Beijing, PBSN – Sesekali kita menengok ke luar. Tak lah melihat wajah koruptor terus. Kali ini, China. Baru saja negeri tirai bambu ini memberlakukan UU Persatuan Etnis. Etnisnya cuma 56 saja, sementara kita punya 1.340 etnis, itu belum lagi sub etnisnya.
Kalau hari ini melihat China, rasanya seperti melihat naga raksasa lagi ngecas pakai listrik tenaga ambisi. Ekonominya melesat, teknologinya bikin silikon sampai minder, militernya makin sangar, pertaniannya subur, industrinya memproduksi barang lebih cepat dari kita mengucapkan, “Tambah satu keranjang.” Dunia pun mulai berbisik, “Wah, Amerika jangan-jangan sebentar lagi cuma lihat lampu belakang.”
Tapi jangan salah. Naga itu dulu bukan lahir dari spa air hangat dan pijat refleksi. Ia lahir dari kawah perang saudara bikin sejarah geleng-geleng kepala. China pernah hancur karena sesama anak bangsanya saling berantem. Darah mengalir lebih deras dari Sungai Yangtze, sementara rakyat cuma bisa berharap besok masih kebagian nasi. Sejak saat itu, Beijing seperti bersumpah, “Pokoknya jangan sampai negeri ini pecah lagi. Sekali cukup. Kapok!”
Maka lahirlah Undang-Undang Persatuan Etnis yang disahkan Maret 2026 dan berlaku mulai Juli 2026. Tujuannya terdengar sederhana, menyatukan 56 kelompok etnis agar semua merasa satu keluarga besar bernama China. Logikanya gampang. Kalau semua menarik gerobak ke arah yang sama, kereta negara melaju. Kalau masing-masing narik ke arah sendiri, yang jalan cuma drama.
Salah satu aturan paling ramai dibahas adalah penggunaan bahasa Mandarin sebagai bahasa utama pendidikan sejak sebelum taman kanak-kanak hingga selesai pendidikan wajib. Bahasa etnis tetap ada, tetapi bukan lagi pemeran utama. Ibarat opera Beijing, semua boleh naik panggung, tetapi mikrofon utamanya cuma satu.
Nah, di sinilah dunia mulai ribut seperti pasar malam diskon 99 persen. Kelompok Uighur, Tibet, Mongolia, dan etnis minoritas lain khawatir identitas mereka pelan-pelan berubah menjadi koleksi museum. Bahasa, tradisi, hingga kebiasaan keagamaan dikhawatirkan makin terdesak. James Leibold dari La Trobe University menilai tekanan terhadap penggunaan Mandarin dan loyalitas kepada negara bisa makin kuat di sekolah, media, hingga pemerintahan daerah. Aaron Glasserman dari University of Pennsylvania juga memperkirakan ruang mengekspresikan identitas budaya akan semakin sempit.
Amnesty International ikut angkat suara. Menurut Sarah Brooks, negara memang boleh menjaga stabilitas, tetapi budaya kelompok minoritas juga harus dilindungi. Jangan sampai tersisa nanti cuma suvenir naga, panda, dan lampion, sementara bahasa leluhur tinggal kenangan yang muncul setahun sekali di buku sejarah.
Yang bikin bumbu makin pedas, undang-undang ini juga memuat ketentuan yang bisa menjangkau individu atau kelompok di luar wilayah China jika dianggap mengganggu persatuan etnis atau mendorong separatisme. Taiwan langsung pasang alis mode siaga. Pemerintahan Tibet di pengasingan pun menganggap aturan itu memperkuat proses asimilasi terhadap masyarakat Tibet.
Sementara itu, Beijing santai saja. Pemerintah menegaskan aturan ini bukan mesin penghapus budaya, melainkan pagar agar rumah besar bernama China tidak roboh diterpa angin perpecahan. Wakil Menteri Kehakiman Hu Weilie menyebut, media Barat salah paham. Katanya, aturan itu ditujukan untuk aktivitas ilegal yang mengancam persatuan nasional, bukan buat mengejar orang lagi makan mi tarik sambil diskusi akademik.
Begitulah China. Negeri yang membangun tembok bukan hanya dari batu, tetapi juga dari pengalaman sejarah. Negeri yang menganggap stabilitas lebih berharga dari tepuk tangan dunia. Mau setuju atau tidak, satu hal sulit dibantah. Kemajuan mereka bukan datang dari sulap Jack Ma menggosok lampu Aladdin Made in China. Ia lahir dari keputusan-keputusan yang kadang dipuji, kadang dicibir, kadang bikin dunia garuk-garuk kepala sambil pesan teh melati. Seperti filosofi yin dan yang, setiap langkah menuju persatuan selalu menyimpan bayangan pertanyaan, kapan persatuan berubah menjadi penyeragaman? Nah, itu PR yang panda pun mungkin masih mikir sambil ngunyah bambu.
Rosadi Jamani












