Cara 5 Cara Agar Gen Alpha Suka Membaca

Oleh : Ririe Aiko
Penulis dan pegiat literasi

Jakarta, PBSN – Sebagai pegiat literasi yang cukup sering berinteraksi dengan pelajar, saya semakin menyadari bahwa membuat anak suka membaca ternyata tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Ayo, membaca itu penting.” Kalimat itu benar, tetapi belum tentu menarik bagi mereka.

Apalagi ketika berhadapan dengan anak-anak Generasi Alpha yang tumbuh bersama gawai, video pendek, gim, dan berbagai bentuk hiburan digital lainnya. Bagi mereka, buku bisa saja terasa seperti sesuatu yang jauh dan membosankan jika kita tidak menemukan pintu masuk yang tepat.

Dari beberapa kegiatan literasi bersama pelajar, ada beberapa hal yang saya pelajari tentang bagaimana membuat mereka perlahan menyukai dunia literasi. Berikut beberapa cara yang menurut saya bisa diterapkan:

1. Kenalkan buku melalui cerita yang dekat dengan dunia mereka

Saya tidak selalu memulai dari buku yang dianggap “berat” atau penuh nilai pendidikan. Justru cerita lucu, fabel, kisah persahabatan, petualangan, atau cerita tentang kehidupan sehari-hari sering kali lebih mudah membuat mereka tertarik. Ketika anak tertawa karena sebuah cerita, penasaran dengan tokohnya, atau ingin tahu apa yang terjadi di halaman berikutnya, sebenarnya proses membaca sudah dimulai. Dari rasa suka itulah, kebiasaan membaca bisa tumbuh.

2. Ajak mereka mengeksplorasi perpustakaan

Ada pengalaman yang berbeda ketika anak memilih sendiri buku yang ingin dibacanya. Saya senang melihat anak-anak berjalan di antara rak, mengambil buku, membaca sampulnya, membuka beberapa halaman, lalu mengganti dengan buku lain. Biarkan mereka mencari. Ketika anak datang langsung ke perpustakaan dan memilih buku dengan tangannya sendiri, literasi tidak lagi terasa sebagai tugas sekolah. Perpustakaan perlahan berubah menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan mereka.

3. Berikan apresiasi kecil dan ciptakan games menarik saat mengenalkan literasi

Reward tidak harus mahal. Bisa berupa pembatas buku, stiker, kesempatan memilih buku berikutnya, atau sekadar apresiasi di depan teman-temannya. Namun, yang tidak kalah penting adalah menciptakan suasana membaca yang menyenangkan melalui games sederhana. Misalnya, membuat tantangan membaca dalam sepekan, kuis singkat tentang isi buku, tebak tokoh, atau meminta anak menemukan fakta menarik dari buku yang mereka baca. Dengan begitu, kegiatan literasi tidak terasa seperti kewajiban, tetapi menjadi aktivitas yang membuat mereka penasaran dan ingin terlibat.

Bagi saya, yang paling penting bukan nilai hadiahnya, melainkan pesan bahwa usaha mereka terlihat dan dihargai. Ketika seorang anak berhasil menyelesaikan buku lalu mendapatkan apresiasi, ia belajar bahwa membaca bukan hanya tentang menyelesaikan halaman, tetapi juga tentang pengalaman yang menyenangkan dan layak dirayakan.

4. Minta mereka menceritakan kembali buku yang sudah dibaca

Saya justru sering menemukan bagian paling menarik setelah buku selesai dibaca.

“Tadi ceritanya tentang apa?”

“Tokoh mana yang paling kamu suka?”

“Kalau kamu jadi tokohnya, kamu akan melakukan apa?”

Pertanyaan seperti itu membuat membaca tidak berhenti di halaman terakhir. Anak belajar memahami, mengingat, berbicara, sekaligus berani menyampaikan pendapatnya.

5. Biasakan mereka untuk menulis jurnal harian

Tidak perlu panjang. Satu paragraf pun cukup. Hari ini Apa yang membuatku senang? Apa yang membuatku kesal? Apa yang kupelajari?

Dari membaca, anak belajar menyerap gagasan. Dari menulis, mereka belajar mengolah gagasan itu menjadi suara mereka sendiri.

Saya percaya literasi tidak tumbuh dalam satu hari. Ia hadir melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Anak mungkin awalnya membaca karena cerita yang lucu. Kemudian datang ke perpustakaan karena penasaran. Membaca karena ingin mendapatkan apresiasi. Bercerita karena diminta. Menulis jurnal karena dibiasakan.

Namun perlahan, tanpa banyak disadari, mereka mulai menemukan sesuatu yang lebih besar: bahwa membaca bisa menjadi cara untuk mengenal dunia, sementara menulis menjadi cara untuk mengenal dirinya sendiri.

Bagi saya, tugas sebagai pegiat literasi bukanlah “memaksa” anak mencintai buku. Lebih dari itu, tugas kita adalah membantu mereka menemukan satu alasan untuk tertarik membuka halaman pertama, lalu penasaran untuk terus membuka halaman-halaman berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *