblas di Barcelona penuh sesak. Flamenco ditarikan oleh orang yang sebelumnya tidak bisa membedakan kaki kanan dan kiri. Kembang api menghiasi langit Sevilla, Valencia, Bilbao, hingga Zaragoza. Balkon-balkon dipenuhi bendera merah-kuning. Klakson mobil berbunyi tanpa ritme, tetapi semua menganggapnya simfoni nasional.
Konon, Sagrada Familia hampir selesai dibangun malam itu karena para pekerja mendadak memperoleh tenaga tambahan dari kebahagiaan kolektif. Patung Don Quixote dikabarkan ingin turun dari kudanya untuk ikut arak-arakan. Banteng-banteng Pamplona pun memilih libur sehari. Mereka merasa tugas menanduk sudah diambil alih Timnas Spanyol.
Perjalanan La Roja menuju gelar memang seperti mesin diesel tua. Awalnya batuk-batuk. Mereka ditahan 0-0 oleh Tanjung Verde. Netizen langsung menyimpulkan Spanyol salah masuk grup. Namun setelah itu semuanya digilas. Arab Saudi dibantai 4-0, Uruguay dikalahkan 1-0, Austria dihajar 3-0, Portugal dipulangkan 1-0, Belgia ditundukkan 2-1, satu-satunya gol yang bersarang ke gawang mereka sepanjang turnamen, Prancis disingkirkan 2-0, lalu Argentina menjadi korban terakhir.
Statistik mereka seperti hasil ujian siswa yang terlalu rajin. Delapan pertandingan hanya kebobolan satu gol, enam clean sheet sebelum final, 4.592 operan dengan 4.156 tepat sasaran, serta memperpanjang rekor menjadi 38 pertandingan tanpa kekalahan sejak menjuarai EURO 2024. Luis de la Fuente yang berusia 65 tahun membuktikan uban ternyata bukan tanda pensiun, melainkan antena yang langsung tersambung ke satelit kemenangan.
Kini teori konspirasi baru bermunculan. Ada bilang alien memilih belajar tiki-taka sebelum menyerbu Bumi. Ada pula yakin Piala Dunia sebenarnya menjadi ajang seleksi peradaban paling maju di galaksi. Bukti pertama sudah terlihat. Spanyol membawa pulang trofi dunia kedua mereka. Bukti kedua? Sampai hari ini belum ada satu pun makhluk luar angkasa yang berani menantang La Roja. Mungkin mereka sadar, kalau The Matador sudah menggenggam bola, bukan cuma lawan yang kalah. Hukum alam pun ikut menepi.
Rosadi Jamani






