Sana’a, PBSN – Perang Houthi vs Arab Saudi semakin panas. Sekarang, giliran Inggris dan Prancis menyatakan siap membantu Saudi untuk melenyapkan Houthi dari tanah Yaman. Sepertinya, Houthi akan bilang “Ente jual, ane beli.” Simak narasinya.
Ente bayangkan padang pasir Yaman. Seekor semut Houthi berbadan keriput, sandal jepit sobek sebelah kiri, berdiri di atas kerikil sambil membawa “tusuk gigi” yang mereka sebut rudal balistik.
Di depannya ada gajah Arab Saudi sebesar istana. Punggungnya penuh rudal, telinganya dipasang drone, hidungnya radar, dan stok “obat nyamuk” alias rudal pencegat mulai menipis.
Selama berbulan-bulan, semut Houthi menggigit kaki gajah. Kadang gigitannya cuma bikin kesemutan. Kadang berhasil bikin Riyadh dan fasilitas energi Saudi deg-degan.
Gajah pun ngamuk. Masalahnya, gajah mulai kehabisan obat nyamuk. Maka dipanggillah teman-teman raksasa.
Pertama Inggris. Inggris tidak langsung mengirim pasukan tempur. Mereka mengirim satu pesawat tanker RAF Voyager dari pangkalan Siprus. Tugasnya mengisi bahan bakar jet Typhoon Saudi di udara agar bisa terbang lebih lama menghadapi drone dan rudal Houthi.
PM Andy Burnham menyebutnya bantuan defensif dan hanya beberapa minggu. Artinya kira-kira begini, “Tenang, kami tidak membantu gajah menginjak semut. Kami cuma kasih bensin supaya gajah bisa menginjak lebih lama.” Defensif, katanya.
Prancis tidak mau kalah. Mereka datang membawa “bantuan pengamanan infrastruktur energi”. Sasaran yang dijaga antara lain Yanbu dan East-West Pipeline. “Kami strictly defensive,” begitu kira-kira pesannya. Jadi Prancis tidak ikut menginjak semut. Mereka cuma menjaga pipa minyak agar tidak digigit semut.
Pemandangannya sekarang luar biasa. Semut Houthi, sandal jepit sobek. Gajah Saudi, baju zirah emas. Inggris, bawa pom bensin terbang. Prancis, sibuk menjaga pipa minyak.
Houthi mungkin garuk kepala. “Lho, saya baru gigit kaki gajah, kok satu kebun binatang datang?”
Lalu muncul pertanyaan klasik, “Indonesia mana?” Indonesia tidak masuk daftar bantuan Saudi. Saudi meminta dukungan Inggris, Prancis, Pakistan, dan Mesir.
Indonesia memilih duduk agak jauh sambil makan gorengan. Kemlu RI menyerukan penyelesaian damai dan mendorong de-eskalasi. Fokus lainnya menjaga WNI agar tidak ikut jadi korban.
Adegannya seperti pertandingan tinju. Semut dan gajah baku hantam di tengah ring. Dua dinosaurus Eropa berdiri di pinggir ring. Indonesia menjadi wasit dari luar ring, “Sudah! Damai! Jangan berantem!”
Tapi semua tetap memakai kalimat sakti. Semut, “Kami bela diri!” Gajah, “Kami bela diri!” Inggris, “Kami cuma bantu bela diri!” Prancis, “Kami cuma menjaga pipa!” Indonesia, “Kami cuma dorong damai!”
Waduh. Ini bukan lagi David versus Goliath. Ini semut lawan gajah, dibantu dua dinosaurus Eropa, sementara wasit Asia Tenggara makan bakwan. Yang paling ajaib, semuanya merasa sedang bertahan.
Kalau begini terus, Koptagul bukan lagi diminum. Koptagul berubah jadi bahan bakar geopolitik.
Semut Houthi? Masih sandal jepit. Tapi gigitannya sudah membuat gajah mencari bantuan sampai Eropa.
Memang kejam. Yang kecil bisa bikin yang besar panik, yang besar bisa memanggil teman, dan yang datang membantu tetap bilang, “Kami cuma defensif.” Gile. Perang atau arisan internasional ini?
“Bang, kapan perang sesama orang Arab itu berhenti ya?”
“Sepertinya tak bakal berhenti. Kalau baca sejarahnya dari dulu sampai sekarang sepertinya selalu dilanda perang saudara. Sekarang sudah campur aduk, geopolitiklah, paham sunni vs syiahlah, kesukuanlah, macam-macam. Yang industri mesin perang paling senang perang.
Rosadi Jamani











