Rosadi Jamani
Jakarta, PBSN – Kalian pasti sering baca ledekan netizen. Saat TNI show of force di televisi, ada nyeletuk, “Noh, tumpas OPM sono!” Seperti ngeledek TNI dan Polri gagal menumpas gerakan yang ingin merdeka di tanah Papua. Kadang ormas loreng yang suka sok kuat pun diledek. “Sono ke Papua, lawan OPM, berani!” Ya, sampai saat ini OPM masih eksis. Kali ini saya mau mengungkap kekuatan OPM.
Reuters pada Februari 2023 memperkirakan sekitar 500 pejuang mengaku anggota TPNPB, sayap bersenjata OPM. Lima ratus! Bukan 5.000, apalagi 50.000. Nanti salah baca pula.
Mereka tersebar, terpecah, tanpa komando pusat yang solid, dengan komandan lokal di berbagai wilayah. Estimasi lama dari dokumen bocor pernah menyebut 1.000–1.500 orang mampu hidup di hutan dan berperang gerilya. Sementara data kepolisian dikutip laporan investigatif menyebut sekitar 1.438 anggota dalam 24 jaringan, dengan hanya 361 pucuk senjata api.
Sisanya? Busur, panah, parang, dan mungkin doa yang sinyalnya lebih kuat daripada BTS.
Mereka tidak punya tank, jet tempur, atau logistik untuk perang terbuka. Senjata modern diperoleh dari berbagai cara. Dirampas dari aparat, dibeli di pasar gelap, diselundupkan lewat jalur lintas batas, atau dirakit sendiri. Taktiknya klasik. Hit-and-run. Serang cepat, kabur lebih cepat, lalu menghilang ke hutan. Hutan Papua bukan halaman belakang rumah.
Menurut laporan IPAC, sejak 2018 frekuensi kekerasan melonjak dari rata-rata 11 insiden menjadi 52 insiden per tahun. Pada 2018–2021 tercatat 183 bentrokan, dengan estimasi 52 anggota aparat keamanan dan 34 pejuang TPNPB tewas. Artinya, persoalannya bukan sekadar siapa punya senjata lebih banyak.
Pertama, medan. Pegunungan, hutan lebat, lembah, dan wilayah terpencil membuat operasi keamanan jauh lebih rumit.
Kedua, struktur jaringan yang cair. Tidak ada satu markas besar yang kalau direbut semuanya langsung bubar. Satu kelompok ditekan, kelompok lain masih bisa bergerak.
Ketiga, simpati lokal di sebagian wilayah, terutama kawasan highland. Ini membuat operasi keamanan menghadapi persoalan klasik perang gerilya: siapa warga biasa, siapa pendukung, siapa kombatan?
Keempat, ada medan internasional. Benny Wenda, tokoh yang mendapat suaka di Oxford, Inggris, sejak awal 2000-an, menjadi wajah terkenal gerakan pro-kemerdekaan melalui United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Organisasi ini dibentuk pada 2014 di Vanuatu untuk menyatukan berbagai faksi pro-kemerdekaan dan membawa isu Papua ke panggung internasional.
Ada Free West Papua Campaign di Inggris, dengan cabang di Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Ada pula International Parliamentarians for West Papua dan International Lawyers for West Papua.
Vanuatu konsisten menyuarakan isu Papua. Sejumlah negara Pasifik ikut bersuara di PBB, Melanesian Spearhead Group (MSG), dan Pacific Islands Forum. ULMWP pernah mendapat status observer di MSG. Diaspora Papua juga aktif menyebarkan narasi melalui media sosial, petisi, dan aksi solidaritas.
Apakah ada negara besar diam-diam memasok senjata atau pelatihan militer? Tidak ada bukti yang menunjukkan itu.
Dukungan internasional lebih banyak berupa opini publik, lobi diplomatik, kampanye HAM, lingkungan, dan hak menentukan nasib sendiri. Amerika Serikat, Australia, Uni Eropa, maupun kekuatan besar lainnya tidak memberikan pengakuan resmi terhadap kemerdekaan Papua.
So, kekuatan mereka bukan karena lebih kuat dari TNI/Polri. Mereka bertahan karena kombinasi medan ekstrem, struktur gerilya terpecah, kemampuan menghilang, senjata terbatas, sebagian simpati lokal, serta jaringan internasional terus menghidupkan narasi Papua.
Mereka tidak perlu memenangkan perang konvensional. Cukup membuat operasi keamanan terasa seperti mengejar bayangan di kabut.
Ketika netizen berteriak, “Tumpas dulu OPM, baru hebat!”, persoalannya memang tidak sesederhana menekan tombol delete. Yang dihadapi bukan tentara reguler dengan markas tetap dan rantai komando rapi. Ini jaringan gerilya hidup di medan sulit dan bisa muncul-hilang seperti Wi-Fi tetangga.
Ada 500 pejuang. 361 senjata api. Busur. Panah. Parang. Hutan Papua. Satu tokoh di Oxford. Beberapa negara Pasifik yang rajin bersuara. Kelihatannya kecil. Tetapi dalam perang gerilya, yang kecil belum tentu gampang ditangkap. Kadang masalah terbesar bukan monster raksasa. Kadang justru bayangan kecil yang tidak pernah berhasil kita tangkap.











