Jakarta, PBSN – Tulisan kedua terkait Islam Ala Prabowo. Ternyata semakin heboh. Tak peduli abu Gurung Krakatau di Jabar dan karhutla di Kalimantan, kontroversi buku ini semakin panas. Terbaru, dua penulis di dalam buku itu justru membantah pernah menulis. Nah, lho!
Banyak menghujat, namun tak sedikit membela. Narasi pembela kurang lebih begini, “Jangan cuma lihat cover dan judul. Baca isinya!”
Nasihatnya cukup bagus. Masalahnya, bagaimana mau fokus membaca isi kalau orang yang namanya tercantum sebagai kontributor malah bilang tidak pernah menulis? Nah, di sinilah ceritanya mulai menarik.
Daeng bayangkan sebuah buku setebal 346 halaman, diluncurkan dengan penuh khidmat pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional Baznas di Jakarta oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar bersama Ketua Baznas Prof. Dr. KH Noor Achmad. Buku itu diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani, ditulis oleh trio sakti Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
Konsepnya pun bukan buku catatan harian Prabowo tentang bagaimana beliau wudhu sebelum Subuh, berapa kali membaca Al-Fatihah, atau merek peci yang dipakai ketika salat. Katanya, buku itu merupakan mosaik tafsir para tokoh tentang bagaimana nilai-nilai Islam tercermin dalam kepemimpinan Prabowo Subianto.
Indah, bukan? Namun, tiba-tiba buku ini berubah menjadi semacam pertunjukan sulap tingkat nasional. Nama muncul. Nama tercantum. Lalu nama bersuara, “Saya tidak pernah menulis!”
Gus Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, melalui istrinya, Ning Jazilah Annahdliyah alias Ning Jazil menyatakan, suaminya tidak pernah membuat tulisan apa pun dan tidak pernah memberi izin penggunaan namanya. Dalam buku itu Gus Kautsar menulis dengan judul “Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto” halaman 318.
Belum selesai tepuk tangan, muncul pula Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat. Melalui Instagram pribadinya, ia dengan tenang menyampaikan, dirinya tidak pernah mengirimkan tulisan terkait buku tersebut. Di dalam buku itu, tulisan beliau berjudul “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan, dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan” halaman 222
Lho! Ini buku atau film misteri? “Islam Ala Prabowo: The Contributor Who Never Wrote.”
Para pembela buku tentu punya jurus pamungkas, “Baca dulu isinya!” Betul. Tetapi kalau daftar kontributornya saja mulai mengalami fenomena “datang tak diundang, pergi tanpa pamit”, pembaca akhirnya bukan sibuk mencari pencerahan Islam, melainkan sibuk menjadi detektif.
“Ini tulisan siapa?”
“Nama saya kok ada?”
“Yang ini benar menulis?”
“Kalau tidak menulis, kenapa tercantum?”
Akhirnya muncul paradoks paling absurd. Buku yang membahas nilai-nilai Islam justru ramai karena persoalan etika penggunaan nama.
Baznas pun ikut memberikan penjelasan. Melalui percakapan WA yang kemudian viral, Baznas menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan. Lembaga itu menjelaskan, buku tersebut memang diluncurkan dalam rangkaian Rakornas Baznas sebagai bentuk sinergi kelembagaan.
Namun, buku itu bukan produk kebijakan Baznas, bukan rujukan ajaran Islam resmi, melainkan karya yang diinisiasi Ketua MPR dan Ketua MUI serta ditulis para penulisnya. Mandat Baznas tetap jelas, mengelola zakat sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011.
Netizen pun terbelah. Sebagian mengatakan judul “Islam Ala Prabowo” hanyalah cara menggambarkan nilai-nilai Islam dalam kepemimpinan, bukan mazhab baru. Sebagian lagi mungkin berpikir, kalau kontributornya saja membantah, membaca bukunya terasa seperti membaca surat cinta ditandatangani orang lain.
So, masalahnya bukan sekadar judul. Masalahnya adalah siapa menulis apa, siapa mengizinkan apa, dan kenapa nama bisa jalan-jalan sendiri ke dalam buku.
Buku 346 halaman ini akhirnya memberikan pelajaran sangat mahal. Sebelum meminta publik membaca isinya, pastikan dulu orang-orang namanya ada di dalamnya memang merasa pernah ikut menulis.
Sebab kalau tidak, pembaca bukan menemukan tafsir Islam. Pembaca malah menemukan teka-teki nasional, “Mencari Penulis yang Tidak Pernah Menulis.” Ini plot twist-nya lebih panjang dari daftar isi.
“Bingung saya, Bang. Penulis tapi merasa tidak menulis. Lalu, siapa yang menulisnya?”
Rosadi Jamani






