Washington DC, PBSN – Setelah hampir sejuta nyawa melayang, saatnya bicara damai. Trump sangat getol mendamaikan perang Rusia vs Ukraina. Berikut ini progres terkini upaya mendamaikan dua negara berjiran itu. Kopi jangan lupa, wak!
Perang Rusia–Ukraina sudah berjalan lebih lama dari umur cicilan motor sebagian warga Indonesia. Setiap kali ada kabar “upaya damai”, rakyat dunia berharap seperti nonton sinetron Ramadan, episode terakhir bakal bahagia, semua tokoh tobat, lalu peluk-pelukan di bawah bulan purnama. Nyatanya? Drama ini lebih mirip One Piece, tak ada habisnya, tokoh makin banyak, jalan cerita makin absurd.
Donald Trump tampil bak dalang wayang golek. Ia mengutus Keith Kellogg, yang katanya “bekerja sangat keras” menyulam damai. Katanya, dalam dua minggu dunia bakal lihat hasil. Tapi baru empat hari, upaya itu sudah lebih berantakan dari resep kue gagal di TikTok. Trump ingin jadi juru selamat, tapi gaya diplomasi ala acara reality show sulit menyaingi kalkulasi dingin ala KGB.
Dari sisi Moskow, Sergey Lavrov menabuh genderang. Ukraina wajib netral, jangan coba-coba masuk NATO, jangan punya senjata nuklir, dan harus rela dititipkan kepada “penjaga keamanan” besar dunia. Intinya, Rusia ingin Ukraina seperti anak kos. Boleh tinggal di rumah, asal tak boleh bawa teman, tak boleh renovasi, dan harus izin dulu kalau mau pasang WiFi.
Sementara itu, Presiden Zelenskyy bagai pahlawan sinetron. Penuh luka, tapi tetap muncul tiap episode dengan janji “akan dorong Rusia menuju damai.” Baru-baru ini ada pertukaran tahanan, 146 orang ditukar, seperti barter ayam dengan kambing di pasar malam. Zelenskyy juga menegaskan siap bertemu Putin, meski mungkin pertemuan itu bakal seabsurd acara Debat Capres, penuh teriakan tanpa solusi.
Eropa pun tak mau ketinggalan. Dari Berlin sampai Brussels, mereka merancang “coalition of the willing.” Istilah keren untuk sebuah geng internasional yang katanya siap menjaga keamanan Ukraina. Bedanya dengan Avengers? Avengers minimal punya Hulk, sedangkan koalisi ini masih ribut, siapa yang mau keluar duit, siapa yang mau kirim pasukan. Iron Man pun pasti geleng-geleng kepala.
Di meja diplomasi, NATO baru-baru ini melakukan “candid discussion” alias ngomong blak-blakan, tentang jaminan keamanan. Tapi jaminan keamanan di sini terdengar seperti asuransi, premi mahal, klaim sulit. Eropa bilang siap bantu, tapi jangan sampai rakyatnya marah karena harga gas melonjak.
Kalau ditarik ke filsafat, perdamaian ini ibarat kucing mengejar ekor sendiri. Semua pihak bilang “kami mau damai,” tapi masing-masing punya syarat yang lebih panjang dari kontrak kredit mobil. Rusia maunya Ukraina tunduk, Ukraina maunya Rusia minggat, Trump maunya dapat piala Nobel Perdamaian, Eropa maunya tetap hangat di musim dingin. Dunia menonton dengan seruput kopi tanpa gula, berharap episode berikut lebih menarik.
Begini, wak! Kalau semua janji itu ditulis di langit, bintang-bintang bakal ketutupan. Kalau semua syarat itu ditulis di batu, Himalaya bakal jadi bukit kecil.
Namun, ada hikmah di balik absurditas ini. Perang mengajarkan bahwa manusia selalu pintar menciptakan alasan untuk saling baku hantam, tapi selalu gagap mencari alasan untuk duduk bersama. Perdamaian itu mahal bukan karena biaya, tapi karena ego tiap pihak lebih tebal dari tembok Kremlin.
Apakah damai akan datang? Mungkin. Tapi dengan gaya sinetron, cliffhanger tak berkesudahan, penonton terus penasaran, dan produser, dalam hal ini politisi dunia, senang karena rating tetap tinggi.
Selamat menunggu episode selanjutnya dari opera epik bernama “Upaya Damai Rusia–Ukraina”. Jangan lupa siapkan cemilan, karena jalan menuju damai bisa jadi lebih panjang dari antrean haji.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar












