Yusrizal Karana | Penulis
Sekretaris Satupena Indonesia Provinsi Lampung
Lampung, PBSN – Gerakan Rakyat, hari ini usianya genap satu tahun. Kalau dalam hitungan politik Indonesia, setahun itu kira-kira satu episode sinetron, yang bisa bercerita dengan penuh air mata, dan kadang juga jeda iklan. Namun yang jelas, satu tahun itu cukup untuk membuktikan bahwa Gerakan Rakyat bukan hanya kumpulan relawan atau “kombatan perang” Pemilu 2024 yang belum rela untuk menurunkan bannernya.
Gerakan Rakyat itu lahir dari suasana pasca-kontestasi pemilihan presiden. Suasana di mana bagi sebagian orang masih terasa seperti hujan yang belum reda. Ada yang masih menyimpan kaus kampanye untuk tidur, ada yang menyimpan harapan, tapi ada juga yang menyimpan nomor WhatsApp relawan, karena mungkin saja berguna lagi untuk lima tahun ke depan.
Nama Anies Rasyid Baswedan tentu tak bisa dipisahkan dengan alur cerita ini. Ia bukan sekadar hadir sebagai anggota kehormatan, tapi seperti sumbu yang membuat jarum kompas menjadi lebih terarah. Ia cukup berdiri di tengah percakapan dan tak perlu harus selalu berdiri di depan.
Selama setahun ini, Gerakan Rakyat seperti sedang memanaskan mesin. Tidak terlalu berisik tapi cukup terdengar. Dari Sabang sampai merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Meskipun mereka tahu, Pemilu 2029 tidak digelar besok pagi, tapi juga bukan seabad lagi. Dalam dunia politik, waktu itu sangat relatif—kadang terasa cepat, kadang lama seperti antrean minyak goreng zaman Jokowi.
Sedangkan Anies tetap dengan ciri khasnya: tenang, sejuk, narasinya tertata, metaforanya kadang membuat kita harus berpikir dua kali. Pengkritiknya menyebut itu strategi. Pendukungnya menyebut itu berkelas, tapi saya menyebutnya itu bahan tulisan.
Ketika menghadiri Rakernas I, beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Sahrin Hamid, ketua umum Gerakan Rakyat, yang kini sudah bermetamorfosis menjadi partai politik. Kami ngobrol santai, tidak terlalu formal. Karena kalau politik dibahas sambil tegang, asam lambung bakal naik.
Kami bangga punya ketua umum yang cerdas, dengan cara berpikir yang runtut dan tidak grusa-grusu. Rasanya seperti melihat versi lain dari Anies Baswedan: analitis, tenang, dan penuh pertimbangan.
Di Jakarta, konsolidasi Gerakan Rakyat berjalan rapi sampai ke daerah-daerah. Rapat digelar, struktur dibentuk, tema-tema besar pun diapungkan. Mulai dari isu keadilan ekologis sampai keadilan sosial. Kita yang mengikuti perkembangan dinamika sosial politik Tanah Air kadang ikut berpikir serius, walau dalam hati masih memikirkan cicilan yang belum lunas.
Di Lampung, denyut Gerakan Rakyat terasa hingga ke lapisan bawah. Ia tumbuh dari warung kopi, dari balai desa, dan dari lapangan yang keras, bukan dari ruangan berpendingin udara. Hampir seluruh kabupaten dan kota telah terbentuk struktur organisasi, bahkan menjalar sampai ke kecamatan-kecamatan. Surat validasi dari pemerintah setempat pun sudah dikantongi, menandai bahwa Gerakan Rakyat bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata.
Kerja senyap itu tak lepas dari keuletan duet ketua dan sekretaris DPW, Andi Surya dan Firmansyah. Keduanya bagaikan mesin yang tak mengenal tombol jeda. Dari menyusun agenda rapat, merapikan barisan, konsolidasi, hingga memastikan pesan Jakarta sampai ke grassroots. Semuanya digerakkan secara terukur dan ritme yang konsisten.
Informasi disebarkan secara masif, melalui pertemuan-pertemuan langsung yang hangat dan membumi. Bukan dengan gegap gempita berlebihan. Dari obrolan kecil itu lalu muncul simpul-simpul dukungan, pelan tapi pasti, menjadikan Gerakan Rakyat kian dikenal dan diterima masyarakat.
Tak kenal hujan, tak kenal panas, siang dan malam mereka merambat dari satu kabupaten ke kota lain. Kadang saya jadi khawatir, jangan-jangan kedua orang ini lupa jalan pulang. Tapi begitulah cara sebuah gerakan besar dibangun dengan waktu, tenaga, pikiran, dan risiko jarang ketemu keluarga.
Begitu juga dengan Koordinator Wilayah Lampung Ratna Dewi, seorang wanita tangguh yang tak kenal kata lelah. Seakan Jakarta – Lampung hanya berjarak selemparan batu untuk mengurus Gerakan Rakyat.
Dari momentum satu tahun Gerakan Rakyat ini, kita berharap semoga langkah yang sudah dirintis dengan keringat itu tidak berakhir sebagai hanya catatan sejarah. Dan semoga Dewi Fortuna kembali ke pelukan Gerakan Rakyat yang sejak awal menjemputnya bukan dengan euforia tapi dengan kerja nyata.
Karena memang dalam dunia politik, kerja keras itu penting, pengorbanan itu juga wajib, tapi sedikit sentuhan takdir yang ramah kerap kali menjadi pembeda antara gerakan yang sekadar ramai… dan gerakan yang benar-benar menuju kemenangan. uraaa…!
Bandar Lampung, 27 Februari 2026






