22 Jiwa Melayang di Gedung Terra Drone

News307 Views

Jakarta, PBSN – Belum sempat air mata kita mengering setelah hampir seribu nyawa direnggut oleh bencana tanda tangan di Sumatera, negeri ini sekali lagi ditarik paksa ke jurang duka yang lebih dalam. Jakarta, kota yang selalu bising oleh ambisi dan klakson, tiba-tiba menjadi sunyi seperti ruang kosong dalam dada para keluarga yang kehilangan. Gedung Terra Drone di Cempaka Putih, yang kemarin adalah tempat kerja, tempat cita-cita, tempat orang menaruh masa depan, kini berubah menjadi peringatan paling kelam tentang betapa rapuhnya keamanan di tanah ini. Pada Selasa (9/12/2025), gedung itu terbakar, dan 22 jiwa hilang dalam hitungan menit yang terasa seperti abad.

Koptagul kali ini bukan lagi pahit tapi hambar. Mau diminum juga sudah tak kuat ketika bencana demi bencana datang di negeri ini. Simak narasinya sampai tuntas.

Saya ulangi, 22 jiwa nyawa melayang. Mereka yang pergi bukan angka. Bukan daftar. Mereka adalah lima belas perempuan dan tujuh laki-laki yang bangun pagi dengan rencana sederhana, bekerja, pulang, hidup. Tapi hidup tidak memberi mereka kesempatan untuk pulang. Api yang diduga dipicu oleh ledakan baterai drone di lantai satu melahap ruangan saat jam istirahat, waktu yang seharusnya paling aman. Saat sebagian karyawan menikmati udara luar, sebagian lainnya memilih tinggal di dalam gedung, mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan, mungkin sekadar menunggu waktu makan habis. Mereka tak tahu, jam itu menjadi detik paling tragis dalam hidup mereka.

Kebakaran itu seperti monster yang bangkit dari gelap. Cepat, gelap, dan tak peduli. APAR yang dicoba untuk memadamkan api tak lebih dari sendok yang dilempar ke lautan. Api membesar. Asap menebal. Napas menjadi barang langka. Ketika semua orang berlari mencari jalan keluar, kenyataan pahit itu muncul. Gedung hanya punya satu pintu akses keluar–masuk. Satu pintu. Bukan dua, bukan tiga, bukan darurat yang tersembunyi di sudut koridor. Satu. Seolah-olah keselamatan hanya dianggap sebagai fitur opsional, bukan kebutuhan dasar.

Polisi yang melakukan olah TKP akhirnya mengungkapkan fakta itu. Kombes Romylus Tamtelahitu berkata dengan nada yang hampir terdengar seperti penyesalan, “Akses hanya satu ya.” Kalimat itu menggantung di udara seperti asap yang tak mau pergi. AKBP Roby Heri Saputra mengulang temuan itu. Pintu depan adalah satu-satunya jalur keluar–masuk, terhubung pula hanya dengan satu lift. Nuan bayangkan, wak! Satu lift, satu pintu, dan puluhan manusia yang berebut hidup. Sementara api tidak menunggu siapa pun, asap menelan satu per satu oksigen terakhir dari 22 jiwa yang terjebak.

Tim forensik menyisir gedung dari lantai dasar sampai paling atas, memastikan tidak ada korban yang tertinggal sendirian dalam ruangan gelap yang menjadi saksi bisu. Tidak ada tambahan korban, kata mereka. Hasilnya bersih. Tapi apa arti “bersih” ketika hati keluarga korban justru semakin kotor oleh luka dan kehilangan?

Terra Drone Co meminta maaf kepada publik. Maaf yang baik, tetapi seperti daun kering yang terjatuh di tengah badai. Tenggelam, lalu hilang. Dalam pernyataannya, mereka menyebut sedang menyelidiki dampak dan penyebab kebakaran. Sementara jenazah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diidentifikasi, 19 orang lain yang selamat kini hidup dengan bayang-bayang pintu yang sama, pintu yang bagi mereka menjadi jalan keluar, dan bagi 22 rekan mereka menjadi akhir cerita.

Polisi masih menyelidiki penyebab pasti termasuk dugaan unsur pidana. Tapi di tengah semua itu, satu pertanyaan menggantung, pilu, menggigit, membekas di tenggorokan bangsa ini, apakah 22 nyawa itu benar-benar harus menjadi korban hanya karena sebuah gedung tak mampu menyediakan lebih dari satu pintu untuk menyelamatkan manusia? Tentunya ini pelajaran berharga bagi pemilik gedung bertingkat dengan banyak karyawan.

“Semoga tidak ada lagi bencana dengan menelan korban jiwa cukup banyak, Bang.”
“Aamin. Hanya berdoa yang bisa kita panjatkan.”

Sumber foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *