Giliran Australia Dihantam Demo Besar

Canberra, PBSN – Saya tidak tahu apakah terinspirasi dari Indonesia, yang jelas Australia sedang dilanda demo besar. Rakyat negeri tetangga itu sedang menggoyang pemerintahnya sendiri. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Agustus dan September 2025 sah jadi bulan suci demonstrasi. Dari Jakarta yang panas dengan teriakan mahasiswa, ke Serbia yang meledak oleh flare merah, lalu Nepal yang melahirkan nenek 73 tahun sebagai perdana menteri karena generasi Z mendobrak rezim, hingga Prancis yang berubah jadi opera bakar tempat sampah. Semuanya seolah gladi resik untuk pertunjukan besar. Hari ini, giliran Australia yang maju ke panggung absurd dunia.

Sabtu, 13 September 2025, dua belas kota serentak mendidih. Adelaide, Brisbane, Cairns, Canberra, Darwin, Hobart, Grafton, Katoomba, Mackay, Melbourne, Perth, dan Sydney. Spanduk raksasa berkibar, “Australia Unites Against Government Corruption” dan “National Day of Action Against Racism & Fascism.” Massa turun ribuan, jalanan penuh drum bekas, poster, dan flare merah. Melbourne jadi pusat tontonan dengan panggung teatrikal The Koala Tribunal, seekor boneka koala didudukkan sebagai hakim agung, mengetok palu, dan menjatuhkan vonis, pemerintah bersalah atas korupsi, rasisme, serta menaikkan harga susu. Publik pun histeris. Sebagian selfie, sebagian menangis, sebagian bingung ini demo atau karnaval seni kontemporer.

Tapi Australia lebih suka drama dari satu jalan lurus. Di balik kerumunan anti-rasis dan anti-fasis, muncul kelompok tandingan. Massa anti-imigrasi yang berteriak sekeras meriam karbit Pontianak. Mereka membawa poster “Keep Australia Pure” sambil melotot seperti figuran film Mad Max. Bentrokan verbal pun pecah. Dari satu sudut jalan terdengar “Solidarity forever!”, dari seberang jalan terdengar “Send them back!” Bola kata-kata memantul bagai pertandingan tenis Wimbledon, sementara polisi hanya berdiri seperti wasit yang kehabisan peluit.

Canberra jadi panggung diaspora. Mahasiswa Indonesia ikut turun, dengan poster nyeleneh, “Reset Australia, Reset Indonesia” dan “Solidarity Knows No Borders.” KBRI Canberra panik, merilis hotline darurat +61 450 475 094, nomor yang mendadak lebih sakti dari cheat code di video game. Pemerintah Australia? Mereka tersenyum kaku di layar TV, tetap bilang “situasi terkendali,” padahal yang terkendali hanyalah lalu lintas meme yang menyebar lebih cepat dari kebijakan. Konon ada menteri yang sembunyi di kantor dengan selimut kanguru, ada yang pura-pura studi banding ke Tasmania demi menghindari kamera.

Demo ini bukan sekadar keramaian, tapi filsafat jalanan. Demokrasi terbukti mirip wifi publik, semua bisa akses, tapi gampang diretas dan sering putus. Melawan korupsi ibarat membasmi rayap, kau tepuk satu, jutaan lain tertawa di balik tembok. Menolak fasisme sama seperti debat dengan kucing. Hasilnya nihil, tapi kalau tidak dicoba, seluruh rumah bisa dirampas ketololan. Dua kubu yang saling teriak hari ini sebenarnya sedang mempertontonkan pertarungan ideologi global, solidaritas multikultural melawan ketakutan nasionalis.

Australia pun menjadi miniatur bumi. Satu sisi penuh harapan, sisi lain penuh paranoia. Di tengah-tengah, seekor koala hakim imajiner mengelus dagu, bingung mau mengetok palu ke arah mana. Dunia terbelalak. Sebab yang terjadi bukan sekadar protes, melainkan final Piala Dunia demo, lengkap dengan flare, poster, dan drama tumpah ruah di aspal. Dari Indonesia ke Serbia, dari Nepal ke Prancis, hingga Australia, September ini adalah musim panen protes global. Dan hanya di benua kanguru, sejarah akan menulis, demokrasi diselamatkan bukan oleh parlemen, melainkan oleh rakyat dengan drum bekas, diaspora dengan poster nyeleneh, dan seekor boneka koala yang berani mengadili pemerintah.

Foto Ai, hanya ilustrasi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *