Jakarta, PBSN – Banyak berharap Mitchell Lee Baker alias Wak Mit bisa kembali memperlihatkan keperkasaan burung Garuda malam ini. Final Timnas vs Thailand, pertempuran dahsyat antara Garuda vs Gajah Merah, eh salah, Gajah Putih. Pasti seru dan mendebarkan.
Malam ini SUGBK bukan stadion. Ini kawah candradimuka 67 ribu manusia. Tiket ludes. Kursi penuh. Suporter sudah siap menggelegar. Tinggal pemain Indonesia yang jangan ikut-ikutan gemetar.
Pukul 20.00 WIB, Garuda berhadapan dengan Thailand pada final perdana FIFA ASEAN Cup 2026. Ini bukan lagi laga mencari angka, melainkan mencari trofi, sejarah, dan alasan untuk begadang sambil pura-pura besok tidak mengantuk.
Pasukan John Herman datang dengan modal tujuh poin dan belum terkalahkan. Setelah menang 2-0 atas Singapura, menahan Malaysia 0-0 dengan sepuluh pemain, Garuda kemudian mengamuk kepada Bangladesh: 9-2! Sebelas gol dalam tiga laga. Produktivitasnya bikin kalkulator klasemen ikut ngos-ngosan.
Thailand? Jangan tertipu kekalahan 1-2 dari Filipina. Anthony Hudson menurunkan tim yang sudah dirotasi besar-besaran setelah tiket final aman. Para pemain utama disimpan. Artinya, kalau ada mengira Thailand datang ke Jakarta dalam kondisi loyo, itu sama saja mengira harimau tidur karena sudah vegetarian. “Bang jangan nyebut harimau, dong!” Ups, maaf wak.
Sarach Yooyen tetap menjadi pengatur lalu lintas lini tengah. Chanathip Songkrasin punya pengalaman dan kreativitas. Supachai Chaided serta pemain-pemain utama lainnya siap kembali. Thailand cuma kebobolan dua gol selama fase grup.
Namun Thailand kehilangan satu nama penting. Jonathan Khemdee absen karena cedera lutut dan sudah digantikan Peerapat Arakthamma dalam skuad. Ini lubang tentu ingin dimanfaatkan Indonesia.
Di kubu Garuda, drama belum selesai. Ole Romeny diragukan tampil. Pada latihan terakhir, Ole berlatih terpisah. Herdman belum memastikan kondisinya. Padahal saat menghajar Bangladesh, Ole memberikan assist untuk gol pertama Wak Mit dan dua assist lainnya. Kalau Ole absen, itu bukan kehilangan tukang lewat saja. Itu kehilangan pemasok logistik.
Kabar baiknya, Thom Haye kembali. Setelah absen melawan Bangladesh karena menjalani hukuman kartu merah, Haye tersedia untuk final. Kehadirannya penting untuk mengatur ritme dan distribusi bola.
Lalu ada bocah 19 tahun yang sekarang menjadi bahan pembicaraan, Wak Mit. Lima gol!
Menit 11, 20, 37, 42, dan 90+7. Empat sebelum jeda, satu sebagai penutup pesta. Lima gol dalam satu laga. Umurnya baru 19 tahun, tetapi naluri golnya sudah seperti orang yang sedang mengejar cicilan rumah. Yang fenomenal gol kelima itu lo. Maradona terkenal gol tangan tohan. Wak Mit terkenal gol burungnya, ups.
Bangladesh sudah dibuat pusing. Thailand tentu berbeda kelas. Pertahanan mereka tidak akan memberi Wak Mit ruang seluas halaman sekolah. Karena itu duel Wak Mit melawan barisan belakang negeri Jirayut menjadi salah satu kunci final.
Kalau Mang Ole bermain, Wak Mit mendapat pemasok. Kalau Mang Ole tidak bermain, Herdman harus mencari jalan lain. Di sinilah kecerdikan pelatih diuji.
Prediksi saya tetap: Indonesia 2-1 Thailand. Bukan karena Thailand jelek. Justru karena final ini diperkirakan ketat. Indonesia punya momentum, kedalaman pemain, Wak Mit sedang on fire, Haye kembali, dan satu senjata yang tidak ada di statistik, SUGBK.
Malam ini Thailand membawa pengalaman. Indonesia membawa lapar. Thailand membawa taktik. Indonesia membawa 67 ribu suara. Semoga Garuda tidak cuma terbang. Malam ini, biarkan ia mencakar.
Kalau Wak Mit mencetak gol lagi, jangan kaget. Anak 19 tahun itu sedang mengetuk pintu sejarah. Tok… tok… tok…Thailand, siap buka pintu? Garuda sudah berdiri di depan rumah.
Rosadi Jamani






