Jakarta, PBSN – Wakil Ketua Umum Gerindra Habiburokhman buka suara menanggapi pernyataan eks Wamenlu, Dino Patti Djalal. Ia menyebut masukan Dino ke Prabowo Subianto tak solutif dan menabrak adab politik.
“Di era demokrasi dan keterbukaan tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi seperti Dino Patti Djalal. Namun demikian, sebagai sesama anak bangsa saya harus mengkritik balik Dino,” kata Habib, sapaannya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/6/2026).
Habiburokhman menilai masukan Dino minim data valid. Ia bahkan menduga unggahan itu bernuansa serangan membabi buta yang tujuannya melecehkan pemerintahan Prabowo.
Saran Dino supaya Prabowo lebih sering menerima tamu negara juga dinilai janggal.
“Di tengah ketidakpastian situasi global saat ini bahkan Donald Trump merasa perlu mengunjungi China untuk memperjuangkan kepentingan negaranya. Menurut kami justru Presiden Prabowo harus sangat proaktif baik menerima kunjungan maupun juga mengunjungi pemimpin negara lain,” katanya.
Sebagai mantan Wakil Menteri Luar Negeri, langkah Dino mengomentari kebijakan luar negeri era Prabowo dianggap melanggar kode etik.
Habiburokhman mencontohkan praktik di negara maju di mana mantan pejabat memilih bungkam demi menghormati yang sedang menjabat.
“Hal tersebut didasarkan pada sikap menghormati orang yang sedang bekerja. Kritik mantan pejabat kepada penerusnya bahkan bisa menjadi bumerang jika publik membanding kinerja si mantan dengan yang sedang menjabat,” ujarnya.
Dino Ungkap Data Intensitas Perjalanan Prabowo
Sebelumnya, Dino mengunggah reels Instagram berisi analisis frekuensi lawatan Prabowo. Ia menyorot pola perjalanan yang menurutnya berlebihan sejak Prabowo dilantik.
Dino menyampaikan pandangan itu dalam unggahan video reels Instagram yang ditujukan kepada Prabowo.
Ia mengaku merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangan mengenai politik luar negeri Indonesia.
“Bapak Presiden (Prabowo) telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada saya yang berarti Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri. Karena itu, saya juga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan apa adanya,” kata Dino dalam video tersebut, Sabtu (30/5) lalu.
Dino meminta Prabowo menekan jumlah kunjungan ke luar negeri dan menghargai keresahan masyarakat.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri. Semenjak menjabat menjadi presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran,” tegas dia.
Ia menilai mustahil Prabowo mempertahankan ritme lawatan sepadat itu selama 18 bulan ke depan.
Biaya tiap perjalanan juga disorot Dino. Mulai tim advance, armada udara, akomodasi, konsumsi, protokol, pengamanan, sampai uang saku delegasi.
“Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” beber Dino.
Sebagai jalan keluar, Dino mendorong pemanfaatan panggilan video, sambungan telepon, atau forum virtual untuk interaksi antar pemimpin negara. BHS










