Jakarta, PBSN – Kita istirohat sekejab bahas “Islam Ala Prabowo” Kalau ada hal yang baru, kita kuliti lagi. Saya mau mengenalkan seorang penulis hebat. Bisa dikatakan legend era modern.
Kalau bertamu ke rumah ustaz, kiai, atau tokoh agama, coba lihat rak bukunya. Biasanya ada kitab berjilid-jilid. Salah satu yang sering nongkrong gagah adalah Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq. Melihatnya, tamu kadang langsung berpikir, “Wah, ini pasti ahli fikih.”
Belum tentu. Punya buku fikih tidak otomatis menguasai fikih. Kalau logikanya begitu, orang yang punya buku kedokteran tinggal buka klinik. Punya buku hukum langsung jadi pengacara. Punya buku politik mungkin besok dilantik jadi menteri. Kalau punya Fikih Sunnah langsung jadi ahli fikih, perpustakaan tinggal diberi papan nama, “Universitas Rak Buku.”
Lantas, siapa Sayyid Sabiq sebenarnya?
Nama lengkapnya Sayyid Sabiq Muhammad at-Tihami. Ia lahir pada 1915 di Istanha, Distrik al-Baghur, Provinsi al-Munufiyah, Mesir. Keluarganya terpandang dan dipercaya memiliki hubungan nasab dengan Khalifah Utsman bin Affan.
Sejak kecil ia mencintai Alquran dan berhasil menghafalnya sekitar usia 10–11 tahun. Pendidikannya ditempuh di Universitas Al-Azhar, Kairo. Di sana ia sempat menganut mazhab Hanafi dan berguru kepada ulama besar seperti Syekh Mahmud Syaltut.
Tahun 1947, ia memperoleh asy-Syahadah al-‘Alimiyyah, ijazah tertinggi pada masa itu yang kurang lebih setara dengan gelar doktor sekarang. Sebelum menulis kitab fikih, Sayyid Sabiq bukan sekadar orang rajin membaca kitab sambil ngopi.
Ia juga terlibat dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan menjadi orang kepercayaan pendirinya, Hasan al-Banna. Ia ikut dalam Perang Palestina 1948. Karena aktivitas dakwah dan perjuangan sosial-politiknya, ia sempat dipenjara pemerintah Mesir pada 1949–1950.
Karier akademiknya pun panjang. Ia pernah menjadi dosen di Al-Azhar dan mengajar lebih dari 20 tahun di Universitas Ummul Qura, Mekkah. Di sana ia dipercaya menjadi Direktur Pascasarjana Syariat.
Ia juga pernah menjabat Wakil Menteri Wakaf Mesir. Tahun 1994, ia menerima Penghargaan Raja Faisal (Jaizah al-Malik Faisal al-‘Alamiyyah), penghargaan internasional bergengsi bagi intelektual dan ilmuwan Muslim.
Sayyid Sabiq wafat pada 28 Februari 2000 dan dimakamkan di kampung halamannya. Karya monumentalnya adalah Fiqh as-Sunnah. Kitab ini populer karena bahasanya sederhana dan sistematis. Pelajar, mahasiswa, bahkan masyarakat awam bisa mempelajarinya.
Salah satu cirinya adalah ajakan agar umat tidak fanatik terhadap satu mazhab dan kembali merujuk kepada Alquran dan hadis sahih. Namun jangan salah paham. Sayyid Sabiq tidak bermaksud merendahkan imam-imam mazhab.
Sebab tidak fanatik mazhab bukan berarti memilih hukum seperti memilih menu warteg. “Yang ini cocok, ambil. Yang itu berat, tinggalkan.” Fikih tidak sesederhana itu. Fiqh as-Sunnah sendiri mendapat kritik serius.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, melalui Tamam al-Minnah, mengkritik penggunaan hadis daif dalam beberapa persoalan hukum, penyandaran hadis kepada Bukhari dan Muslim tanpa bukti yang tepat, hadis tidak jelas asalnya, serta ketidakkonsistenan dalam penggunaan hadis sahih.
Ada pula kritik terhadap metode penulisan hadis, termasuk sanad dipendekkan sehingga menyulitkan verifikasi dan tidak selalu dijelaskan status keabsahan hadis secara transparan.
Dari sisi mazhab, ulama seperti Syaikh Faraz Rabbani dan Syaikh Abdurrahman ibn Yusuf Mangera juga mengkritik cara kitab tersebut mengutip pendapat empat mazhab. Menurut mereka, beberapa syarat penting dalam pendapat mazhab tidak selalu dijelaskan sehingga pembaca awam berpotensi salah memahami.
Muncul pula persoalan talfiq, yaitu menggabungkan pendapat beberapa mazhab dalam satu kasus hukum. Menurut sebagian ulama usul fikih, penggabungan tertentu dapat menjadi tidak valid karena hasil akhirnya tidak diakui oleh satu pun mazhab secara utuh.
Ibarat membuat nasi goreng dengan empat resep koki. Resep pertama bilang begini. Resep kedua bilang begitu. Resep ketiga punya syarat lain. Resep keempat melarang semuanya. Semua dicampur. Yang keluar mungkin bukan nasi goreng. Bisa jadi skripsi.
Namun kritik tersebut tidak otomatis menghapus jasa Sayyid Sabiq. Putranya, Muhammad Sayyid Sabiq menjelaskan, Fiqh as-Sunnah memang ditujukan terutama bagi pelajar dan masyarakat awam, bukan sebagai manual teknis untuk ahli hadis.
Tokoh seperti Yusuf al-Qardhawi juga mengakui pengaruh besar kitab tersebut, terutama dalam persoalan ibadah praktis seperti salat dan bersuci. Menariknya, meski mendorong umat kembali kepada dalil, Sayyid Sabiq tidak mencela mazhab-mazhab fikih. Putranya menyebut kecenderungan mazhab Sayyid Sabiq adalah Syafi’i.
Maka posisi paling sehat bukan mengkultuskan Fiqh as-Sunnah, tetapi juga bukan membuangnya karena dikritik. Baca. Pelajari. Bandingkan. Tanyakan kepada guru. Sebab kitab fikih bukan katalog hukum tinggal dipilih sesuai selera.
Ilmu fikih punya usul, kaidah, metodologi, sanad keilmuan, konteks, dan perbedaan pendapat. Ini sering dilupakan. Punya kitab bukan berarti punya ilmu. Hafal hadis bukan otomatis ahli hadis. Bisa membaca terjemahan Alquran bukan otomatis menguasai tafsir. Bahkan punya satu rak penuh kitab tidak otomatis membuat seseorang menjadi ulama.
Dalam politik, jabatan tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Dalam agama, rak buku juga tidak otomatis membuat seseorang alim. Yang lebih berbahaya adalah ketika baru membaca satu kitab, lalu merasa seluruh ulama selama 1.300 tahun perlu dikoreksi.
Sayyid Sabiq sendiri menghabiskan hidupnya untuk belajar, mengajar, berdakwah, menulis, berjuang, dan menghadapi kritik. Semakin banyak ilmu seharusnya semakin rendah hati. Sebab orang yang benar-benar tahu luasnya ilmu biasanya tidak buru-buru berkata, “Saya paling benar.”
Ia justru lebih sering berkata, “Saya masih belajar.” Kalimat sederhana itu kadang jauh lebih ilmiah dari seribu kali mengangkat telunjuk sambil merasa sudah memegang kunci surga.
Rosadi Jamani






