RAKYAT BERTANYA, KAPAN PEOPLE POWER? JOKOWI MUNDUR ATAU DIMAKZULKAN?

Opini337 Views

Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
Advokat

Catatan Orasi Perayaan Hari Ulang Tahun Mega Bintang

Ahad, 11 Juni 2023 atas izin Allah SWT akhirnya penulis bisa memenuhi undangan dari Pak Mudrick Setiawan Malkan Sangidu, pendiri Mega Bintang. Sebelumnya, penulis menginap semalam di kediaman Abi Mudriq Al Hanan, untuk transit dan istirahat sebelum menghadiri acara perayaan ulang tahun Mega Bintang ke-26 di Solo.

Dalam acara tersebut, setiap pembicara hanya diberi waktu sekira 7 menit, jadi mirip kultum. Maklum, karena banyaknya Narasumber yang dihadirkan sehingga pemandu acara begitu ketat membatasi waktu.

Dalam kesempatan yang singkat tersebut, penulis menyampaikan beberapa pandangan sebagai berikut:

Pertama, soal suasana kebatinan yang menghinggapi segenap elemen anak bangsa yang prihatin, cemas dan gelisah sekaligus marah. Penulis meyakini, rasa ini bukan hanya dirasakan oleh segenap narasumber dan peserta yang hadir, tapi juga segenap rakyat Indonesia.

Prihatin, melihat kondisi bangsa yang kian terpuruk. Ada yang mendeskripsikan dengan bahasa halus melalui ungkapan ‘Indonesia sedang tidak baik-baik saja’.

Tapi dalam sambutannya, Pak Mudrick Setiawan Malkan Sangidu mengungkapkan Indonesia dalam kondisi bobrok, rusak, kacau, dan itu disebabkan karena Jokowi.

Cemas dan gelisah, karena sejatinya kita tidak mewarisi negeri ini dari para founding fathers. Melainkan, kita mendapatkan amanat dari anak cucu kita, untuk menjaga Indonesia agar sampai pada mereka.

Jangan sampai, anak cucu kita kelak tidak mendapatkan Indonesia dan hanya mendapatkan Indonesia sekedar cerita. “Oh dulu, kakek moyang kita memerdekakan Indonesia, tapi ada generasi kakek moyang kita yang berkhianat, sehingga kita tidak mendapatkan warisan Indonesia. Kita menjadi kuli dan budak di negeri yang sudah dikuasai oleh asing dan aseng”.

Marah, karena selain kerusakan sistem, semua yang menimpa negeri ini juga tak lepas dari ulah Jokowi. Sudahlah merusak negeri ini, Jokowi malah bernarasi cawe-cawe Pilpres demi kebaikan bangsa. Darimana logikanya? Bukankah, justru karena andil Jokowi, yang hampir dua periode memimpin negeri ini, Indonesia malah menjadi rusak, bobrok, dan kacau balau?

Kedua, Kesadaran kondisi faktual, kesadaran akan kerusakan yang menimpa negeri ini dalam berbagai dimensinya. Politik, ekonomi, budaya, hukum, moral, kekayaan alam, kerusakan lingkungan, dan masih banyak lagi.

Bukankah, realitas praksis tersebut memantik kita semua sebagai bangsa yang berakal, untuk berfikir dan berupaya memperbaiki kondisi negeri ini? Apakah kita – akan diam berpangku tangan -setelah melihat berbagai kerusakan terjadi- diujung hidung dan mata kita?

Ketiga, semua itu membutuhkan resolusi perbaikan, jalan keluar untuk menyelamatkan bangsa. Nah, dalam konteks itulah penulis menyampaikan poin yang ke-empat.

Ke-empat, apakah solusi itu harus Pemilu atau people power? Atau adakah jalan lain, melalui dakwah misalnya? Sebagaimana Rasulullah Saw yang konsisten melakukan perbaikan dengan dakwah, hingga Allah SWT turunkan pertolongan dan kemenangan?

Nah, dalam kesempatan yang singkat tersebut penulis menyampaikan pandangan bahwa semua peta jalan perubahan tidak boleh diabaikan atau dianggap remeh.

Yang meyakini Pemilu dan Pilpres sebagai jalan perubahan, meyakini tokoh yang dianggap akan membawa perubahan, boleh saja mengambil jalan itu. Tapi tanpa mengabaikan Pemilu bisa saja digagalkan, atau Capres yang dijagokan akan hilang dari kertas suara karena desain oligarki.

Sehingga, tak boleh mendelegitimasi upaya perubahan melalui jalan rakyat. Termasuk melalui jalan People Power.

People power ini sebenarnya jalan pamungkas. Kalau saja DPR mau menggunakan hak angket, menyelidiki ijazah JOKOWI apakah asli atau palsu, sebab terakhir putusan Banding Gus Nur menyatakan kabar bohong ijazah palsu dianulir PT Semarang. Hakim Tinggi Semarang telah membatalkan putusan hakim Pengadilan Negeri Surakarta, soal kabar bohong ijazah palsu Jokowi.

Kalau DPR memeriksa ijazah palsu Jokowi, yang tak pernah ada aslinya di pengadilan, yang putusan kabar bohongnya telah dibatalkan Pengadilan Tinggi Semarang, maka rakyat tak perlu people power. DPR RI cukup menjawab pertanyaan rakyat, kapan Jokowi dimakzulkan? Atau bisa saja, Jokowi mundur sebelum dimakzulkan.

Dan terakhir, jalan dakwah. Yang menempuh jalan Pemilu, Pilpres atau People Power, juga tak boleh nyinyir dengan yang menempuh jalan dakwah. Yang menyiapkan segala perangkat perubahan yang utuh dan menyeluruh, dari konsepsi ide, pemikiran, fiqrah, thariqoh, hingga bagaimana mengaplikasikan ide perubahan dalam tataran praksis.

Semuanya penting, semuanya punya peran, semuanya harus saling bersinergi bukan malah saling mendelegitimasi. Pada akhirnya, kita semua butuh solusi untuk masa depan bangsa ini, dan sebagai umat Islam kita semua tentu butuh syariat Islam.

Itulah, sedikit sarah tambahan. Mengingat, jika diutarakan secara detail dalam pemaparan, khawatir waktu penulis lebih dari 7 menit dan mendapatkan peringatan dari moderator.

Sukses selalu untuk Mega Bintang, semoga Pak Mudrick Setiawan Malkan Sangidu tetap sehat dan panjang umur. Tetap Gass Poll dalam berjuang, terus menginspirasi arus perubahan ditengah-tengah umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *