DI TENGAH ANCAMAN RESESI GLOBAL, SRI MULYANI INGIN TIDAK TERJEBAK DALAM LINGKARAN SETAN

Washington DC – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan situasi perekonomian dunia kini terancam hantaman badai besar. 
“Banyak negara harus bersiap dengan sederet kebijakan untuk melakukan antisipasi agar mampu menahan tekanan dan tak terjebak dalam lingkaran setan,” ujar Menkeu saat berbincang dengan Deputy Prime Minister of Spain dan Minister for Economy and Digitalization Nadia Calvino di sela-sela pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara anggota G20 di Washington DC, Amerika Serikat (AS) seperti dikutip CNBCIndonesia, Senin (17/10/22).
“Kami juga berdiskusi mengenai kelanjutan G20. Menteri Nadia menyampaikan harapan agar pertemuan Summit G20 pada bulan November nanti dapat menghasilkan rekomendasi yang solutif bagi dunia,” sambungnya.
Pada pertemuan itu kata Sri Mulyani, juga dibahas kondisi ekonomi global dan exit strategy yang harus dilakukan agar negara tidak terjebak dalam lingkaran tak berujung (vicious cycle).
Sri Mulyany mencontohkan dengan kebijakan subsidi. Ketika anggaran negara dikeluarkan, maka harus dipastikan itu tepat sasaran, membantu masyarakat yang membutuhkan. Bukan justru kelompok kaya.
“Misalnya, subsidi yang harus lebih ditujukan kepada kelompok yang memang layak mendapatkan subsidi,” terang Sri Mulyani.
Persoalan subsidi memang tak lepas dari beberapa faktor yang terjadi belakangan. Salah satu yang berpengaruh besar adalah perang Rusia dan Ukraina yang meletus pada Februari 2022, sehingga harga minyak dunia bersama gas dan komoditas lainnya melonjak drastis.
Ini adalah situasi sulit. Apalagi hampir semua negara baru beranjak pulih dari pandemi covid-19. Banyak negara tak mampu menahan tekanan, terutama bagi yang memiliki ruang fiskal terbatas akibat penumpukan utang.
Sri Lanka dan Argentina adalah beberapa di antaranya. Fiskal yang terbatas membuat kedua negara tersebut melepas harga bahan bakar minyak (BBM) ke pasar dan menambah penderitaan masyarakat. Negara itu pun kini masuk ke zona krisis keuangan dan sosial politik.
Indonesia sebenarnya turut merasakan tekanan tersebut. Hanya saja, pada kesempatan yang sama, lonjakan harga komoditas memberikan berkah bagi Indonesia. Dana yang didapat kemudian dialihkan ke pos subsidi energi agar masyarakat tetap mampu pulih tanpa tertahan akibat kenaikan harga BBM dan listrik.
Sayangnya, pemerintah mampu menahan beberapa bulan. Perang yang tak berkesudahan membuat harga minyak dunia sulit turun dan belanja subsidi terus membengkak. Di sisi lain tak ada kebijakan yang diputuskan untuk mengurangi konsumsi masyarakat.
Dalam analisa pemerintah, pemberian subsidi terus menerus akan berdampak negatif terhadap perekonomian ke depannya. Tidak hanya bagi APBN yang diperkirakan bisa menembus Rp 700 triliun, namun juga kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Satu indikator yang digunakan adalah mayoritas orang yang mengkonsumsi BBM adalah kelas menengah atas.
Akhirnya kebijakan diubah. Pemerintah menaikkan harga BBM untuk jenis Pertalite, Petamax dan Solar. Sementara kelas bawah diberikan tambahan bansos agar dampak rambatan yang muncul tak begitu membebani. Pemerintah juga terhindar dari tambahan utang ‘jumbo’ yang ke depannya bisa menjadi masalah besar bagi Indonesia.
Selain energi, masalah penting yang juga dibahas dalam pertemuan tersebut adalah pangan.
“Kami berdua menaruh perhatian mengenai mahalnya harga komoditi dan bahan pokok (food security), yang salah satunya adalah karena kelangkaan pupuk. Kami sepakat forum bersama antara Menteri Keuangan dan Menteri Pertanian sangat membantu dalam hal menghasilkan suatu kebijakan untuk mengatasi hal tersebut,” tandasnya.
(Red/Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *