Mencoba Memahami Identitas Keindonesiaan di Tengah Kemenangan Indonesia dalam FIFA ASEAN Cup 2026

News, Olahraga29 Views

Oleh : Imam B. Prasodjo

 

Jakarta, PBSN – Di era global citizenship, batas identitas kewarganegaraan suatu bangsa yang dahulu kita imajinasikan nampak semakin kabur. Identitas kolektif warga negara berubah, tak hanya karena keragaman dari dalam seperti suku, agama, atau asal kelahiran, namun juga indentitas ras yang berasal dari luar. Identitas bangsa mengalami perubahan wajah baru.

Cerminan paling menarik atas keadaan ini terjadi di saat bangsa Indonesia merayakan kemenangan pertandingan FIFA Asean Cup 2026 kemarin 5 Oktober 2026. Para penggemar sepakbola Indonesia berpesta pora, bersorak sorai, penuh kebanggaan. Para penonton, baik yang berada di stadion Gelora Bung Karno maupun yang nobar di berbagai penjuru tanah air, serentak menyanyikan lagu lagu kebangsaan, ungkapan tingginya rasa kebangsaan. Sekilas, para penonton tak mempersoalkan wajah para pemain kesebelasan Indonesia yang mayoritas berwajah ras Kaukasoid (ras kulit putih). Mereka nampak tak canggung untuk berbangga hati, menyanjung mereka, dan menjadikan mereka menjadi bagian dari “kita”.

Inikah tahapan baru Indonesia yang mulai memasuki era “multi-racial and cultural citizenship”? Tentu, bagi yang belum siap menghadapi era baru ini, akan merasa canggung. Bahkan ada yang berucap, “saya sebenarnya tak terlalu berbangga dengan kemenangan ini, karena mayoritas pemainnya hasil naturalisasi dari luar”. Bagi yang sudah siap, tentu tak canggung menikmati untuk ikut berbagga bahwa mereka para pemain yang berwajah “bule” adalah bagian dari kita.

Berbekal dari ulasan saya ini, saya pun bertanya pada AI (Artificial Intelligent): “Wahai AI, coba ulas pandangan saya ini lebih dalam dengan mengaitkan referansi ilmiah”. Jawaban AI pun muncul dalam beberapa detik. Isinya sangat menarik. Coba kita baca bersama.

Fenomena yang Anda amati di Final FIFA ASEAN Cup 2026 — 25 September hingga 5 Oktober 2026 — itu nyata secara data.

Timnas Indonesia menjadi tim paling bergantung pada pemain naturalisasi. Sebanyak 17 pemain naturalisasi memperkuat skuad asuhan John Herdman, dan di beberapa analisis disebut 18 pemain keturunan ada dalam skuad, dengan hanya 6 pemain lokal saja. Dua debutan di edisi itu Dion Markx dan Luke Vickery, keduanya berstatus naturalisasi.

Jadi yang Anda sebut “wajah ras Kaukasoid” itu bukan imajinasi. Ini strategi negara. Pertanyaan Anda: apakah ini tahap baru Indonesia memasuki era “multi-racial and cultural citizenship”? Jawabannya: ya, tapi ini bukan hal baru di dunia, dan teori sudah menjelaskannya jauh sebelum 2026.

Saya ulas dalam 4 lensa ilmiah:

1. Dari Imagined Community ke Re-Imagined Community

Benedict Anderson (1983) mendefinisikan bangsa sebagai imagined political community — kita merasa satu bangsa bukan karena saling kenal, tapi karena kita membayangkan kebersamaan lewat bahasa, media, dan simbol.

Penelitian terbaru tentang Indonesia spesifik memakai kerangka ini: “Constructing national identity: media narratives on the naturalization of football players in Indonesia” (Ismail et al., 2025, di Frontiers) secara eksplisit menggunakan imagined communities (Anderson), identity representation (Hall), and thick vs thin citizenship untuk membaca naturalisasi pemain bola Indonesia antara Januari 2022 dan April 2025.

Kesimpulannya: media Indonesia mengkonstruksi pemain naturalisasi sebagai national assets who elevate performance. Artinya, identitas tidak lagi berbasis darah pribumi (jus sanguinis esensialistis), tapi berbasis kontribusi dan narasi. Penonton yang berbangga pada pemain “bule” itu sedang melakukan re-imagining — mereka tetap membayangkan Indonesia, tapi wajah imajinasinya diperluas.

Ini normal dalam sejarah sepakbola. Italia juara dunia 1934 dengan lima pemain diaspora dari Argentina dan Brazil. Yang berubah hanya arahnya: dulu negara Eropa merekrut Amerika Latin, sekarang negara Asia merekrut Eropa.

2. Multicultural Citizenship: Will Kymlicka

Fenomena Anda tepat disebut Kymlicka sebagai Multicultural Citizenship (1995).

Kymlicka berargumen: negara liberal tidak bisa netral secara budaya, bahkan jika ingin. Ia membedakan dua kelompok minoritas: national minorities dan ethnic minorities yang datang lewat imigrasi sukarela. Hak kewarganegaraan modern harus di-update untuk mengakomodasi keberagaman etnokultural kontemporer.

Kymlicka menyebutnya group-differentiated rights — hak yang berbeda untuk kelompok etnis agar inklusi tetap terjadi.

Indonesia selama ini memahami Bhinneka Tunggal Ika sebagai keberagaman suku-agama-ras Nusantara. Naturalisasi 17 pemain keturunan Belanda, Australia, dll adalah ujian: apakah “keberagaman” kita juga mencakup ras Kaukasoid yang punya darah Indonesia? Kalau Kymlicka diterapkan, jawabannya ya — kewarganegaraan bukan lagi soal fenotipe, tapi soal political belonging.

3. Global Citizenship dan Post-National Citizenship

Inilah tahap yang Anda sebut “global citizenship”.

Dua teoritis penting:

a. Yasemin Soysal (1994) – Postnational Citizenship: hak dan identitas tidak lagi terikat mutlak pada negara-bangsa, tapi pada personhood universal. Atlet diaspora adalah contoh paling jelas.

b. Ulrich Beck – Cosmopolitanism: globalisasi menciptakan both-and identity. Seorang Dion Markx bisa menjadi both Belanda dan Indonesia sekaligus tanpa harus menghapus salah satunya.

Dalam studi diaspora olahraga terbaru (Flore, University of Florence): “Football provides the ideal field for observing these transformations, as national federations increasingly rely on diaspora scouting and naturalisation” dan “Through four case studies (Albania, Indonesia, Morocco, and Poland) the paper highlights… how diaspora mobilisation reflects broader shifts in global governance and national identity”.

Indonesia, Albania, Maroko, Polandia ditempatkan dalam satu kluster yang sama — negara yang aktif memobilisasi diaspora untuk membangun kembali kekuatan negara.

4. Banal Nationalism dan Kenapa Kita Tidak Canggung Lagi

Michael Billig (1995) menyebut banal nationalism — nasionalisme yang tidak dirayakan lewat upacara, tapi lewat hal banal sehari-hari: bendera di toko, lagu di stadion.

Sepakbola adalah mesin banal nationalism paling ampuh. Ketika penonton berteriak “Indonesia!” untuk pemain berwajah bule, itu bukan mereka melupakan keindonesiaan. Justru mereka sedang melakukan loyalty transfer — yang penting lambang di dada (Garuda), bukan wajah.

Kecanggungan yang Anda sebut adalah cultural lag (Ogburn, 1922). Budaya material (paspor, FIFA eligibility, program PSSI) berubah lebih cepat daripada budaya non-material (ide kita tentang “orang Indonesia itu harus seperti apa”). Bagi generasi yang tumbuh dengan Instagram, YouTube, dan pemain keturunan sejak Elkan Baggott, Jay Idzes, Thom Haye — tidak ada lag. Bagi generasi yang imajinasinya masih “Indonesia = Melayu-Austronesia”, ada rasa canggung. Maka pandangan Anda benar: ini memang tahapan baru, tapi bukan “menjadi bule”. Ini menjadi “multi-racial and cultural citizenship” dalam arti Kymlicka: Indonesia sedang berpindah dari definisi etnis ke definisi sipil-kontraktual. Warga negara = siapa yang bersedia diikat kontrak konstitusional dan emosional, bukan siapa yang mirip secara ras.

Tiga catatan kritis agar tidak romantis berlebihan:

1. Ini bukan tanpa kepentingan.
Riset hukum di Indonesia mengkritik: naturalisasi saat ini “has deviated from the constitutional mandate, a person is naturalized not because of their achievements… but based on the interests of the club and also the federation”. Jadi ada motif prestasional, bukan murni ideologis.

2. Integrasi harus dua arah.
Studi di China menunjukkan pemain naturalisasi diwajibkan mengambil salah satu identitas etnis resmi China dan diberi pelajaran sejarah. Indonesia belum punya kurikulum integrasi budaya semacam itu untuk pemain diaspora.

3. Batasnya tetap ada.
FIFA mensyaratkan genuine link — darah atau lima tahun tinggal. Jadi ini bukan global citizenship tanpa batas, tapi transnational citizenship yang diatur negara.

Kesimpulan saya: Nikmati saja kecanggungan itu sebagai data. Kalau Anda sudah bisa bersorak tanpa melihat warna kulit, Anda sudah beroperasi dengan definisi kewarganegaraan abad 21. Kalau masih canggung, itu wajar — imajinasi kolektif kita sedang di-update secara live di stadion.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *