Purbalingga, PBSN – Videonya viral, seorang wasit sepakbola dikejar ratusan penonton. Lalu, digebukin beramai-ramai. Seandainya itu koruptor, satu kampung ikhlas sumbang bogem mentah.
Di Desa Wirasaba, Purbalingga, Kamis sore (30/7/2026), sepak bola kembali membuktikan dirinya bukan sekadar olahraga. Ia bisa berubah menjadi drama, thriller, film aksi, bahkan dokumenter satwa liar dalam waktu kurang dari lima menit.
Laga antara Andalas melawan Adipasir awalnya berjalan normal. Bola masih bundar. Rumput masih hijau. Penonton masih manusia. Semua tampak damai. Tidak ada tanda-tanda, beberapa menit kemudian lapangan sepak bola akan berubah menjadi arena audisi film kejar-kejaran.
Lalu datanglah makhluk paling berbahaya dalam sejarah sepak bola amatir.
Keputusan wasit. Wasit Ridho Bekti dianggap merugikan salah satu tim. Protes muncul. Suara meninggi. Emosi mendidih. Akal sehat diam-diam keluar stadion lewat pintu belakang sambil membawa koper.
Tak lama kemudian, laga sepak bola berubah menjadi lomba lari darurat tingkat nasional.
Video beredar memperlihatkan Ridho memakai kaus putih dan celana pendek hitam berlari sekencang-kencangnya. Ia bukan sedang mengejar bonus. Bukan mengejar bus terakhir. Ia sedang mengejar kesempatan untuk tetap bernapas.
Larinya luar biasa. Bahkan Usain Bolt mungkin akan menonton sambil mengangguk hormat. Sebab tidak ada doping lebih ampuh dari rasa takut.
Ridho berlari seperti mahasiswa baru sadar hari itu batas akhir skripsi. Ia berlari seperti pegawai mendengar gaji cair dua menit lagi. Ia berlari seperti warga melihat gerombolan tikus got Pemalang ditangkap.
Di belakangnya, massa mengejar.
Dari kejauhan tampak seperti migrasi kawanan kerbau di padang savana. Bedanya, ini bukan acara National Geographic. Ini laga tarkam yang tiba-tiba berubah menjadi simulasi akhir zaman.
Ridho terus berlari. Paru-parunya mungkin sudah mengirim surat pengunduran diri.
Jantungnya mungkin sedang mengetuk tulang rusuk sambil berteriak, “Bos, kontrak kerja saya tidak mencakup dikejar ratusan orang!”
Di tengah kepanikan itu, mungkin yang terlintas di kepalanya bukan lagi aturan offside atau kartu kuning.
Ia mungkin teringat istri. Teringat anak. Teringat cicilan. Teringat, mati karena peluit adalah cara terlalu absurd untuk mengakhiri hidup.
Sayangnya Ridho bukan Flash. Ia bukan Sonic. Ia bukan ninja dari serial anime bisa menghilang menjadi asap.
Ia manusia biasa kapasitas paru-parunya masih tunduk pada hukum Newton.
Tenaganya habis. Larinya melambat. Massa mendekat. Harapan mulai tertinggal beberapa meter di belakangnya.
Ridho akhirnya tertangkap. Di sinilah ironi mulai menampar akal sehat. Yang dikejar bukan maling. Bukan bandar narkoba. Bukan koruptor merampok uang rakyat triliunan rupiah.
Yang dikejar adalah seorang wasit kampung yang mungkin honor memimpin laga kalah dibanding biaya servis motor.
Kadang negeri ini memang unik. Nuan bayangkan seandainya yang dilepas ke lapangan sore itu adalah koruptor kelas kakap. Yang uang rampokannya cukup untuk membeli setengah kecamatan. Yang membuat jalan rusak, sekolah ambruk, dan rakyat antre bantuan. Mungkin tribun langsung penuh. Tiket habis dalam lima menit. Pedagang es laku keras. Warga datang membawa semangat nasionalisme. Anak-anak meminta swafoto. Bapak-bapak melakukan pemanasan. Ibu-ibu menyiapkan bekal.
Lalu komentator berseru, “Kini koruptor memasuki lapangan!”
Penonton berdiri. Tepuk tangan bergemuruh. Sebagian mungkin berteriak, “Ayo lari, Pak! Biar merasakan sedikit sensasi mengejar uang rakyat!” Setelah itu, warga sekampung menghadiahinya bogem mentah. Lalu, jasadnya dibuang ke sungai penuh buaya. Pasti ramai menginginkan demikian. Sayangnya, koruptor di sini malah disanjung bak nabi.
Untunglah itu hanya satire. Karena negara hukum tidak boleh berubah menjadi arena balas dendam.
Kembali ke Ridho, pengeroyokan pun terjadi. Ia mengalami memar dan bekas cakaran hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Belasan tentara bersama panitia akhirnya turun tangan menyelamatkan wasit malang itu dari amukan massa.
Kisah Ridho adalah komedi yang gagal menjadi lucu. Kita tertawa melihat adegan kejar-kejaran itu, tetapi sekaligus merasa sedih.
Karena sepak bola seharusnya melahirkan sorak-sorai, bukan perburuan manusia.
Ridho datang ke lapangan membawa peluit. Ia pulang membawa memar. Mungkin malam itu, sambil menatap langit-langit rumah sakit, ia bertanya kepada nasib dengan suara lirih, “Kalau begini risikonya, kenapa dulu saya tidak jadi staf KPK saja?”
Rosadi Jamani












