Melancong ke Jakarta, Dua Warga Brunei Adu Mulut Berujung Maut, Satu Tewas

Hukrim, Sosial263 Views

Jakarta, PBSN – Brunei Darussalam selama ini terkenal sebagai negeri yang bersih, tenang, adem, dan nyaris tanpa drama. Negara ini saking kalemnya, kalau ada daun jatuh mungkin langsung dibahas rapat kerajaan. Orang Indonesia memandang Brunei seperti negeri dongeng. Rakyat sejahtera, sultan tajir, jalan mulus, dan kriminalitas mungkin cuma sebatas sandal hilang di masjid.

Tapi semua berubah sejak dua warga Brunei mendarat di Jakarta.

Entah karena jet lag, efek ibu kota, atau kebanyakan lihat lampu Blok M, dua warga Brunei malah terjebak dalam kisah yang level absurdnya seperti sinetron ditulis netizen habis minum kopi sachet tiga bungkus. Bukannya pulang bawa oleh-oleh, malah pulang jadi berita kriminal internasional.

Polda Metro Jaya mengungkap seorang warga Brunei berinisial MIA (33) diduga menganiaya sesama warga Brunei berinisial MHF (30) hingga meninggal dunia. Penyebabnya? Adu mulut saat mabuk.

Nah ini luar biasa

Karena di Brunei, alkohol itu haram. Bukan haram level “jangan sering-sering.” Ini haram level “jangan macam-macam, bosku.” Tapi beginilah manusia. Kadang sesuatu yang dilarang justru bikin penasaran seperti bocah lihat tombol merah bertuliskan “Jangan Dipencet.”

Begitu ketemu alkohol di Jakarta, otak langsung check out dari tubuh

Menurut polisi, pelaku mengaku berada di bawah pengaruh minuman keras. Alkohol memang cairan ajaib. Air putih bikin sehat. Susu bikin tulang kuat. Kopi bikin melek kerja. Tapi alkohol? Alkohol bisa membuat manusia merasa dirinya gabungan Bruce Lee, Conor McGregor, dan ketua geng parkiran minimarket.

Jam kejadian juga sangat mendukung kekacauan. Peristiwa terjadi pukul 03.30 WIB di kawasan Blok M. Itu jam ketika manusia normal sudah tidur, sementara manusia yang hidupnya penuh keputusan buruk masih berkeliaran sambil bilang, “Santai aja bro, gua masih sadar.”

Padahal matanya sudah dua server berbeda

Awalnya korban dan pelaku adu mulut. Ini khas sekali umat manusia. Mulut kecil, efeknya bisa sampai masuk penjara. Dari debat receh berubah jadi tragedi. Yang dipakai memukul juga bikin dunia kehilangan akal sehat, paper bag berisi botol kaca.

Paper bag biasanya dipakai buat bawa roti, hadiah ulang tahun, atau barang diskon. Tapi di tangan manusia mabuk, paper bag berubah jadi senjata DLC premium. Mungkin paper bag itu sendiri kaget. “Aku lahir untuk membawa croissant, bukan menghantam kepala orang.”

Korban sempat dirawat selama 10 hari di RSPP sebelum akhirnya meninggal dunia pada 16 Mei 2026. Tragis. Semua bermula dari emosi yang naik lebih cepat daripada harga cabai dan kuota internet.

Polisi akhirnya menangkap pelaku di Kebayoran Lama setelah melakukan penyelidikan mendalam. Encik bayangkan betapa bingungnya petugas ketika harus menjelaskan kasus ini.

“Motif?”
“Mabuk.”
“Senjata?”
“Paper bag.”
“Dari mana?”
“Brunei.”

Ini bukan episode kriminal biasa. Ini seperti perpaduan drama ASEAN, komedi gelap, dan tutorial “cara menghancurkan hidup dalam semalam.”

Kasus ini sekaligus membuktikan satu hal penting. Manusia kalau sudah mabuk, paspor, status sosial, dan asal negara mendadak tidak berguna. Mau dari negara paling religius, paling kaya, atau paling damai sekalipun, kalau otak sudah direndam alkohol dan ego, hasilnya bisa seperti karakter game yang tombol kontrolnya rusak.

Jakarta akhirnya cuma bisa geleng kepala. Brunei mungkin juga ikut menghela napas panjang sambil berkata, “Astaga… baru juga keluar negeri.”

“Mestinya warga Brunei tu melancong ke Pontianak saja, dijamin bahagia, Bang.”

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed