Jakarta, PBSN – Ini bukan soal pejabat yang sering dijadikan ATM berjalan oleh APH. Kali ini soal anak berbakat sering dijadikan mesin uang oleh keluarganya. Mari simak sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Farel Prayoga. Nama itu sempat mengguncang jagat Indonesia lebih kencang dari gempa batin mantan yang ditikung sahabat sendiri. Bocah kecil, bersuara emas, tampil di Istana Negara, nyanyi “Ojo Dibandingke” dengan penuh penghayatan, bikin Presiden senyum, ibu-ibu histeris, dan netizen merasa terhibur sejenak sebelum kembali ke realita, hidup mahal, bensin naik, dan ternyata anak juga bisa dikuras sampai ke sumsum.
Kita kira hidup Farel seindah warna-warni lampu panggung. Tapi ternyata, di balik cahaya glamor itu, tersembunyi lorong gelap bernama “keluarga yang terlalu kreatif.” Farel ngamen sejak usia 8 tahun. Bukan karena iseng, bukan karena hobi, tapi karena kalau nggak ngamen, nggak makan, nggak bayar utang. Ya, betul. Anak kecil ini dijadikan tulang punggung rumah tangga, bukan metafora, tapi literal, punggungnya dijadikan papan cicilan keluarga.
Lebih sadisnya lagi, di umur 8 tahun, Farel baru tahu bahwa sosok perempuan yang tiap hari menyuapi nasi dingin dan kata-kata panas itu bukan ibu kandung, tapi ibu tiri. Seperti dongeng klasik, ibu tiri ini bukan Cinderella edition, dia lebih mirip karakter horor lokal versi hemat. Farel dilarang tidur di rumah karena wajahnya mirip ibu kandung. Mukanya dianggap terlalu menyakitkan untuk dipandang, seolah-olah dosa genetika itu bisa dihukum pakai sapu lidi.
Kemudian datang fase kesuksesan. Lagu viral. Mangkal di panggung ke panggung. Tampil di layar TV. Dipuji, dielu-elukan. Dalam tiga tahun, penghasilannya diduga tembus Rp 10 miliar. Angka yang cukup untuk beli rumah, buka usaha, atau minimal belikan Farel kasur empuk dan pendidikan layak. Tapi apa yang didapat? Suatu hari dia mau beli minuman di minimarket. Buka ATM. Saldonya tinggal Rp 56 ribu. Enam digit ke bawah. Lebih murah dari sempak diskonan.
Ia panik. Tanya ke keluarga. Dibalas tuduhan: “Kamu boros!” seolah-olah bocah 13 tahun itu habis foya-foya di Las Vegas atau nyicil jet pribadi. Farel pun minta maaf. Bukan karena salah, tapi karena terlalu sopan. Terlalu baik untuk menyadari bahwa dirinya sedang dirampok secara emosional dan finansial oleh darah daging sendiri.
Beberapa minggu kemudian, bom waktu meledak. Kakak perempuannya bongkar fakta, uang Farel dipakai buat beli kuda buat si abang, dan tanah atas nama keluarga. Semua transaksi dilakukan tanpa sepengetahuan sang pemilik sah uang, anak yang bahkan belum bisa buka rekening sendiri. Mereka saling tutup mulut. Satu keluarga, satu misi, sikat sampai bersih. Farel hanya duduk di tengah badai, bertanya-tanya, siapa sebenarnya penjahat dalam hidupnya?
Kini, ia hidup di Jakarta. Sekolah di Al-Azhar Cibubur. Biaya hidup ditanggung manajernya, orang asing yang lebih manusiawi dari kerabat sedarahnya. Ia bangkit. Pelan-pelan. Seperti anak ayam yang pernah dilempar dari kandang, kini mencoba mengepakkan sayap lagi. Mungkin belum bisa terbang tinggi, tapi setidaknya, ia tidak lagi tidur di emperan rasa kecewa.
Kisah ini bukan cuma soal uang. Tapi tentang bagaimana keluarga bisa jadi institusi paling suci sekaligus paling manipulatif. Kalau cinta sudah dicampur target pemasukan, maka anak bukan lagi anugerah, tapi komoditas ekspor domestik.
Jangan heran jika generasi masa depan dipenuhi anak-anak trauma yang tak ingin punya anak lagi. Karena mereka tahu, jadi anak itu… bisa lebih melelahkan dari jadi orang tua.
Lalu apa moralnya?
Jangan pernah ajari anakmu kerja keras kalau hasilnya hanya untuk memuaskan kerakusanmu. Jangan ajari mereka menabung, kalau kamu yang mengurasnya. Dan tolong, jangan beli kuda pakai harapan anak kecil.
Karena pada akhirnya, anak bukan mesin. Mereka bukan pencetak uang. Mereka adalah masa depan, yang kalau dirusak sekarang, akan mencetak masa depan penuh dendam.
Jika suatu hari nuan sakit tua, lalu anakmu tak datang menengok, jangan cari mereka di panti jompo. Coba cek di halaman belakang, mungkin mereka sedang beli kuda. Pakai uang mereka sendiri.
Selamat Hari Anak Nasional
Rosadi Jamani












