Donald Trump Mulai Ngancam Indonesia

Washington DC, PBSN – Gara-gara masuk BRICS, Indonesia mulai dipandang Donald Trump sebagai “musuh.” Si rambut jagung itu mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya, tarif. Negeri kekuasaan Prabowo ini diancam tarif 32 persen. “Sebesak itu, wak? Si mulut terompet benar-benar manas itu,” kata Matasam, kawan setia ngopi. Untuk lebih jelasnya, ikut narasi ini sambil seruput kopi.

Trump yang baru saja melancarkan Midnight Hammer Operation ke Iran ini, memang pebisnis sejati. Setelah ia mengancam Indonesia dengan tarif tinggi. Lalu, ia memberikan solusi. Ibaratnya gini, wak! “Saya akan cabut tarif itu, asalkan Indonesia mau ngikut tiga permintaan.”

Intinya, Indonesia, kalau kamu mau tarif impor 32% dihapus, ada syarat-syarat cinta yang harus dipenuhi. Cinta yang tak butuh bunga, tapi pabrik. Tak butuh janji manis, tapi pasar bebas. Tak butuh rasa, cukup tunduk.

Syarat pertama: bangun pabrik di Amerika. “Tidak akan ada tarif kalau you produksi langsung di tanah kami,” tulis Trump. Sebuah logika bisnis gaya ninja, kamu mau jualan di rumah saya, maka harus tidur di garasi saya, masak di dapur saya, dan jangan lupa siram tanaman depan rumah tiap pagi. Trump bahkan menjanjikan izin kilat hanya dalam hitungan minggu. Di Indonesia, izin begitu cepat hanya bisa ditemukan dalam mimpi pengusaha warteg. Tapi inilah AS, negeri yang katanya demokratis tapi suka mengancam pakai tarif seperti rentenir nagih cicilan rice cooker.

Syarat kedua: buka pasar Indonesia untuk produk AS. Trump merasa pasar kita terlalu tertutup. Padahal, tiap hari kita sudah dijejali burger, sereal manis, dan parfum yang baunya seperti bensin bercampur vanila. Apakah belum cukup? Apakah Indonesia harus mengizinkan ekspor boneka Barbie bersenjata atau jeans robek harga lima juta? Trump ingin pintu kita dibuka selebar-lebarnya, bahkan jendela belakangnya sekalian. Dia ingin ekspor Amerika masuk seperti debu saat kita tidur, halus, diam-diam, dan tiba-tiba bikin alergi.

Syarat ketiga: hapus semua hambatan tarif dan non-tarif. Kalau perlu, hapus juga hambatan psikologis. Menurut Trump, defisit dagang AS itu ibarat luka batin yang tak kunjung sembuh. Bayangkan, wak! Amerika, negara dengan ekonomi 25 triliun dolar, bisa ngambek karena Indonesia untung 6,42 miliar dolar dari ekspor. Padahal itu baru dari Januari sampai April 2025. Barang kita? Ya itu-itu juga, mesin elektrik, alas kaki, dan baju-baju keren yang katanya dicuri model New York dari Pasar Tanah Abang.

Tentu saja Indonesia tak tinggal diam. Menko Airlangga Hartarto segera terbang ke Washington DC, mungkin sambil bawa lumpia Semarang dan batik Pekalongan untuk meluluhkan hati si pemilik rambut jagung itu. Diplomasi digelar, negosiasi dimulai, tapi sohibnya Benyamin Netanyahu ini tetap bergeming. “Tunduk, atau tarif naik,” katanya dengan gaya Caesar. Maka para ekonom pun berteriak. diversifikasi pasar! Jangan hanya andalkan Paman Sam, masih banyak paman lain di dunia ini, Paman Lee, Paman Modi, Paman Ho, bahkan Paman Kim. Paman siapa lagi ya, kok lupa, wak!

Inilah dagang versi abad 21. Bukan soal harga dan kualitas, tapi soal siapa yang lebih keras menggertak. Pria yang suka membully Zohran Mamdani ini, bukan hanya berdagang, dia sedang kampanye, bahwa dalam dunia kapitalisme, yang kuat menindas dengan sopan, yang lemah harus pintar pura-pura bahagia.

Amerika Serikat seolah bilang, “Kami tidak memeras. Kami hanya memberi pilihan. Ikut aturan kami, atau tarif naik seperti harga cabai waktu Lebaran.”

Ini bukan sekadar perang dagang. Ini adalah panggung teater absurd. Negara besar minta negara berkembang untuk menanam modal, membuka diri, dan membungkus semua itu dengan senyuman diplomatik… demi menyelamatkan hasrat kapitalisme yang lapar akan martabak telur.

Selamat datang di era baru, era dagang dengan air mata.

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *