Nola Diasari Menjadi Korban Kelima, Sampai Kapan Terus Menghitung Peti Mati?

News, Politik22 Views

Singkawang, PBSN – Satu demi satu berguguran. Baru kemarin bangsa ini dibuat terdiam oleh kabar wafatnya Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, korban keempat. Luka itu belum sempat mengering. Muncul korban kelima. Sampai kapan negeri ini terus menghitung peti mati?

Korban kelima, Nola Diasari. Ia menjadi korban kelima meninggal dunia dalam pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Lima nyawa telah hilang. Angka itu mungkin hanya terlihat sebagai statistik di atas kertas. Namun bagi lima keluarga, angka itu adalah dunia runtuh. Itu adalah anak tak lagi pulang, suara tak lagi terdengar di rumah, dan harapan yang kini tinggal foto berbingkai hitam.

Berdasarkan konferensi pers resmi Kementerian Pertahanan, Nola mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan. Jumat, 26 Juni 2026, sekitar pukul 18.45 WIB. Ketika itu pembelajaran masih berlangsung di dalam kelas, Nola mulai mengeluhkan sesak napas. Tubuhnya terasa panas. Tidak ada menyangka, keluhan mungkin terdengar sederhana itu ternyata menjadi awal dari sebuah perpisahan abadi.

Tim kesehatan segera memberikan pertolongan pertama. Nola kemudian dirujuk ke IGD Rumah Sakit Singkawang dan tiba sekitar pukul 19.20 WIB. Dokter berusaha menstabilkan kondisinya. Harapan masih ada. Setelah itu ia kembali dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang pada pukul 20.20 WIB agar mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif.

Namun malam itu seolah menjadi malam begitu panjang bagi keluarganya. Dalam proses perawatan lanjutan, Nola mengalami henti jantung (cardiac arrest). Tim medis melakukan segala upaya yang mungkin dilakukan. Resusitasi jantung dikerjakan. Tindakan kardioversi juga dilakukan. Detik demi detik berlalu dalam perlombaan antara harapan dan takdir.

Sayangnya, takdir berkata lain. Pada pukul 21.03 WIB, Nola Diasari dinyatakan meninggal dunia. Satu keluarga kembali kehilangan anaknya. Satu ibu kembali menangis memanggil nama yang tak lagi menjawab. Satu ayah kembali memikul beban yang mungkin tak akan pernah sanggup ia ceritakan dengan kata-kata.

Yang membuat kisah ini semakin menyayat hati, Kemenhan menjelaskan, sebelum mengikuti pelatihan, Nola telah menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Pemeriksaan laboratorium darah dan urin, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur tubuh hingga kesehatan jiwa telah dilakukan. Hasilnya, ia dinyatakan memenuhi syarat mengikuti pelatihan. Hanya terdapat satu catatan, yakni kondisi overweight.

Namun semua hasil pemeriksaan itu kini tinggal dokumen. Sebab Nola telah pergi untuk selamanya.

Dengan meninggalnya Nola, jumlah korban jiwa dalam pelatihan calon manajer KDMP kini menjadi lima orang. Mereka adalah Anisa Muyassaroh yang meninggal akibat heat stroke di Balikpapan pada 18 Juni, Yonanda Muhammad Taufiq yang meninggal karena cardiac arrest di Baturaja pada 17 Juni, Novia Rahmadhani Sihotang yang meninggal akibat tuberkulosis di Jakarta pada 23 Juni, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang sempat mengeluhkan sesak napas sebelum meninggal di RSAU pada 26 Juni dini hari, dan kini Nola Diasari, yang mengeluhkan sesak napas serta badan panas sebelum akhirnya mengalami henti jantung pada 26 Juni 2026.

Pemerintah dan DPR menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pelatihan ini agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Sementara itu, pihak Istana menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya para korban.

Belasungkawa memang penting. Evaluasi juga sangat diperlukan. Namun setiap kali kabar duka datang lebih cepat dari hasil evaluasi, publik tentu berharap langkah-langkah pencegahan dapat benar-benar diwujudkan agar tidak ada lagi keluarga yang harus menerima telepon mengabarkan, orang yang mereka cintai tak akan pernah pulang.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka, mengampuni segala khilafnya, menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya, serta memberikan ketabahan bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *