Sinjai, PBSN – Saya tidak tahu, siswa ini diberi makan apa oleh ayahnya yang seorang polisi. Guru sendiri dipukul bertubi-tubi sampai lima kali. Hidung guru berdarah. Punggungnya lebam. Nyesek benar dah. Mari kita lindas, eh salah, kupas tragedi yang menimpa guru ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Selasa, 16 September 2025. Sinjai seharusnya hanya menyuguhkan matahari pagi yang hangat. Namun di ruang sempit bernama BK di SMAN 1 Sinjai, yang seharusnya jadi tempat pembinaan, justru berubah jadi panggung darah. Sebuah tragedi yang membuat kita semua bertanya, apakah profesi guru memang layak diperlakukan seperti karung tinju?
Mauluddin, Wakasek yang malang itu, pagi itu hanya bermodalkan niat baik, membina. MR, siswa 17 tahun yang lebih suka bolos ketimbang belajar, dipanggil bersama ayahnya, seorang polisi bernama Aiptu Rajamuddin. Semua berharap ruang kecil itu jadi ruang dialog, ruang pendidikan. Tapi yang terjadi justru “pagi berdarah.”
Bayangkan, wak! Ruang BK hanya meja kayu ringkih, dua kursi plastik murahan, papan tulis kecil yang bahkan sudah menguning. Di sanalah seorang guru, dengan hati yang masih percaya pendidikan bisa menyelamatkan anak bangsa, duduk berhadapan dengan muridnya. Tapi, alih-alih mendapat kata maaf atau janji berubah, yang ia dapat justru lima kali pukulan bertubi-tubi. Lima! Bukan sekali, bukan refleks, tapi bertubi, hingga wajahnya penuh darah. Hidungnya pecah, darah menetes deras ke lantai, bercampur dengan debu ruang BK. Punggungnya dihantam, tubuhnya jatuh, napasnya tercekat.
Apa yang dilakukan sang ayah, aparat negara, polisi yang seharusnya jadi pengayom? Diam. Tegak berdiri, seperti patung batu, membiarkan seorang guru dipukuli di hadapannya. Apakah ia lupa seragamnya simbol hukum? Ataukah hukum hanya berlaku di jalan, sementara di ruang BK seorang guru dibiarkan disembelih harga dirinya?
Darah yang mengalir dari wajah Mauluddin bukan sekadar luka fisik. Itu adalah darah profesi guru yang ditumpahkan. Itu adalah simbol betapa rapuhnya wibawa pendidik di negeri ini. Seolah guru bukan lagi pilar peradaban, melainkan sasaran empuk frustrasi anak-anak yang manja, dilindungi kuasa orang tuanya.
MR memang akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Tapi apakah itu cukup? Apakah mencoret satu nama dari daftar siswa mampu menghapus trauma, menghentikan rasa takut guru-guru lain yang besok masih harus masuk kelas dengan perasaan waswas? Lalu, Aiptu Rajamuddin, hanya diperiksa Propam. Hanya diperiksa! Seolah membiarkan anak memukul guru adalah perkara administrasi belaka.
Publik pun murka. Media sosial meledak. “Tamparan terhadap dunia pendidikan,” tulis warganet. Tapi ini lebih dari tamparan, ini adalah hantaman palu godam ke wajah profesi guru. Jika guru saja bisa dipukuli di depan orang tua, di ruang sekolah, lalu siapa yang akan membela mereka?
Kita boleh marah kepada murid, kepada orang tua, kepada institusi. Tapi jangan lupa, tragedi ini bukan berdiri sendiri. Belum reda kasus walikota Prabumulih yang seenaknya memecat kepala sekolah, belum selesai demo ratusan guru di Kutai Barat, kini muncul lagi kisah darah di Sinjai. Apakah negara sedang main-main dengan nasib guru? Apakah guru hanya pion kecil dalam papan catur kekuasaan, yang bisa ditendang, dipukul, dipermalukan, lalu dilupakan?
Ironi terbesar, guru adalah profesi yang kita agungkan setiap 25 November dengan kata-kata manis. Di podium, pejabat menyanjung mereka sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa.” Tapi di lapangan, guru justru jadi korban tanpa pembelaan. Apa arti “pahlawan” jika tubuh mereka dipukul, darah mereka mengalir, dan martabat mereka diinjak?
Tragedi di ruang BK SMAN 1 Sinjai ini bukan hanya soal Mauluddin, bukan hanya soal seorang anak polisi yang brutal, bukan hanya soal seorang ayah yang abai. Ini adalah cermin busuk wajah kita sebagai bangsa. Jika kita masih bisa tidur nyenyak setelah melihat guru berdarah di ruang sekolah, maka sesungguhnya pendidikan kita sudah lama mati. Yang tersisa hanyalah formalitas, gedung, kurikulum, seragam. Jiwanya? Sudah dikubur bersama martabat guru yang dipukul muridnya sendiri.
Maka marilah kita marah, muak, emosi, bukan sekadar sebagai ledakan sesaat, tapi sebagai tekad untuk berhenti memperlakukan guru seperti sampah. Sebab jika guru terus dibiarkan jatuh, maka bangsa ini pun akan jatuh, tidak dengan darah di lantai ruang BK, tapi dengan runtuhnya peradaban.
Foto Ai, hanya ilustrasi.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar






